Siang hari, di bawah terik musim panas bulan Juli di Kota Strasbourg—yang saat itu tetap jadi bagian Kekaisaran Romawi Suci, Frau Troffea melangkah dari rumah kayunya. Ia menapaki jalanan batu sempit ke pusat kota sembari menari. Tubuhnya berputar dan bergoyang tanpa kendali, tanpa suara.
Dalam catatan master sekaligus mahir kimia jenius—namun pemarah—asal Swiss, Paracelcus, tahun 1530-an, inilah awal mula dari "wabah menari Strasbourg". Selama sepekan, Troffea terus menari tanpa henti. Ia paling hanya berakhir sejenak untuk memejamkan mata, lampau mulai menari lagi.
Awalnya orang-orang hanya berkerumun, menonton lantaran penasaran. Tapi dorongan untuk ikut menari seolah menular. Dalam sepekan, nyaris tiga lusin penduduk ikut menari berbareng Troffea. Dan hingga Agustus, sekitar 400 orang terkena pandemi menari.
Para bangsawan nan menguasai kota mulai bingung dengan kekacauan nan terjadi. Salah satu dari mereka, Sebastian Brant, apalagi menuliskan satu bab di bukunya, "Ship of Fools", soal kejadian ini. Dokter setempat, nan berupaya mendiagnosis pandemi ini, kemudian menyatakan bahwa penyebabnya adalah "darah nan terlalu panas di otak".
Anggota majelis kota lampau menyiapkan "pengobatan" nan menurut mereka cocok: memperbanyak tarian. Menurut mereka, semakin banyak tarian, semakin sigap mereka sembuh. Pasar-pasar dikosongkan, balai-balai serikat disita, demi mendirikan panggung dan mendatangkan musisi pengiring. Bahkan ada orang nan dibayar untuk menjaga agar para penari tetap berdiri tegak saat tubuh mereka berputar dan bergoyang.
Di tengah pasar gandum dan pasar kuda, di bawah terik mentari musim panas, pandemi tarian tanpa henti mulai menyantap korban jiwa dengan kaki bersimbah darah. Kalau bukan lantaran serangan jantung, para penari meninggal lantaran kelelahan dan kelaparan berat.
"That dance and sin are one in kind, to hatch out evil, to abuse it. It stris up pride, immodesty, and prompts men ever lewd to be."
Sebastian Brant-Chapter 61 Das Narrenschiff
Dewan kota kemudian menyadari langkah mereka salah. Muncul dugaan, pandemi tarian ini terjadi lantaran balasan Tuhan. Penebusan dosa paksa dilakukan, musik dan tarian di tempat umum jadi perihal terlarang.
Para penari lampau dibawa ke kuil nan didedikasikan untuk Santo Vitus. Konon, Santo Vitus punya kekuatan untuk mendatangkan pandemi tarian. Kuil itu berada di sebuah gua di Kota Saverne. Sepatu merah dipakaikan ke kaki para penari nan melepuh dan berdarah, lampau mereka diajak mengelilingi patung kayu Santo Victus.
Dalam beberapa pekan, pandemi tarian misterius ini berakhir.
Hingga ratusan tahun kemudian, kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan nan susah dijawab. Apa penyebab pandemi tarian ini? Siapa saja nan terjangkit pandemi ini? Berapa banyak nan meninggal dan apa penyebabnya?
Salah satu teori menyebut mereka tidak sengaja mengonsumsi ergot, sejenis jamur nan tumbuh pada gandum hitam nan lembab. Efek sampingnya adalah fatamorgana hingga tegang hebat.
Masalahnya, apakah mungkin pengaruh jamur ergot memperkuat selama berhari-hari apalagi lebih dari sepekan?
Sejarawan John Waller berasumsi, kasus ini berangkaian erat dengan kengerian penyakit dan kelaparan nan melanda Strasbourg di tahun itu. Depresi lantaran keadaan sekitar, ditambah kepercayaan bakal kisah Santo Vitus nan bisa menghukum pendosa dengan pandemi tarian—dan mungkin diperparah oleh jangkitan jamur ergot juga—kemudian memicu histeria massal di sebagian besar kota.
Antropolog Amerika Serikat, Erika Bourguignon, menjelaskan gimana orang nan tumbuh dalam lingkungan nan menganggap kesurupan sebagai perihal "serius" punya kemungkinan mempunyai mental disosiatif. Dalam kasus Strasbourg, kepercayaan tentang kutukan Santo Vitus bisa jadi pemicu secara emosional bagi orang-orang nan secara sadar konsentrasi pada dosa-dosanya.
Dalam sebuah catatan, di tahun 1500-an, Starsbourg memang tengah mengalami masa-masa terburuknya. Panen gagal, nilai gandum naik, penyakit baru muncul. Sepanjang musim panas 1517, panti asuhan, rumah sakit, dan tempat penampungan dibanjiri orang0orang nan putus asa. Ini adalah kondisi ideal bagi sebagian penduduk nan miskin untuk membayangkan bahwa "Tuhan sedang marah kepada mereka".
Sebenarnya, pandemi menari Strasbourg bukan satu-satunya pandemi tari nan pernah terjadi. Di abad ke-11, pandemi serupa pernah terjadi di Cölbigk, Saxony. Di abad ke-15, seorang wanita di Apulia, Italia, juga tiba-tiba menari gila setelah digigit tarantula. Namun tak pernah ada pandemi menari semasif di Strasbourg.
Dan kini, pandemi menari Strasbourg jadi salah satu inspirasi di "Pengabdi Setan 3: Origin". Kisah ini bakal muncul di scene awal movie nan bakal tayang 2027 mendatang.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·