MRT Ungkap Peran Komunitas di Balik Blok M yang Tetap Hidup dan Dinamis

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kawasan Blok M, Jakarta Selatan (Jaksel) tidak hanya dikembangkan sebagai simpul transportasi publik. PT MRT Jakarta juga berupaya menjaga area tersebut tetap hidup dan bergerak dengan memperhatikan kebutuhan beragam komunitas.

Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta mengatakan, keberadaan organisasi menjadi bagian krusial dalam pengembangan placemaking di Blok M. Beragam organisasi dengan minat berbeda diberi ruang untuk beraktivitas di area tersebut.

“Di Blok M ini kita sudah lebih dari 50 organisasi nan collaborate dengan kita,” kata Samuel dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026.

Menurut dia, organisasi nan terlibat mempunyai latar belakang beragam, mulai dari organisasi olahraga hingga aktivitas keagamaan seperti pengajian. Keberagaman tersebut, kata Samuel, menjadi salah satu gambaran bahwa ruang publik di Blok M dapat digunakan oleh golongan masyarakat dengan kesukaan nan berbeda.

Samuel menyebut bahwa pengembangan Blok M mengusung tema culture dan urban youth, tetapi tetap mempertahankan unsur nostalgia agar dapat dinikmati lintas generasi.

"Kalau di Blok M kan temanya mungkin placemaking-nya culture ya, Skena. Anak-anak culture, anak Skena, tapi ada satu lagi sebenarnya, nostalgia. Orang-orang nan dulu mungkin angkatan ayah ibu kita gitu ya, dulu suka ke Blok M era SMA-nya, era sekolahnya, itu pun bisa bernostalgia kembali ke Blok M," ungkap Samuel.

Meski begitu, organisasi juga tidak selalu kudu secara aktif diajak untuk menggunakan sebuah ruang. Pasalnya, ketika karakter ruang sesuai dengan identitas mereka, organisasi dapat datang dan memanfaatkannya.

“Biasanya organisasi ini enggak hanya perlu diajak, tapi kadang-kadang datang sendiri ke sana,” ucap Samuel.

Dalam pengembangan kawasan, lanjut Samuel terdapat empat prinsip utama placemaking nan diterapkan MRT Jakarta, ialah akses dan keterhubungan, kenyamanan dan gambaran kawasan, aktivitas, serta keterlibatan masyarakat.

Kawasan, kata dia kudu mudah dijangkau, aman, bersih, nyaman, mempunyai aktivitas nan berkelanjutan, serta bisa menarik masyarakat untuk berinteraksi.

Dengan pendekatan tersebut, MRT Jakarta menargetkan area nan dikembangkan bukan hanya menjadi ruang nan nyaman untuk ditinggali alias dikunjungi, tetapi juga mempunyai karakter nan dapat membikin masyarakat merasa mempunyai keterikatan.

"Jadi placemaking itu harapannya bisa membikin kotanya makin hidup lagi, liveable city. Tapi enggak hanya kota nan liveable alias nyaman ditinggali, tapi juga lovable," tandas Samuel.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita