ilustrasi(Magnific)
SEJAK Terusan Suez dibuka pada 1869 sebagai jalur pintas air asin, kejadian migrasi ikan dari Laut Merah menuju Laut Mediterania terus berlangsung. Fenomena migrasi ini dikenal dalam bumi sains sebagai Migrasi Lessepsian. Hingga saat ini, lebih dari 120 jenis ikan telah beranjak dan menetap secara permanen di area Mediterania.
Jika selama ini prediksi migrasi hanya didasarkan pada pengamatan setelah ikan tiba, penelitian terbaru dari Tel Aviv University mengubah pendekatan tersebut. Tim peneliti sukses membangun model statistik baru nan bisa memeringkat jenis ikan Laut Merah berasas seberapa besar kemungkinan mereka menjadi migran sukses berikutnya, apalagi sebelum mereka memulai perjalanan.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Shahar Chaikin sebagai bagian dari riset doktoralnya di bawah pengarahan Profesor Jonathan Belmaker di School of Zoology, Tel Aviv University.
Berdasarkan kajian info migrasi selama lebih dari satu abad, model baru ini menyoroti tiga jenis ikan Laut Merah nan mempunyai potensi paling tinggi untuk melakukan migrasi berikutnya:
- Stellate pufferfish (buntal bintang)
- Cinnabar goatfish (biji nangka)
- Yellow-spotted trevally (kuwe bintik kuning)
Karakteristik Utama Penentu Keberhasilan Invasi
Selama bertahun-tahun, muncul dugaan bahwa jenis ikan generalis, ikan nan bisa hidup di mana saja, merupakan kandidat invasi paling sukses. Namun, model statistik baru ini menunjukkan hasil sebaliknya. Faktor penentu keberhasilan utama bukanlah fleksibilitas, melainkan ketidaktergantungan jenis tersebut pada ekosistem terumbu karang.
"Terusan Suez dan Laut Mediterania mengandung sangat sedikit terumbu karang seperti nan ditemukan di Laut Merah. Oleh lantaran itu, jenis nan berjuntai pada terumbu karang mini kemungkinannya untuk menyelesaikan perjalanan," jelas Chaikin.
Ikan nan berjuntai pada struktur karang bakal kehabisan kediaman alami di sepanjang jalur migrasi. Sebaliknya, jenis nan sejak awal tidak berjuntai pada terumbu karang mempunyai kesempatan jauh lebih besar untuk memperkuat hidup dan menyelesaikan migrasi.
Untuk menguji pendapat tersebut, tim merekam perilaku 179 populasi ikan menggunakan kamera bawah air berumpan (stereo-BRUV) di Teluk Eilat dan pesisir Mediterania Israel. Riset ini membandingkan jenis nan sudah menginvasi Mediterania dengan jenis nan tetap tertahan di Laut Merah.
Kompetisi dengan Spesies Asli Mediterania
Selain memprediksi kedatangan, tim peneliti memantau perilaku ikan invasif setelah tiba. Ditemukan bahwa ikan-ikan tersebut dengan sigap beradaptasi menggunakan kediaman apa pun nan tersedia di rumah baru mereka, alih-alih mencari kediaman nan mirip dengan Laut Merah.
Menariknya, ikan migran tidak mengisi ruang ekologis nan kosong, melainkan masuk ke kediaman nan sudah dihuni oleh jenis original Mediterania. Temuan ini mengindikasikan adanya persaingan nan lebih ketat dalam memperebutkan makanan, tempat berlindung, dan ruang hidup.
Profesor Belmaker menekankan pentingnya perubahan pendekatan dalam riset ini.
"Hingga saat ini, para peneliti mencoba memahami invasi biologis terutama dengan mengawasi jenis nan telah mencapai Mediterania," kata Profesor Belmaker. "Kami mengambil langkah mundur dan bertanya apa nan mencirikan spesies-spesies ini sebelum mereka memulai perjalanan mereka."
Dengan pemanasan suhu Laut Mediterania nan terus berlangsung, model prediksi awal ini diharapkan dapat membantu otoritas mengenai dan intelektual kelautan dalam upaya pemantauan lingkungan serta perlindungan ekosistem laut. Hasil komplit studi ini telah dipublikasikan dalam Journal of Animal Ecology. (EArth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·