Nasib Orangutan di Tengah Kepungan Karhutla Kalimantan

Sedang Trending 16 menit yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya menakut-nakuti manusia, tetapi juga satwa liar termasuk hewan endemik Indonesia, orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Kalimantan menjadi rumah bagi sekitar 57.350 perseorangan orangutan Kalimantan alias orangutan borneo. Data ini diambil dari hasil Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016 nan dijalankan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI berbareng sejumlah lembaga dan praktisi-pemerhati konservasi orangutan.

Jumlah ini mengalami penurunan sebanyak 80 persen dalam waktu kurang dari 50 tahun. Mengutip dari laman Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, populasi orangutan diestimasi berjumlah 288.500 pada tahun 1973.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Spesies orangutan Kalimantan ini terbagi lagi menjadi tiga subspesies nan berbeda.

Subspesies nan pertama adalah Pongo pygmaeus wurmbii dengan perkiraan sekitar 38.200 perseorangan bertempat di Kalimantan Tengah dan Barat.

Kedua adalah subspesies Pongo pygmaeus pygmaeus nan tinggal di Kalimantan Barat, Indonesia dan Sarawak, Malaysia dengan jumlah sekitar 4.520 individu.

Dan, terakhir adalah subspesies Pongo pygmaeus morio yang bertempat di Kalimantan Timur, Indonesia dan Sabah, Malaysia. Subspesies ini diperkirakan berjumlah kurang lebih 14.630 individu.

Ancaman karhutla terhadap orangutan Kalimantan bukanlah perihal nan baru. Pada hasil studi 2016, Pongo pygmaeus morio ataupun kediaman nan ditempatinya juga dilaporkan terancam oleh karhutla.

Lalu, gimana perkembangan ancaman ini terhadap orangutan pada 2026 ini?

Hingga Kamis (20/8), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan total 1.487 titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan. Titik panas ini tersebar di seluruh wilayah Kalimantan.

Titik panas karhutla paling banyak berada di Kalimantan Tengah dengan jumlah 767 titik. Sedangkan, di Kalimantan Barat terdapat 560 titik, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing ada 74 titik. Terakhir, terdapat pula 3 titik di Kalimantan Utara.

Persebaran titik api karhutla ini dilaporkan sudah mulai mendekat ke kediaman orangutan, nan umumnya berada di dataran rendah.

"Di Kalimantan Barat sudah, di Kalimantan Tengah juga sudah mulai mendekat ke pusat-pusat populasi seperti dekat ke Taman Nasional Sebangau, di wilayah Pulang Pisau, ini daerah-daerah nan juga ada orangutannya, dan cukup besar," ujar CEO Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, Jamartin Sihite, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/8).

Namun, tak hanya api karhutla nan menjadi permasalahan, melainkan juga asapnya. Bagi manusia, paparan asap karhutla mungkin bisa dikurangi dengan menggunakan masker, namun perihal nan sama tak bertindak bagi orangutan dan kediaman tempat mereka hidup.

Jamartin menjelaskan asap karhutla berpengaruh terhadap kegunaan polinasi lebah dan tanaman di hutan. Fenomena ini dapat berujung pada semakin hilangnya sumber makanan orangutan.

"Data kami menunjukkan, di pusat penelitian kita di Tuanan, semakin panjang masa asap, semakin mini kesempatan tanaman di rimba berbunga dan berbuah. Artinya ketika asap besar, maka kesempatan orangutan kelak kehilangan makanan, itu cukup besar juga," jelasnya.

Dampak asap juga dapat membikin orangutan mencari wilayah nan asapnya tidak banyak. Hal ini mendorong mereka untuk keluar rimba dan masuk ke pemukiman alias wilayah pertanian.

Sejumlah kejadian masuknya orangutan ke pemukiman masyarakat akibat karhutla juga dilaporkan terjadi dalam beberapa waktu ini. Contohnya di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, di mana orangutan mencari perlindungan di area perkebunan warga.

Ketika menyisir letak kemunculan orangutan tersebut pada Senin (10/8), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah menduga pekatnya asap dan api di kediaman orangutan menjadi penyebab kejadian tersebut.

Kelangkaan sumber makanan

Jamartin menjelaskan seluruh akibat karhutla ini pun akhirnya tidak kunjung selesai sesaat karhutla sukses dipadamkan. Asap karhutla nan berjalan selama 2-3 bulan dapat berakibat pada kelangkaan sumber makanan hewan--termasuk Orang utan--selama 6-7 bulan.

Tak hanya itu, untuk mengganti 1 pohon nan terbakar diperlukan waktu minimal 15 tahun dengan perawatan nan cukup.

Maka dari itu, Jamartin menekankan pentingnya menjaga ingatan mengenai karhutla dan penanaman kembali sebagai upaya melindungi orangutan.

"Jangan ketika api sudah hilang, asapnya sudah hilang, ingatan kita bakal kebakaran hutan, itu juga hilang. Ini nan enggak boleh. Setelah kebakaran hutan, mari kita tanam kembali pohon itu. Seribu kali pohon kita kebakar, kita tanam [kembali] seribu satu kali agar kita bisa punya rimba buat orangutan," tutupnya.

Dalam perkembangan terbaru, sejauh ini belum ditemukan ada orangutan yang meninggal lantaran karhutla. Namun, tak demikian dengan hewan lain termasuk reptil seperti ular.

Tim Manggala Agni di Ketapang, Kalimantan Barat, menyatakan ular menjadi salah satu satwa nan paling banyak ditemukan dalam kondisi meninggal akibat karhutla.

"Kalau untuk orangutan alias beruang sejauh ini kami belum menemukan, lantaran biasanya hewan tersebut instingnya lebih kuat. Ketika mereka mendengar bunyi api dari kejauhan, mereka bakal sigap menjauh dan pergi," ujar Plt. Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang Efendi, Jumat (21/8).

Sejauh ini sejumlah upaya telah dilakukan beragam pihak, termasuk pemerintah, untuk menangani karhutla di Kalimantan. TNI AU baru saja mengirimkan tiga pesawat jenis Casa NC-212 dari Skadron Udara 4 ke Kalimantan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC), Jumat (21/8).

Saat ini, telah ada pula 20 pesawat nan dikerahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) nan beraksi di Kalimantan. Ini terdiri dari lima helikopter, tiga pesawat untuk modifikasi cuaca, dan 12 helikopter besar untuk operasi water bombing.

(mou/kid)

placeholder

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional