Misteri Materi Alam Semesta yang Hilang Terungkap di Ruang Antargalaksi

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Misteri Materi Alam Semesta nan Hilang Terungkap di Ruang Antargalaksi Ilmuwan MIT temukan materi biasa nan lenyap di luar galaksi menggunakan Fast Radio Bursts (FRBs).(Dok. Magnific)

MISTERI besar mengenai hilangnya sebagian materi biasa (ordinary matter) di alam semesta selama puluhan tahun akhirnya mulai terpecahkan. Tim intelektual nan dipimpin oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) sukses mengidentifikasi bahwa materi tersebut tersebar sebagai awan gas tipis di ruang antargalaksi.

Berdasarkan info penelitian nan dirilis pada 27 Juli 2026, materi nan ditemukan ini merupakan materi biasa alias baryonic matter, bukan materi gelap (dark matter). Materi ini adalah penyusun atom nan membentuk bintang, planet, hingga manusia, nan selama ini hanya terdeteksi separuh dari total jumlah nan semestinya ada menurut kalkulasi pasca-Big Bang.

Teknologi Fast Radio Bursts sebagai Kunci

Para peneliti menggunakan metode inovatif dengan memanfaatkan Fast Radio Bursts (FRBs), ialah kilatan gelombang radio super terang dari galaksi jauh nan berjalan dalam hitungan milidetik. Saat sinyal radio ini melintasi ruang hampa, gelombangnya melambat akibat berinteraksi dengan gas tipis.

Dengan menggabungkan info dari kerjasama CHIME dan peta galaksi proyek DESI, intelektual dapat menghitung kepadatan materi di sepanjang lintasan sinyal tersebut. Hasilnya, ditemukan bahwa gas tipis menyelimuti galaksi hingga jarak jutaan tahun cahaya.

Materi ini ditemukan jauh lebih jauh dari pusat galaksi dibandingkan prediksi simulasi komputer sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya kekuatan besar dari supernova alias lubang hitam nan melontarkan gas keluar galaksi.

Implikasi bagi Kosmologi Modern

Penemuan nan dipublikasikan dalam jurnal Physical Review Letters ini memberikan gambaran lebih komplit mengenai perkembangan galaksi. Meski letak materi biasa telah ditemukan, tantangan besar berikutnya tetap pada dark matter nan menyusun sekitar 85 persen materi alam semesta namun belum diketahui sifatnya.

Teknik pemetaan menggunakan FRBs ini diharapkan menjadi standar baru dalam memahami struktur kosmik dengan ketelitian nan lebih tinggi di masa depan, sebagaimana dilaporkan oleh MIT News dan National Geographic Indonesia. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia