Misteri Keberadaan Mojtaba Khamenei dan Dilema Negosiasi Damai Iran

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
Misteri Keberadaan Mojtaba Khamenei dan Dilema Negosiasi Damai Iran Mojtaba Khamenei.(Al Jazeera)

PARA penguasa Iran menghadapi masalah saat mereka berupaya menegosiasikan pengakhiran perang. Pemimpin tertinggi mereka nan baru tampak menghilang dan tutup mulut mengenai perundingan tersebut.

Para pejabat AS dan Iran mengatakan Mojtaba Khamenei terluka parah dalam serangan udara Februari lalu, nan menewaskan istri, putra, dan ayahnya, mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Sejak itu, satu-satunya perihal nan didengar alias dilihat penduduk Iran dari pemimpin baru mereka adalah pesan-pesan nan konon ditulis olehnya dan gambar-gambar nan tampaknya dimodifikasi alias dihasilkan oleh kepintaran buatan.

Ketidakhadirannya menjadi masalah nan lebih besar bagi Teheran saat mereka mencoba menegosiasikan pengakhiran perang. Para penguasa Iran menunjukkan persatuan selama pertempuran, mengoordinasikan pesan-pesan politik mereka, serta mempertahankan komando dan kendali atas angkatan bersenjata mereka. Namun, mereka terpecah pendapat mengenai sejauh mana mereka kudu bermusyawarah untuk mencapai kesepakatan dengan AS.

"Ketidakhadiran Khamenei nan berkepanjangan dari pandangan publik sangat meresahkan para pendukung garis kerasnya nan mempertanyakan legitimasi pembicaraan tersebut," kata Arash Azizi, seorang sejarawan dan pengajar di Universitas Yale nan berfokus pada Iran dan meninjau obrolan grup pendukung rezim garis keras.

Para pendukung garis keras Iran menargetkan politisi Iran nan lebih moderat untuk memainkan peran krusial dalam pembicaraan, terutama ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, nan mereka anggap terlalu kompromi.

"Mereka bertanya-tanya di mana dia berada," kata Azizi tentang pemimpin tertinggi nan baru. "Mereka kecewa dengan apa nan mereka lihat sebagai Ghalibaf dan tim nan memimpin Dewan Keamanan Nasional nan bermusyawarah dan memberikan terlalu banyak konsesi kepada AS."

Beberapa pendukung garis keras rezim mem-posting pesan di media sosial nan meminta Khamenei untuk setidaknya merilis pesan bunyi nan menyatakan dukungannya untuk pembicaraan tersebut.

Di masa lalu, pemimpin tertinggi Iran menjadi penentu akhir keputusan-keputusan krusial mengenai keamanan nasional. Dua pendahulu Khamenei sering kali secara terbuka menyatakan arah nan mereka inginkan untuk negara tersebut, bertindak sebagai penengah antara faksi-faksi nan berselisih.

Untuk mengakhiri perang Iran-Irak pada 1980-an, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin tertinggi pertama rezim tersebut, mengambil keputusan susah untuk mengakhiri pertempuran, keputusan nan dia samakan dengan meminum dari cangkir beracun. 

Ayah Khamenei, Ali Khamenei, secara terbuka menyetujui pembicaraan nan mengarah pada pakta 2015 dengan kekuatan dunia untuk melonggarkan hukuman sebagai hadiah atas pembatasan nuklir sebelum menyetujui kesepakatan itu sendiri.

Pemerintah Iran belum merilis gambar baru Mojtaba Khamenei. Semua gambar resminya--termasuk gambar profil di akun X-nya dan papan iklan propaganda besar nan dipajang di jalan-jalan Teheran--tampaknya dihasilkan alias dimodifikasi oleh AI.

Para pejabat Iran apalagi belum merilis rekaman bunyi pemimpin baru mereka, seperti nan kadang-kadang dilakukan oleh mantan pemimpin tertinggi ketika keamanannya terancam. Banyak penduduk Iran bertanya-tanya apakah dia tetap hidup.

Para pejabat Iran mengatakan Khamenei menjaga profil rendah demi keselamatannya sendiri. Sebelum gencatan senjata, Israel secara sistematis menargetkan dan membunuh para pejabat tinggi Iran dan Khamenei tetap berada di daftar sasaran pembunuhan mereka.

