Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara Arab di area Teluk kian diliputi kekhawatiran seiring arah negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran nan dinilai makin tak jelas. Alih-alih meredakan ketegangan, pembicaraan justru dikhawatirkan memperkuat posisi strategis Teheran atas Selat Hormuz.
Sejumlah pejabat dan analis memperkirakan putaran negosiasi berikutnya bakal lebih berfokus pada pembatasan pengayaan uranium serta pengelolaan pengaruh Iran di Selat Hormuz, daripada membahas rumor rudal dan proksi regional nan selama ini menjadi ancaman langsung bagi negara-negara Teluk.
Sumber di area Teluk menilai perubahan konsentrasi ini berbahaya. Mereka cemas pendekatan tersebut hanya "mengelola" pengaruh Iran, bukan menguranginya, demi menjaga stabilitas ekonomi global.
"Pada akhirnya, Hormuz bakal menjadi garis merah. Itu bukan rumor sebelumnya, tapi sekarang menjadi prioritas. Targetnya telah berubah," ujar seorang sumber nan dekat dengan lingkaran pemerintah Teluk, seperti dikutip Reuters, Selasa (21/4/2026).
Kekhawatiran ini makin menguat setelah pernyataan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, nan menyebut Selat Hormuz sebagai "senjata nuklir" Iran dalam konteks geopolitik.
"Tidak jelas gimana gencatan senjata antara Washington dan Teheran bakal berjalan. Tetapi satu perihal nan pasti: Iran telah menguji 'senjata nuklirnya'. Itu adalah Selat Hormuz. Potensinya tak terbatas," tulisnya.
Dari sisi Iran, pandangan tersebut diamini. Sumber keamanan senior Iran menyebut Selat Hormuz sebagai "aset emas" nan telah lama dipersiapkan sebagai perangkat pencegah strategis.
"Iran telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun untuk skenario penutupan Selat Hormuz. Ini adalah salah satu perangkat paling efektif, pengaruh geografis nan menjadi pencegah kuat," ujarnya.
Bahkan, sumber lain nan dekat dengan Garda Revolusi Iran menyebut tabu penggunaan Hormuz sekarang telah "dilanggar", menjadikannya perangkat tawar nyata dalam negosiasi internasional.
Namun bagi negara-negara Teluk, konsentrasi berlebihan pada Hormuz justru mengabaikan ancaman utama lain, seperti serangan rudal dan aktivitas golongan proksi Iran di kawasan. Presiden Emirates Policy Center, Ebtesam Al-Ketbi, menilai situasi ini bukanlah upaya penyelesaian konflik, melainkan pengelolaan ketegangan nan disengaja.
"Apa nan terjadi saat ini bukan penyelesaian bersejarah, tetapi rekayasa bentrok berkelanjutan," ujarnya. "Siapa nan menanggung akibat rudal dan proksi? Negara-negara Teluk. Tapi rumor itu justru diabaikan."
Analis juga memperingatkan bahwa pendekatan ini berisiko menciptakan stabilitas semu nan menguntungkan AS dan Iran, tetapi meninggalkan negara Teluk dalam ketidakpastian keamanan.
Sejak bentrok memanas pada 28 Februari, negara-negara Teluk telah menanggung akibat ekonomi besar, mulai dari serangan prasarana daya hingga lonjakan biaya ekspor dan asuransi. Jalur pengedaran pengganti pun lebih mahal dan tetap rentan terhadap ancaman nan sama.
Para diplomat Teluk sekarang mendorong Washington agar tidak buru-buru mencabut hukuman terhadap Iran. Mereka menginginkan pendekatan berjenjang guna menguji komitmen Teheran, terutama mengenai program rudal dan jaringan proksi.
(tfa/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·