Jakarta -
Minyak jelantah alias minyak goreng jejak rupanya bisa menghasilkan cuan. Pertamina menyediakan akomodasi UCollect Box nan memungkinkan masyarakat menukarkan minyak jelantah sekaligus mendapatkan bayaran.
Perwira Subholding Downstream Pertamina, Yoga Pratama, mengatakan masyarakat bisa mencari letak UCollect Box melalui aplikasi MyPertamina. Fasilitas tersebut tersedia di sejumlah SPBU.
Masyarakat cukup membawa minyak jelantah nan sudah dikumpulkan ke letak UCollect Box. Setelah minyak dimasukkan ke dalam mesin, jumlahnya bakal diukur secara otomatis. Setelah itu, saldo bakal masuk ke e-wallet nan didaftarkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti ada namanya sustainability corner-nya di situ, jadi tinggal dipilih saja. Kalau di Jabodetabek di Abdul Muis ada, Fatmawati," kata Yoga dalam Pertamina Talks Episode 2 bertema 'Hobi Jaga Bumi, Eh Jadi Profesi' di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026).
Harga minyak jelantah nan dikumpulkan masyarakat disebut bisa mencapai Rp 4.000-Rp 5.000 per liter. Artinya, jika seseorang mengumpulkan 10 liter minyak jelantah dengan nilai Rp 5.000 per liter, cuan nan didapat mencapai Rp 50.000. Sementara jika sukses mengumpulkan 100 liter, nilainya bisa mencapai Rp 500.000.
"Bayangin, bisa sampai Rp 4 ribu, sampai Rp 5 ribu. Jadi jika misalnya 10 liter, itu sudah bisa Rp 50 ribu, alias 100 liter, Rp 500 ribu. Kumpulin aja itu," ujar Yoga.
Selain menghasilkan cuan, pengumpulan minyak jelantah juga membantu mengurangi akibat terhadap lingkungan. Minyak jejak nan dibuang sembarangan ke saluran air dapat mencemari lingkungan dan mengganggu ekosistem.
Alih-alih menjadi limbah, minyak jelantah nan dikumpulkan kemudian dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku energi. Pertamina mengolahnya menjadi bahan bakar nabati, salah satunya Sustainable Aviation Fuel (SAF) alias bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
"Daripada dibuang ke saluran air, ngerusak ekosistem, ini kelak bisa jadi bahan-bakar nabati. Kalau di Pertamina itu istilah kerennya ada bioavtur, namanya sustainable aviation fuel," tutur Yoga.
Sementara itu, Sustainable Energy Expert sekaligus pendiri Komodo Water, Shana Fatina, mengatakan skema tersebut merupakan bagian dari konsep ekonomi sirkular. Dalam konsep ini, peralatan nan sebelumnya dianggap sebagai limbah dikumpulkan dan diolah kembali sehingga mempunyai nilai ekonomi.
"Ini seperti sesuatu nan sudah dinantikan sejak dulu.Karena jika dalam proses standar itu, ada sirkular ekonomi. Jadi siapa nan produksi, kemudian kudu ada nan mengolah kembali. Dalam industri minyak jelantah ini, nan bisa dan berkesempatan untuk menjadi off-taker-nya, adalah perusahaan seperti Pertamina," imbuh Shana.
Menurutnya, program pengumpulan minyak jelantah juga dapat membuka kesempatan green jobs, mulai dari pengumpul minyak, pengangkut, hingga pengemudi nan membawa minyak ke pusat pengumpulan.
(ily/ara)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·