Wayang kulit, mural ular tangga, hingga salinan Monumen Nasional (Monas) menghiasi lorong-lorong gang. Ornamen-ornamen itu membikin permukiman penduduk tampak semarak menjelang peringatan HUT 81 RI.
Ada tiga gang di RT 13/RW 07, Kelurahan Sunter Agung, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, nan disulap jadi Kampung Kemerdekaan. Masing-masing gang punya konsep hiasan berbeda nan dibuat dan dikerjakan berbareng oleh warga.
Menariknya, semarak hiasan tersebut bermulai dari biaya Rp 500 ribu nan diberikan pengurus kepada masing-masing gang. Dana itu awalnya hanya ditujukan untuk merapikan lingkungan, seperti memasang bendera dan umbul-umbul.
Ketua RT 13/RW 07, Turiazatulo Waruwu namalain Arthur, mengatakan buahpikiran tersebut muncul dalam rapat persiapan penyambutan HUT RI pada 8 Juli 2026.
“Kita mau memberikan duit Rp 500 ribu kepada masing-masing gang untuk merapikan gangnya seperti pasang bendera, umbul-umbul, hanya sebatas itu aja,” kata Arthur saat ditemui kumparan, Sabtu (15/8).
Namun, setelah biaya diberikan, penduduk justru mengembangkan hiasan sesuai produktivitas masing-masing. Mereka mengumpulkan biaya tambahan secara swadaya dan mengerjakan hiasan secara gotong royong.
“Setelah kita serahkan biaya itu, rupanya antusias dari penduduk masing-masing gang itu luar biasa,” ujarnya.
Antusiasme tersebut melibatkan beragam kalangan usia. Anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, hingga orang tua ikut menentukan konsep dan mengerjakan hiasan di masing-masing gang.
“Mereka juga setelah mendapatkan duit nan dari panitia alias pengurus itu tadi nan sebesar Rp 500 ribu, mereka mengumpulkan lagi warganya, tetangga nan berada di gang. Jadi itu ada anak-anak, remaja, orang tua, ibu-ibu, bapak-bapak terlibat semua di situ,” tutur Arthur.
Setelah mendapat biaya awal, masing-masing gang kemudian berkembang dengan identitasnya sendiri.
Gang 8A mengusung konsep Pesona Nusantara, nan membujuk penduduk mengingat sejarah Indonesia sebelum terbentuk sebagai negara.
“Ini konsep hiasan Gang 8A, RT 13/07. Temanya itu Pesona Nusantara. Artinya kita mengingat masa lampau alias masa sejarah Indonesia sebelum terjadinya Indonesia adalah kerajaan alias Nusantara,” kata Ega, selaku bendaharawan RT 13/RW 07.
Dekorasi Gang 8A terinspirasi dari masa kerajaan dan budaya Jawa. Warga membikin tokoh punakawan seperti Bagong, Semar, Petruk, dan Gareng nan diukir oleh pemuda serta bapak-bapak setempat.
Di bagian atas gapura, penduduk juga membikin lukisan Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta. Sementara corak gapuranya mengambil referensi kerajaan, salah satunya Kerajaan Majapahit.
Bergeser ke Gang 8B, penduduk mengambil tema Keceriaan Tanpa Gadget. Berbagai permainan dibuat di aspal untuk menghadirkan suasana taman bermain bagi anak-anak.
Di sepanjang gang, penduduk membikin beragam mural dan permainan, mulai dari Gatotkaca, Naruto, catur, tapak gunung alias jingkrak, hingga ular tangga.
Yetty, selaku koordinator Gang 8B, menjelaskan tema tersebut dipilih lantaran banyak penduduk Gang 8B nan tinggal di rumah kontrakan dan mempunyai anak-anak.
“Karena di sini banyak kontrak-kontrakan, di sini penuh dengan kontrakan dan penuh dengan anak-anak. Jadi kita di Gang 8B itu khususnya mengusung konsep dari permainan anak-anak,” jelas Yetty.
Tak hanya menghadirkan ruang bermain, penduduk juga memanfaatkan beragam peralatan jejak sebagai dekorasi. Sedotan, gelas bekas, botol, hingga sendok jejak digunakan untuk membikin sejumlah hiasan.
Sementara itu, Gang 8C mengusung tema Taman Lentera Kemerdekaan. Sepanjang lorong dihiasi beragam ornamen, seperti sepeda ontel, becak, Monas, dan ikan.
Sebagian besar ornamen di Gang 8C dibuat dari peralatan daur ulang. Salah satunya ornamen sepeda ontel nan dibuat dari bambu jejak dan dililit lampu, sehingga tampak seperti sepeda ketika malam hari.
Menurut Mestika, koordinator Gang 8C, penduduk dari beragam golongan usia ikut terlibat dalam pengerjaan dekorasi. Kerajinan tangan nan dibuat ibu-ibu turut menghiasi lorong, sementara bapak-bapak mengerjakan gapura dan anak-anak serta remaja membantu membikin ornamen gantung.
Selain dekorasi, kondisi penduduk setempat juga menjadi bagian dari konsep Gang 8C. Menurut Mestika, sekitar 80 persen penduduk di gang tersebut merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Itu banyak gerobak, ya, lantaran 80 persen penduduk di Gang 8C ini kebanyakan mereka UMKM. Semua di sini tinggal pedagang, penjual. Ada pedagang bubur, pedagang lontong sayur, nasi uduk, nasi goreng,” terang Mestika.
Semarak hiasan di tiga gang itu kemudian berkembang lewat swadaya warga. Setelah menerima biaya awal dari pengurus, masing-masing gang mengumpulkan tambahan biaya sesuai kebutuhan dekorasi.
Arthur menyebut, dirinya mendengar ada penduduk nan memperkirakan urunan masing-masing gang mencapai sekitar Rp 8 juta hingga Rp 10 juta. Namun, dia tidak mengetahui nomor pastinya.
“Kalau kemarin saya nggak ngikutin ininya berapa, tapi ada penduduk nan bilang mungkin ya Rp8 juta, Rp10 juta, ini biaya nan urunannya, tapi saya nggak tahu juga ya,” ujarnya.
Namun, kontribusi penduduk tidak selalu diberikan dalam corak uang. Ada pula penduduk nan menyumbangkan tenaga untuk mengerjakan hiasan hingga menyiapkan konsumsi selama proses pengerjaan.
Dana urunan itu kemudian digunakan untuk membeli sejumlah bahan, seperti cat dan lampu. Sementara pengerjaan hiasan dilakukan sendiri oleh penduduk dengan skill masing-masing.
Semangat penduduk dalam menghias lingkungan apalagi sempat memunculkan usulan agar dibuat penilaian antargang. Namun, pengurus memilih tidak membikin ranking lantaran cemas menimbulkan kecemburuan antarwarga.
Arthur kemudian berbincang dengan Lurah Sunter Agung Ahmad Firdaus mengenai sistem penilaian tersebut. Setelah memandang langsung hasil hiasan tiga gang, pihak kelurahan akhirnya memilih memberikan apresiasi kepada masing-masing gang.
“Karena semua nan ditampilkan itu semua rata semuanya bagus, ya, unik, terus ada hal-hal nan membangunkan semangat dan kebersamaan penduduk terutama di situ,” katanya.
Bagi Arthur, aktivitas tahun ini menjadi salah satu corak kebersamaan penduduk nan paling terasa sejak dirinya tinggal di area tersebut pada 2011.
“Seperti tadi nan disampaikan, ya, ini nyaris 35 tahun. Mungkin dari dulu ya belum pernah ada. Saya domisili di RT 13 ini dari 2011, belum pernah, belum pernah ada,” tuturnya.
Menurut Arthur, keterbukaan pengurus juga menjadi salah satu aspek nan membikin penduduk mau ikut terlibat, termasuk memberikan support dana.
“Jadi kita membangun sebuah keterbukaan, kepercayaan kepada warga. Semua nan mereka berikan itu kita tampilkan di grup warga. Jadi nggak ada nan kita tutup-tutupi,” ungkap dia.
Semangat tersebut juga bakal bersambung hingga 17 Agustus. Warga RT 13 menyiapkan beragam lomba serta intermezo musik dangdut nan sebagian pengisinya berasal dari penduduk setempat.
Di kembali kemeriahan hiasan tersebut, Arthur berambisi perhatian pemerintah terhadap penduduk RT 13 juga ikut meningkat, terutama bagi para pelaku UMKM nan banyak berada di wilayah tersebut.
“Kita memerlukan perhatian unik dari pemerintah untuk membikin pelaku UMKM kita ini bisa lebih maju lagi, lebih berdikari lagi, dan mungkin ada edukasi nan diberikan kepada warga, khususnya pelaku-pelaku UMKM-nya,” papar dia.
Bagi Arthur, support tersebut krusial agar semangat penduduk nan sudah terbangun tidak berakhir pada seremoni HUT RI.
“Kita mau sini ada kerjasama lah. Itu kerjasama nan paling utama,” tandasnya.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·