Emmanuel Macron dan Benjamin Netanyahu.(Al Jazeera)
PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan pernyataan provokatif dengan menyebut Prancis telah dihantam oleh invasi Islam ekstremis. Kritik tajam ini disampaikan Netanyahu menanggapi tindakan protes mengenai kondisi ekonomi di Prancis nan berujung pada kerusuhan pada akhir pekan lalu.
Dalam suatu wawancara, Netanyahu menilai para pemimpin Prancis kandas mengantisipasi kerusuhan tersebut. Ia mengeklaim bahwa gejolak di beragam kota besar, termasuk Paris, dipicu oleh golongan Muslim ekstremis, meskipun faktanya demonstran berasal dari beragam lapisan masyarakat Prancis.
"Mereka tidak bersiap tepat waktu. Mereka menyerah begitu saja. Mereka tunduk pada invasi Islam ekstremis," ujar Netanyahu sebagaimana diterjemahkan oleh saluran buletin berkata Prancis, i24News, Selasa (22/10/2026).
Ketika ditanya mengenai saran untuk pemerintah Prancis, Netanyahu mendesak agar negara tersebut tidak mengambil kebijakan kompromi. "Lawanlah, jangan mengejar kebijakan peredaman (appeasement). Lawan para ekstremis," tegasnya tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Netanyahu juga mengeklaim pernah memperingatkan Presiden Prancis Emmanuel Macron pascaserangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ia menyatakan bahwa jika golongan tersebut tidak dieliminasi di Timur Tengah, ancaman serupa bakal muncul di Paris. Namun, Netanyahu tidak memberikan bukti konkret nan mendukung klaim bahwa kerusuhan saat ini mengenai langsung dengan peringatan tersebut.
Ketegangan Diplomatik dan Dukungan Trump
Pernyataan keras Netanyahu ini muncul di tengah memburuknya hubungan diplomatik kedua negara. Tahun lalu, Prancis menjadi salah satu negara Eropa nan secara resmi mengakui negara Palestina, langkah nan memicu kemarahan besar dari pihak Israel.
Retorika Netanyahu ini dinilai senada dengan narasi politisi sayap kanan Barat nan sering melontarkan klaim tanpa dasar mengenai penerapan norma Islam di Eropa akibat imigrasi. Sebelumnya, pada Agustus lalu, Netanyahu juga sempat memicu kecaman dari London setelah menyebut Inggris sebagai Republik Islam.
Di sisi lain, mantan Presiden AS Donald Trump turut memanfaatkan situasi kerusuhan di Prancis untuk menyuarakan agenda anti-imigrasinya. Trump mendesak Macron untuk memperketat perbatasan.
"Apa nan terjadi di Prancis berangkaian dengan imigrasi, bukan sekolah, bukan apa pun. Ini masalah imigrasi, dan saya sudah katakan kepada Presiden Emmanuel Macron, tutup perbatasan Anda," ujar Trump kepada wartawan di Washington.
Sentimen anti-imigrasi memang menjadi tema sentral kampanye Trump, nan sering kali menggunakan klaim-klaim kontroversial untuk menarik support pemilih. (AFP/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·