Di kembali nama besar dan buahpikiran emansipasi Raden Ajeng (RA) Kartini, rupanya ada kakak kandungnya, Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono, nan rupanya mendorong adiknya jadi pelopor emansipasi perempuan. Ia apalagi mendapat julukan 'Si Jenius dari Timur'.
Nama RMP Sosrokartono memang tak setenar adiknya, RA Kartini. Namun, kiprahnya untuk Indonesia begitu banyak.
RMP Sosrokartono dimakamkan di Pasarean Sedo Moekti, di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Makamnya tetap disambangi para peziarah.
Di hari peringatan untuk RMP Sosrokartono ini, kumparan berkesempatan mewawancarai Juru Kunci Pasarean Sedo Moekti, Temu Sunarto (65). Ia merupakan ahli kunci makam ke-10.
Temu Sunarto mengatakan, RMP Sosrokartono lahir di Jepara pada 10 April 1877. Kemudian, meninggal pada usia 74 tahun, tepatnya 8 Februari 1952.
RMP Sosrokartono merupakan putra dari Adipati Ario Sosroningrat dengan Ngasirah. RMP Sosrokartono merupakan putra ketiga. Sedangkan RA Kartini merupakan anak keempat.
"Sejak usia tiga tahun, kakek Sosrokartono mempunyai keahlian memandang sesuatu nan belum terjadi. Beliau bicara ke ayahnya saat itu nan tetap menjabat Wedana, bakal segera menjadi Bupati Jepara. Hal itu rupanya menjadi kenyataan," katanya, Selasa (21/4).
Beranjak dewasa, RMP Sosrokartono menempuh studi sebagai mahasiswa di Universitas Leiden, Belanda, di Fakultas Sastra dan Filsafat. Ia lulus dalam kurun waktu nan lebih sigap dari mahasiswa pada umumnya. Ia adalah orang Indonesia pertama nan meraih gelar Drs dari Leiden.
"Selepas lulus, beliau tetap berada di Belanda sampai puluhan tahun," terangnya.
Si Jenius dari Timur, Kuasai 36 Bahasa
Julukan 'Si Jenius dari Timur' tak sembarangan didapat Sosrokartono. Berdasar catatan sejarah, dia menguasai 36 bahasa; 26 bahasa asing dan 10 bahasa dalam negeri.
Ia menguasai bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Yunani, Arab, Jepang dan lainnya. Sementara soal tanah air, dia menguasai bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Batak, dan Melayu.
"Beliau pernah menjadi wartawan perang Surat Kabar Amerika berjulukan The New York Herald Tribune pada tahun 1917," sambungnya.
Selain itu, dia pernah diangkat oleh pemerintah Prancis sebagai atase di kedutaan Besar Prancis di Den Haag, Belanda. Ia juga pernah diangkat sebagai ahli bahasa di Volkenbond di Genewa, Swiss.
Kembali ke Indonesia, Berjuang untuk Kemerdekaan berbareng Hasyim Asyari hingga Soekarno
Mendapat sejumlah kedudukan mentereng di Eropa tak membikin Sosrokartono lupa Tanah Airnya. Ia memilih kembali ke Indonesia, lampau melibatkan diri dalam upaya persiapan kemerdekaan.
"Ketika beliau tahu Indonesia hendak merdeka, dia memilih kembali ke Tanah Air pada tahun 1925. Dia mengontrak rumah di Jalan Poengkoer Nomor 7, Bandung," ujarnya.
Setiba di Indonesia, dia terlibat banyak perbincangan dengan Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari, hingga Soekarno.
"Beliau terpilih sebagai Direktur Sekolah. Para gurunya saat itu Ir Soekarno, Dr Samsi, Mr Sunario, Soewandi, Mr Usman Sastroamidjojo, dan Iskandar Kartomenggolo," jelasnya.
Lebih lanjut, RMP Sosrokartono pernah ditawari Presiden Soekarno untuk masuk ke dalam kabinetnya. Namun, dia tidak bersedia lantaran sedang mempelajari pengetahuan tasawuh ma'rifat. Salah satu alasannya agar pengetahuan nan sedang ditekuninya tidak tercampur dengan persoalan politik.
RMP Sosrokartono juga mempelajari pengetahuan catur murti. Ilmu ini mempelajari pikiran, perasaan, dan perbuatan. Empat aspek itu kudu melangkah selaras antara perkataan dan tindakan.
Semasa hidupnya, RMP Sosrokartono mempunyai pegangan hidup. Pegangan hidup ini juga diukir di area makamnya. Tepatnya di sebelah kanan dan kiri makam.
Pegangan itu diukir dalam aksara Jawa, berisi 4 bait nan berbunyi:
Trima Mawi Pasrah
Uwung Pamprih Tebih Ajrih
Langgeng tan Ono susah tan Ono Bungah
Anteng Manteng Sugeng Jeneng
Kira-kira, bait itu bersuara sebagai berikut; Menerima dalam kepasarahan, menolong tanpa mengharap imbalan, tak ada kesusahan dan kebahagiaan nan abadi, bermohon dengan konsentrasi agar angan terkabul.
Sementara di sebelah kanan, tertulis pura aksara jawa nan berbunyi:
Sugih Tanpo Bondo
Digdaya Tanpo Aji
Ngalurung Tanpo Bolo
Menang Tanpo Ngasuraken
Bait-bait itu berbunyi: Kekayaan tanpa harta, berhasil tanpa kekuatan, menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan.
Sebelum meninggal, dia meninggalkan sulaman huruf alif. Saat ini, sulaman dari benang sutra itu tetap tersimpan. Huruf alif itu mempunyai makna lurus. Artinya ketika melakukan apa pun kudu jujur. Selain itu ketika hendak berbincang kudu dipikir matang-matang sebelum disampaikan ke publik.
Huruf Alif mempunyai filosofi satu. Satu di sini artinya Allah SWT. Secara langsung pesan nan mau disampaikan ialah persoalan kehidupan, usia, dan rezeki merupakan kuasa Allah SWT.
"Beliau wafat pada Jumat Pahing 8 Februari 1952. Beliau wafat di Bandung dan dimakamkan di Pasarean Sedo Moekti Kabupaten Kudus," pungkas Sunarto.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·