Pusaran hijau alga mikroskopis (fitoplankton) terlihat di lepas pantai Teluk AS (2024). Gambar ini ditangkap oleh Instrumen Warna Laut (Ocean Color Instrument) pada satelit PACE NASA.(Dok: NASA)
PARA intelektual NASA mengembangkan perangkat kecerdasan buatan (AI) terbaru untuk mendeteksi ledakan alga berbahaya di wilayah Florida Barat dan California Selatan. Teknologi ini dirancang untuk memitigasi akibat kesehatan serius serta menekan kerugian ekonomi pesisir Amerika Serikat nan mencapai puluhan juta dolar setiap tahunnya.
Fenomena ledakan alga di Florida sering kali disebabkan oleh jenis Karenia brevis nan berakibat fatal bagi satwa liar dan menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia. Sementara itu, di Pantai Barat, alga jenis Pseudo-nitzschia dilaporkan telah meracuni ratusan lumba-lumba dan singa laut. Racun dari alga ini apalagi dapat menguap ke udara dan memicu penyakit pernapasan pada masyarakat sekitar.
Selama ini, pemantauan alga dilakukan secara manual menggunakan perahu dengan proses laboratorium nan menyantap waktu berhari-hari. Hal ini membikin prediksi letak ledakan alga susah dilakukan sebelum menyebar luas. Kehadiran teknologi AI NASA berfaedah menyatukan beragam kumpulan info satelit agar organisasi lokal dapat merespons lebih cepat.
"Paling tidak, perangkat seperti ini dapat membantu kita mengetahui di mana dan kapan kudu mengumpulkan sampel air saat ledakan alga baru dimulai," ujar Michelle Gierach, intelektual Jet Propulsion Laboratory NASA di California Selatan, Selasa (2/6).
Meskipun satelit NASA bisa menangkap indikasi alga melalui ukuran, pigmen, hingga pancaran sinar merah saat fotosintesis, tantangan utama terletak pada volume info mentah nan sangat masif. Untuk mengatasinya, tim peneliti mengembangkan sistem self-supervised machine learning nan bisa mempelajari pola dari beragam satelit tanpa perlu pelabelan manual.
Uji coba menggunakan info tahun 2018 dan 2019 menunjukkan hasil nan akurat. AI ini sukses memetakan jenis spesifik seperti K. brevis, apalagi di perairan pesisir nan kompleks dan keruh akibat sedimen. Nadya Vinogradova Shiffer, kepala intelektual program di Markas Besar NASA, menyebut teknologi ini sebagai perangkat efektif untuk menghasilkan kepintaran laut nan dapat ditindaklanjuti.
Saat ini, tim NASA terus menyempurnakan perangkat tersebut dengan mengintegrasikan lebih banyak info garis pantai dan memperluas pengetesan ke area waduk agar dapat segera diimplementasikan oleh para pengambil kebijakan. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·