(Al Jazeera)
KETEGANGAN di area Teluk kembali mencapai titik didih setelah sebuah pesawat nirawak (drone) menghantam Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait pada Rabu (3/6) pagi. Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah airport tersebut beraksi kembali pascakerusakan akibat perang, menandai eskalasi serius dalam konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Otoritas penerbangan sipil Kuwait merilis rekaman video pada Kamis (4/6) nan menunjukkan sesuatu yang diidentifikasi sebagai drone Shahed milik Iran menabrak genting terminal dan meledak dalam bola api besar. Insiden tragis ini menyebabkan satu orang tewas dan puluhan lain luka-luka, menjadikannya kematian mengenai bentrok pertama nan tercatat di luar wilayah Iran dalam dua bulan terakhir.
Pesan Eskalasi dari Teheran
Para analis menilai serangan ini sebagai upaya Iran untuk menekan Amerika Serikat agar menghentikan blokade ekonomi nan melumpuhkan pelabuhan-pelabuhan mereka. Serangan terjadi tak lama setelah militer AS melumpuhkan satu kapal nan dituduh menuju pelabuhan Iran.
Umer Karim, peneliti dari King Faisal Center for Research and Islamic Studies, menyatakan bahwa Iran tampaknya memilih Kuwait sebagai sasaran lantaran dianggap lebih rentan dibandingkan negara tetangga seperti Arab Saudi atau Emirat Arab. "Iran memandang Kuwait sebagai negara Teluk nan lebih mudah disasar untuk mengirimkan pesan tanpa memicu pembalasan langsung dari kekuatan regional nan lebih besar," ujarnya.
Dampak Kerusakan:
- Lubang besar di genting Terminal 1 dengan puing-puing nan berceceran di aula penumpang.
- Kaca-kaca pecah dan kepulan asap memenuhi area publik saat penumpang berlarian mencari perlindungan.
- Bandara kembali ditutup total hanya dalam waktu 48 jam setelah pembukaan resminya.
Kekecewaan terhadap Komitmen Keamanan AS
Serangan ini tidak hanya menyasar prasarana sipil, tetapi juga dilaporkan menyasar pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Hal ini memicu pertanyaan besar di kalangan sekutu Teluk mengenai komitmen keamanan Washington. Banyak negara Teluk merasa secara pribadi bahwa AS lebih konsentrasi melindungi Israel sementara mereka menjadi 'domba persembahan' dalam bentrok ini.
Bader Al-Saif, master urusan Teluk dari Universitas Kuwait, mengungkapkan rasa frustrasi nan mendalam terhadap kebijakan luar negeri AS. "Anda menyeret kami ke dalam perang tanpa berkonsultasi alias mendengarkan kami. Dinamika lama ini tidak bakal bisa memperkuat lagi," tegasnya.
Respons Diplomatik
Sebagai tanggapan atas serangan tersebut, pemerintah Kuwait mengusir dua diplomat Iran dan menangkap sejumlah pasukan paramiliter Iran nan dituduh mencoba menyusup melalui jalur laut. Di sisi lain, Iran membantah bertanggung jawab secara langsung atas serangan bandara, tetapi menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah jawaban atas serangan AS terhadap wilayah dan kapal-kapal mereka.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan berjumpa dengan mitranya dari Kuwait pada Kamis pagi untuk membahas situasi ini. Pertemuan tersebut menjadi krusial mengingat negosiasi mengenai kerangka kerja penghentian perang tetap terhenti pada rumor support finansial untuk Iran dan pembatasan program nuklirnya.
Hingga saat ini, meskipun serangan dikutuk secara internasional, belum ada respons militer langsung dari pihak AS maupun Kuwait. Namun, kejadian ini dipastikan bakal memaksa pemerintahan Presiden Trump untuk mempertimbangkan kembali akibat dari kelanjutan blokade maritim di Selat Hormuz. (Wall Street Journal/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·