Muncul 'Malapetaka' Bisnis Mal Usai Lebaran, Pengusaha Mulai Gelisah

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri ritel Tanah Air bersiap menghadapi periode penjualan lemah nan diperkirakan berjalan lebih panjang tahun ini. Kondisi ini dipicu oleh pergeseran waktu Ramadan dan Lebaran nan jatuh lebih awal, sehingga fase low season datang lebih sigap dan berdurasi lebih lama dari biasanya.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menjelaskan, situasi ini membikin pelaku upaya kudu bersiap menghadapi tekanan penjualan hingga pertengahan apalagi akhir tahun.

"Periode low season tahun ini juga relatif bakal lebih panjang lantaran Ramadan dan Lebaran datang lebih awal, ialah pada triwulan pertama nan lalu. Triwulan kedua dan ketiga tahun ini bakal menjadi periode low season nan panjang bagi industri upaya ritel di Indonesia," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, kondisi ini semakin berat lantaran terjadi berbarengan dengan tekanan global, khususnya akibat bentrok di Timur Tengah nan turut memengaruhi kondisi ekonomi beragam negara, termasuk Indonesia.

Suasana di dalam Pusat Perbelanjaan Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat, Selasa (17/6/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Foto: (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Suasana di dalam Pusat Perbelanjaan Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat, Selasa (17/6/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

"Kondisi susah saat ini akibat dampak perang di Timur Tengah bukan hanya dialami oleh Indonesia saja tetapi juga tentunya dialami oleh banyak negara lainnya. Dampak nan dialami oleh negara kita juga berpotensi mengalami tekanan lebih besar lantaran waktunya berbarengan dengan dimulainya periode 'low season' sebagaimana biasanya nan terjadi di Indonesia, ialah pasca-Ramadan dan Lebaran nan adalah merupakan puncak (peak season) penjualan ritel," jelasnya.

Dalam situasi tersebut, pelaku industri dihadapkan pada tantangan menjaga keahlian penjualan sekaligus menahan kenaikan nilai agar tidak semakin menekan daya beli masyarakat.

Alphonzus menekankan pentingnya kerjasama antara produsen dan pelaku ritel untuk mencari beragam langkah menekan biaya, mulai dari efisiensi hingga penemuan produksi.

"Para produsen berbareng stakeholders industri upaya ritel lainnya kudu berupaya secara maksimal mencari beragam opsi alias pengganti untuk meminimalkan kenaikan harga," ucap dia.

Ia menambahkan, industri manufaktur, khususnya tekstil, perlu melakukan penemuan agar biaya produksi bisa ditekan. Di sisi lain, peritel juga dituntut lebih imajinatif dalam menjaga nilai jual tetap kompetitif.

"Industri manufaktur tekstil kudu mengupayakan beragam penemuan dalam produksi dan produsen berbareng peritel kudu juga melakukan beragam produktivitas untuk menekan ataupun meminimalkan kenaikan nilai jual," sebutnya.

Meski demikian, dia mengakui kenaikan nilai tidak sepenuhnya bisa dihindari. Namun, pelaku industri di sisi hulu diharapkan dapat menahannya, agar tidak memperparah kondisi pasar di tengah low season nan panjang.

(wur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News