Mobil China Makin Ganas, Cuma 5 Tahun Lagi Jepang Perkasa Kuasai RI

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi pabrikan mobil Jepang di pasar otomotif Indonesia mulai menghadapi tekanan baru seiring agresivitas pemain asal China nan kian ekspansif. Diler brand Jepang pun mulai berguguran, terbaru diler Honda di Pondok Pinang ikut tutup dan berganti menjadi Diler Jaecoo.

Sinyal perubahan arah pasar mulai terlihat, terutama di segmen kendaraan listrik dan konsumen urban.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai posisi merek Jepang saat ini tetap relatif kondusif lantaran ditopang fondasi kuat nan telah dibangun selama puluhan tahun. Jaringan jasa nan luas hingga ke wilayah serta persepsi daya tahan produk menjadi kelebihan nan belum mudah ditandingi pesaing baru.

"Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan takhta Jepang tetap bakal susah diruntuhkan secara absolut berkah tembok pertahanan berupa reputasi daya tahan produk, stabilitas nilai jual kembali, serta jaringan purnajual nan telah mengakar kuat hingga ke pelosok daerah," kata Yannes kepada CNBC Indonesia, Kamis (9/4/2026).

Hanya saja, kekuatan tersebut tidak bakal cukup jika tidak diiringi dengan keahlian beradaptasi terhadap perubahan tren. Pergeseran preferensi konsumen, khususnya di kota besar, dinilai semakin mengarah pada produk nan lebih modern dan berbasis teknologi.

"Sayangnya, lambatnya penyesuaian bakal membikin mereka perlahan namun pasti kehilangan pangsa pasar konsumen urban generasi baru," lanjutnya.

Risiko terbesar bukan terjadi secara mendadak, melainkan melalui proses erosi berjenjang nan berpotensi melemahkan kekuasaan nan selama ini dianggap mapan. Ia menilai, ketidakmauan untuk beralih bentuk di segmen kendaraan listrik berbasis baterai dapat menjadi titik kritis.

"Jika pabrikan Jepang tetap bersikeras menahan transisi dan menolak melakukan penemuan radikal di sektor BEV, skenario terburuk nan menanti mereka bukanlah sebuah kebangkrutan instan, melainkan pendarahan struktural perlahan nan bakal memicu 'Momen Nokia' di industri otomotif nasional," tegasnya.

Gejala awal dari pergeseran ini, lanjut dia, sudah mulai tampak di lapangan. Perubahan strategi para pelaku upaya hingga perilaku konsumen menjadi parameter bahwa kejuaraan tidak lagi melangkah seperti sebelumnya.

"Runtuhnya takhta ini sudah diawali dengan eksodus massal para penanammodal diler di beragam kota nan beranjak ke merek China demi menyelamatkan margin upaya nan kemudian secara berantai memicu jatuhnya nilai mobil jejak Jepang akibat banjir suplai dari konsumen urban nan beranjak ke BEV China nan semakin canggih kreasi dan fitur teknologi barunya," kata Yannes.

Potensi pergeseran kekuatan ini bukan sekadar wacana, melainkan skenario realistis andaikan pabrikan Jepang tidak segera melakukan perubahan strategi secara menyeluruh.

"Terkait potensi apakah mobil China bisa menggeser hegemoni merek Jepang dalam jangka panjang, pergeseran tersebut sangat mungkin menjadi realita pahit andaikan pabrikan petahana terus bersikeras menahan diri dan menolak melakukan perombakan penemuan secara total ya," katanya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News