Netanyahu dan Hizbullah Respons Gencatan Senjata Lebanon-Israel

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon mulai bertindak Kamis pukul 17.00 waktu setempat. Pengumuman apalagi diberikan bahwa gencatan senjata ini bakal berjalan 10 hari.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyatakan, pemerintah Lebanon berkomitmen untuk menahan tindakan golongan militan Hizbullah. Perlu diketahui, gencatan senjata Israel-Lebanon menjadi syarat perdamaian nan diminta Teheran dalam perang AS-Iran.

"Pemerintah Lebanon bakal mengambil langkah-langkah berfaedah untuk mencegah Hizbullah melakukan serangan, operasi, alias aktivitas permusuhan apa pun terhadap sasaran Israel," tulis pernyataan resmi otoritas AS, seperti dikutip AFP, Jumat (17/6/2026).

Lalu gimana respons Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan Hizbullah?

Netanyahu menyebut gencatan senjata ini sebagai kesempatan besar menuju perdamaian jangka panjang. Namun, dia menegaskan bahwa Israel tetap mensyaratkan pelucutan senjata Hizbullah sebagai prasyarat utama, serta menginginkan kesepakatan tenteram permanen nan "berdasarkan kekuatan".

Netanyahu juga mengungkapkan bahwa Israel bakal tetap mempertahankan "zona keamanan" sepanjang 10 kilometer di wilayah Lebanon selatan. Ia menolak tuntutan Hizbullah nan meminta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah tersebut dan gencatan senjata berbasis prinsip "ketenangan sebagai hadiah atas ketenangan".

"Keseimbangan ini telah bergeser sedemikian rupa sehingga dalam sebulan terakhir kita mulai menerima seruan dari Lebanon untuk mengadakan pembicaraan perdamaian langsung... sesuatu nan belum pernah terjadi selama lebih dari 40 tahun," katanya.

Sementara itu, Hizbullah menunjukkan sikap hati-hati menjelang penerapan gencatan senjata. Kelompok tersebut meminta penduduk Lebanon untuk tidak terburu-buru kembali ke wilayah-wilayah nan sebelumnya menjadi sasaran serangan, termasuk Lebanon selatan, Lembah Bekaa, dan pinggiran selatan Beirut.

"Menghadapi musuh nan rawan dan terbiasa melanggar perjanjian dan kesepakatan, kami meminta Anda untuk bersabar dan menahan diri untuk tidak menuju ke daerah-daerah nan menjadi sasaran... sampai situasinya betul-betul jelas," demikian pernyataan Hizbullah.

Komite Kesehatan Islam nan berafiliasi dengan golongan itu juga mengimbau masyarakat menunggu hingga gencatan senjata betul-betul resmi berlaku. Mereka apalagi menyarankan penduduk untuk "menunggu sampai pagi" sebelum kembali beraktivitas di wilayah terdampak konflik.

Gencatan senjata ini sebelumnya diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump. Ia menyebut kesepakatan tersebut melibatkan Israel, Lebanon, dan mencakup Hizbullah.

(tfa/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News