Netanyahu Bongkar Kondisi Iran: Sebentar Lagi Runtuh

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan prediksinya bahwa perubahan rezim di Iran bakal segera terjadi. Menurutnya kepemimpinan negara tersebut saat ini sudah berada dalam kondisi nan sangat lemah.

Pernyataan tegas ini disampaikan di tengah berkecamuknya perang serta eskalasi ketegangan geopolitik nan terus meningkat di area Timur Tengah. Dalam sebuah wawancara eksklusif pada hari Rabu waktu setempat, Netanyahu mengungkapkan pandangannya mengenai situasi politik internal Teheran nan diklaimnya sedang berada di periode kehancuran.

Meski demikian, dia mengakui tidak bisa memastikan waktu pasti kapan kejatuhan kekuasaan tersebut bakal betul-betul terwujud. Namun, menurutnya kondisi rentan sedang melanda struktur internal pemerintahan Iran akibat tekanan perang nan terus berlangsung.

"Anda tidak bisa memprediksi kapan rezim seperti itu bakal tumbang. Anda tidak memprediksinya dalam sejumlah kasus: Tidak di Rumania, dan tidak dalam runtuhnya Tembok Berlin, dan tidak ada nan memprediksinya, tetapi itu terjadi. Mengapa? Karena retakan-retakan tersebut terus merambat di bawahnya," kata Netanyahu, Kamis (4/6/2026).

"Faktanya, Anda mempunyai retakan nan sangat besar saat ini di Iran, dan Anda tidak dapat memprediksi kapan itu bakal terjadi," ucap Netanyahu.

Netanyahu juga menyatakan bahwa pihak luar perlu memberikan dorongan agar perubahan politik di negara musuhnya tersebut bisa segera terealisasi demi keamanan kawasan. Ia pun percaya kekuatan politik dan militer Teheran sudah jauh berkurang dibandingkan sebelumnya akibat bentrok berkepanjangan ini.

"Namun saya katakan kemarin di sebuah forum publik di sini ... 'Lihat, saya percaya bahwa pada akhirnya retakan-retakan ini bakal merambat dan rezim bakal tumbang, dan kami bakal melakukan nan terbaik.' Saya pikir kita kudu membantu rakyat Iran untuk menjatuhkan rezim ini, dan itu tidak berubah, tetapi itu tidak bakal terjadi, Anda tahu, tepat pada momen nan kita pilih," tutur Netanyahu.

"Saya pikir mereka telah sangat dilemahkan," tambah Netanyahu.

Terkait dengan strategi militer ke depan, Netanyahu menyampaikan bahwa gencatan senjata nan terjadi saat ini hanyalah bagian dari strategi diplomasi, sementara bayang-bayang serangan skala penuh dari sekutu utamanya, Amerika Serikat (AS), tetap tetap mengintai Iran jika situasi memburuk.

"Dan Iran pasti tahu apa nan telah dikatakan Trump, bahwa jika diperlukan, bakal ada kembalinya tindakan militer dalam skala penuh. Itu adalah keputusan presiden, Israel siap, dan pasukan AS siap," tegas Netanyahu.

Netanyahu memperingatkan para pemimpin Teheran untuk tidak meremehkan ancaman tersebut. Termasuk menghentikan langkah-langkah provokatif mereka.

"Saya pikir Iran kudu mempertimbangkan perihal itu. Saya pikir mereka mempertimbangkan bahwa mereka sedang bermain dengan api, itu sudah jelas," ujar Netanyahu.

Lebih lanjut, Netanyahu menegaskan bahwa ancaman nuklir dari Iran merupakan musuh berbareng nan membahayakan tidak hanya bagi negaranya sendiri. Melainkan juga bagi kelangsungan hidup negara-negara kerakyatan di bumi barat.

"Kita dihadapkan pada musuh nan mau menghancurkan negara kita, nan mau menghancurkan negara Anda, nan mau menghancurkan kerakyatan bebas di mana saja dan menyebarkan golongan teroris mereka ke seluruh dunia. Jadi, ketika kita melawan Iran dan proksinya, kita tidak hanya memenangkan perang kita, kita memenangkan perang Anda, dan sejujurnya, perang Eropa juga," kata Netanyahu.

Ekonomi Israel Diklaim Meroket di Tengah Perang

Di tengah situasi bentrok bersenjata dengan Iran nan telah memasuki bulan keempat, Netanyahu justru memamerkan ketahanan ekonomi negaranya dan membujuk para penanammodal dunia untuk terus menanamkan modal di Israel. Meskipun perang sempat memicu kekhawatiran ekonomi dunia hingga mendorong nilai minyak mentah mendekati US$ 100 per barel, kondisi pasar modal domestik Israel diklaim tetap menunjukkan performa nan sangat impresif.

Mengutip CNBC, Netanyahu menepis dugaan bahwa tindakan divestasi alias penarikan modal dari Israel semakin meluas di tingkat internasional.

"Faktanya, nan terjadi adalah sebaliknya. Kami mempunyai investasi nan sangat besar di Israel," kata Netanyahu.

Netanyahu apalagi memberikan rekomendasi nan sangat optimis kepada para pelaku pasar mengenai prospek pertumbuhan instrumen finansial di negaranya ke depan.

"Saya bukan pialang saham, dan saya tidak memberi Anda tips, tetapi saya bakal mengatakan belilah apa pun di Israel, lantaran Israel sedang naik daun," ucap Netanyahu.

Netanyahu memaparkan bahwa sektor teknologi dan industri pertahanan menjadi motor penggerak utama nan membikin para raksasa teknologi dunia, seperti Nvidia, tetap berkomitmen menanamkan modalnya di sana.

"Pasar saham sedang melonjak, ekspor pertahanan dan teknologi kami lainnya menembus atap, dan orang-orang datang untuk berinvestasi. Nvidia berinvestasi di sini, mereka tidak melakukannya lantaran mata biru kita," tutur Netanyahu.

Optimisme Netanyahu ini sejalan dengan info makroekonomi domestik, di mana perekonomian Israel diproyeksikan bakal mengungguli pasar-pasar negara maju utama lainnya pada tahun 2026. Berdasarkan proyeksi dari bank sentral setempat, ekonomi Israel diperkirakan tetap sanggup tumbuh sebesar 3,8% pada tahun ini, didukung oleh penguatan indeks saham Tel Aviv 35 serta apresiasi nilai mata duit shekel nan terus bergerak naik meskipun negara tersebut berada di bawah bayang-bayang bentrok bersenjata selama nyaris tiga tahun terakhir.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News