Perangkat pembuatan reaktor nuklir di Bulan oleh NASA.(Dok. Antara/NASA)
BADAN Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tengah mematangkan rencana pembangunan reaktor nuklir di permukaan Bulan. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan pasokan listrik nan andal dan berkepanjangan bagi misi manusia di masa depan, terutama di wilayah nan tidak terjangkau sinar mentari secara optimal.
Program Eksekutif NASA untuk Basis Bulan, Carlos Garcia-Galan, mengungkapkan bahwa ketergantungan pada energi surya mempunyai batas besar di Bulan. Di wilayah-wilayah tertentu nan tertutup gambaran alias selama malam Bulan nan panjang, daya surya tidak cukup untuk mendukung sistem pendukung kehidupan manusia secara terus-menerus.
“Kami mau mencapai tahap di mana kami menghasilkan puluhan kilowatt listrik, dan reaktor nuklir Bulan adalah jalan nan kudu ditempuh. Kami bakal melakukan penelitian dan pada akhirnya membangun keahlian itu,” ujar Garcia-Galan dalam sebuah wawancara nan dikutip pada Selasa (2/6/2026).
Transisi dari Surya ke Nuklir
Menurut Garcia-Galan, penggunaan nuklir bakal dimulai secara bertahap. Tahap awal bakal melibatkan unit pemanas radioisotop pada aset-aset perintis agar peralatan tersebut bisa memperkuat melewati suhu ekstrem saat malam di Bulan. Setelah itu, pengembangan bakal bersambung pada reaktor nuklir skala penuh.
Teknologi nuklir dianggap sebagai solusi paling logis lantaran bisa beraksi 24 jam penuh tanpa berjuntai pada kondisi pencahayaan. Hal ini menjadi krusial bagi keberadaan manusia secara berkepanjangan di satelit alami Bumi tersebut
Tiga Tahap Pembangunan Basis Permanen NASA di Bulan:
- Tahap Pertama: Pengiriman kargo dan peralatan dasar untuk membangun prasarana energi, sains, dan komunikasi.
- Tahap Kedua: Pengembangan prasarana layak huni nan menyerupai kondisi Bumi dengan support logistik dari mitra internasional.
- Tahap Ketiga: Mewujudkan keberadaan manusia jangka panjang (permanen) di permukaan Bulan.
Visi Jangka Panjang
Rencana ini merupakan bagian dari peta jalan besar NASA nan telah diumumkan sejak Maret lalu. Dengan membangun pedoman permanen, NASA tidak hanya bermaksud untuk eksplorasi ilmiah, tetapi juga menjadikan Bulan sebagai batu loncatan untuk misi berawak ke Mars di masa depan.
Pembangunan prasarana daya nuklir ini diharapkan dapat memicu percepatan riset teknologi antariksa lainnya, mengingat kesiapan daya listrik nan besar bakal memungkinkan pengoperasian laboratorium canggih dan sistem ekstraksi sumber daya lokal di Bulan. (Ant/Sputnik/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·