Pada Kamis, untuk pertama kali, seorang pejabat senior Iran secara terbuka mengakui berjumpa dengan pemimpin tertinggi nan baru. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa dia baru-baru ini mengadakan pertemuan selama 2,5 jam dengan Khamenei, dalam pesan publik nan tampaknya bermaksud menghilangkan pertanyaan tentang apakah pemimpin baru itu betul-betul tetap hidup dan menjalankan negara.

"Pezeshkian berupaya meyakinkan, baik oposisi rezim maupun para pendukungnya, bahwa Mojtaba berlindung demi keamanannya dan bukan lantaran dia telah meninggal. Ini krusial lantaran Republik Islam sedang mengupayakan kesepakatan," kata Saeid Golkar, seorang mahir tentang pasukan keamanan Iran dan asisten guru besar di Universitas Tennessee di Chattanooga.

Pada Jumat malam, seorang pejabat Iran untuk pertama kali merinci luka-luka Khamenei. Ia mengatakan bahwa tempurung dengkul dan punggungnya terluka dalam serangan nan menewaskan ayahnya. Pejabat itu bersikeras bahwa dia dalam keadaan sehat.

"Musuh berusaha, melalui beragam dalih, untuk mendapatkan rekaman audio alias video dirinya untuk disalahgunakan," kata Mazaher Hosseini, seorang pejabat senior di instansi pemimpin tertinggi Iran, dalam video nan diposting oleh instansi buletin Nour nan berafiliasi dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. "Pada waktu nan tepat, dia sendiri bakal berbincang kepada kalian semua."

Pernyataan publik tersebut tidak banyak membantu menghilangkan kesan bahwa Khamenei tetap terlalu sakit untuk berkedudukan aktif dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari. Pernyataan Pezeshkian lebih berfokus pada style hubungan daripada substansi nan dibahas dan tidak menyebut kapan alias di mana pertemuan tersebut berlangsung.

Komunikasi publik Khamenei terbatas pada pernyataan tertulis nan dipublikasikan di saluran resmi dan dibacakan oleh pembawa buletin di televisi pemerintah. Lebih dari 150 unggahan nan muncul di akun X-nya sering kali mengangkat tema-tema seperti persatuan nasional, ketahanan, dan balas dendam. Unggahan-unggahan tersebut menggambarkan Iran sebagai negara nan terkunci dalam perjuangan peradaban dengan kekuatan asing nan berbeda dengan seringnya merujuk pada Selat Hormuz.

"Orang asing nan datang dari ribuan kilometer jauhnya tidak punya tempat di sana selain di dasar perairannya," kata unggahan nan dipublikasikan pada akhir April di akun X Khamenei.

Isi pesan-pesannya sangat umum sehingga banyak penduduk Iran, termasuk para pendukungnya, bertanya-tanya apakah dia berkedudukan dalam menyusunnya. Seorang penduduk Teheran nan mendukung Republik Islam mempertanyakan apakah Khamenei mempunyai kekuasaan pengambilan keputusan sama sekali.

Pendukung lain rezim mengatakan bahwa dapat dimengerti jika Khamenei mau tetap berlindung dan komunikasinya nan terbatas membantu menumbuhkan persatuan nasional di masa perang.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei menjaga profil publiknya tetap rendah. Ia menghindari pertemuan publik dan penampilan di media. Dalam salah satu dari sedikit penampilannya, wawancara pada tahun 2021, dia memuji kakeknya nan baru saja meninggal.

Namun di kembali layar, dia memainkan peran nan sangat besar di instansi pemimpin tertinggi, pusat otoritas politik dan kepercayaan ayahnya. Dalam peran informal itu, Khamenei muda bekerja sama erat dengan Garda Revolusi untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya nan lebih moderat dan mempromosikan sekutu-sekutu garis kerasnya di lembaga keamanan dan intelijen negara.

Bagi sebagian pendukung rezim, nan terpenting adalah kesinambungan antara Khamenei dan pemerintahan ayahnya. "Mereka tidak bakal jenuh memegang poster dirinya, lantaran poster itu mewakili Republik Islam, bukan Mojtaba," kata Alex Vatanka, seorang peneliti senior dan mahir Iran di Middle East Institute. (WSJ/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia