Minim Teknologi, Pesawat Tua AS Ini dengan Mudah Masuk dan Keluar dari Iran

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

loading...

TEHERAN - Karena tidak mempunyai teknologi canggih seperti siluman, fitur paling menonjol dari pesawat serang A-10 Warthog terletak pada daya tahannya nan luar biasa, nan memungkinkannya untuk terus terbang apalagi setelah terkena tembakan hebat.


Dalam konvensi pers pada tanggal 19 Maret, Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dane Caine, menyatakan bahwa pesawat tempur A-10 Warthog memainkan peran kunci di Selat Hormuz.

"Pesawat A-10 Warthog saat ini dikerahkan di Iran, bekerja untuk memburu dan menghancurkan kapal serang berkecepatan tinggi nan beraksi di Selat Hormuz," kata Jenderal Caine dalam konvensi pers Pentagon.

Kemunculan pesawat tempur ini di Iran merupakan kejutan lantaran Angkatan Udara AS telah merencanakan untuk mengganti pesawat A-10 mereka sejak tahun 1980-an.

Namun, A-10 Warthog tetap mendapat support dariKongresAS, nan meminta agar Angkatan Udara AS terus mempertahankan setidaknya 103 pesawat A-10.

Pesawat A-10 Warthog dikembangkan pada akhir tahun 1960-an, di tengah perlombaan senjata "terselubung" antara Angkatan Darat dan Angkatan Udara AS dalam program support udara, dan mulai beraksi pada tahun 1976.

Dirancang unik untuk misi support udara jarak dekat (CAS), A-10 menerima support antusias tidak hanya dari pilot dan pasukan darat tetapi juga dari Kongres AS, nan bersikeras untuk melakukan uji terbang tempur untuk membuktikan bahwa F-35 belum bisa sepenuhnya menggantikan mesin penghancur tank ini.

Perbedaan mendasar terletak pada filosofi kreasi dan doktrin pertempuran. F-35 mempunyai teknologi siluman tercanggih dan avionik mutakhir untuk pertempuran udara dan penetrasi jarak jauh. Namun, desainnya dengan perspektif tajam dan permukaan kontrol nan dikendalikan komputer membuatnya kurang efektif saat terbang di ketinggian rendah untuk memantau sasaran lokal.

Selain itu, menjalankan misi rawan nan rentan terhadap tembakan anti-pesawat dari darat dengan F-35 nan harganya mencapai$135 jutadianggap sebagai akibat finansial nan sangat besar. Ditambah lagi, meriam 25mm F-35 hanya dapat membawa 182 butir amunisi, jumlah nan sangat sedikit dibandingkan dengan persenjataan besar nan selalu dibawa A-10 dalam setiap misinya.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews