Nightography: Cara Samsung Mengubah Malam Jadi Panggung Utama Kamera

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

loading...

Aktivitas malam hari nan direkam dengan Galaxy S Series, menonjolkan perincian warna dan minim noise berkah Nightography. Foto: Samsung Indonesia

JAKARTA - Sejak diperkenalkan pada 2022, Nightography menjelma menjadi trade mark Samsung Galaxy S Series dan mengubah langkah pengguna memotret serta merekam video di kondisi minim cahaya: menjadikan low light bukan lagi kelemahan, melainkan panggung utama kualitas kamera smartphone.

Dari Gelap ke Jernih: Ketika Malam Bukan Lagi Musuh Kamera

 Cara Samsung Mengubah Malam Jadi Panggung Utama Kamera

Samsung jadi bagian dari fase baru tren mobile photography. Jika dulu kualitas kamera dinilai dari jumlah megapiksel alias bukaan lensa, sekarang pembeda utama pada 2026 adalah performa low light—baik untuk foto maupun video.

Dalam beberapa tahun terakhir, keahlian merekam video malam nan tetap jernih, stabil, dan minim noise menjadi standar baru flagship.

Di titik inilah Samsung memosisikan Nightography sebagai identitas nan konsisten dibangun sejak Galaxy S22 Series pada 2022.
Nightography bukan sekadar mode malam nan mencerahkan gambar.

Samsung mengembangkan teknologi ini untuk menjaga perincian subjek tetap terbaca, noise terkendali, dan warna tetap natural sesuai suasana aslinya.

Ilham Indrawan, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, menegaskan pendekatan tersebut bukan hanya soal perangkat keras.

”Kualitas foto dari smartphone sekarang semakin sempurna dengan adanya kombinasi antara hardware dan software nan mumpuni. Lebih dari pengembangan teknologi lensa dan sensor kamera, Samsung terus konsisten meningkatkan kepintaran AI di dalamnya,” ujarnya.

Evolusi Nightography: Dari S22 ke S25

 Cara Samsung Mengubah Malam Jadi Panggung Utama Kamera

Nightography pertama kali diperkenalkan secara masif lewat Samsung Galaxy S22 Series. Saat itu, Samsung menekankan pemrosesan multi-frame berbasis AI nan bisa menggabungkan hingga 30 frame menjadi satu gambar akhir. Teknik ini mengoptimalkan warna dan perincian di setiap piksel sekaligus menekan noise.

Teknologi tersebut terus berkembang di Samsung Galaxy S23 Ultra, nan membawa sensor 200MP dan support prosesor generasi baru untuk pemrosesan lebih cepat.

Pendekatan nona-binning—menggabungkan sembilan piksel menjadi satu—membantu menangkap sinar lebih banyak di kondisi gelap.

Memasuki Samsung Galaxy S24 Series dan bersambung ke Samsung Galaxy S25 Series, Samsung memperkenalkan ProVisual Engine.

Mesin AI ini dilatih menggunakan lebih dari 400 juta dataset, memungkinkan kamera memahami scene, subjek, serta kebutuhan pengguna secara kontekstual.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews