Setiap kali mendengar istilah Baby Boomers, Milenial, alias Generasi Z, kita nyaris selalu membayangkan karakter tertentu. Baby Boomers dianggap konservatif, menjunjung pengalaman, dan condong berhati-hati. Milenial dikenal lebih adaptif terhadap perubahan, sedangkan Gen Z dipersepsikan kreatif, inovatif, dan tumbuh berbareng teknologi digital.
Pengelompokan tersebut memang mempunyai dasar dalam kajian sosiologi lantaran setiap generasi dibentuk oleh konteks sejarah nan berbeda. Namun, persoalan muncul ketika kategori generasi berubah menjadi stereotip nan dianggap bertindak bagi setiap individu.
Realitas menunjukkan sesuatu nan jauh lebih kompleks. Tidak sedikit orang nan secara usia tetap tergolong milenial alias apalagi Gen Z, tetapi mempunyai langkah berpikir nan justru lebih dekat dengan stereotip generasi nan lebih tua. Mereka susah menerima pendapat baru, menolak perubahan tanpa terlebih dulu memahaminya, menganggap pengalaman pribadi sebagai ukuran absolut kebenaran, serta merasa pendapat orang nan lebih muda tidak layak dipertimbangkan.
Sebaliknya, banyak pula mereka nan telah memasuki usia lanjut justru tetap haus belajar, terbuka terhadap kritik, dan bisa mengikuti perubahan era tanpa kehilangan kebijaksanaannya.
Fenomena ini mengajarkan satu perihal penting: usia kronologis tidak selalu melangkah seiring dengan usia intelektual. Bertambahnya umur memang menambah pengalaman, tetapi tidak otomatis membikin seseorang menjadi lebih terbuka, lebih bijaksana, alias lebih siap menghadapi perubahan.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran sosiolog Karl Mannheim dalam esainya *The Problem of Generations* (1928). Mannheim menjelaskan bahwa setiap generasi memang dibentuk oleh pengalaman sejarah nan sama sehingga mempunyai kecenderungan langkah pandang tertentu. Namun, dia juga menegaskan bahwa individu-individu dalam generasi nan sama dapat berkembang menjadi pribadi nan sangat berbeda lantaran dipengaruhi oleh pendidikan, lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan proses pembelajaran nan tidak sama. Dengan kata lain, generasi menjelaskan kecenderungan, bukan kepastian.
Jika menoleh ke belakang, sejarah memperlihatkan bahwa tumbukan antargenerasi bukanlah kejadian baru. Ia merupakan pola nan terus berulang dalam perjalanan peradaban manusia. Hampir setiap era memperlihatkan pertarungan antara mereka nan mau mempertahankan kemapanan dengan mereka nan mendorong perubahan. nan berubah hanyalah aktornya, sedangkan pola dasarnya relatif tetap.
Indonesia mempunyai contoh nan sangat jelas melalui Peristiwa Rengasdengklok pada Agustus 1945. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, golongan pemuda mendesak agar Proklamasi Kemerdekaan segera dilaksanakan. Mereka cemas momentum sejarah bakal lenyap andaikan Indonesia terlalu lama menunggu. Di sisi lain, Soekarno dan Mohammad Hatta nan saat itu dikategorikan sebagai golongan tua memilih pendekatan nan lebih hati-hati lantaran mempertimbangkan akibat politik dan keamanan.
Perbedaan tersebut sering dipahami sebagai bentrok antara golongan muda dan golongan tua. Padahal, inti persoalannya bukan sekadar perbedaan usia, melainkan perbedaan langkah membaca perubahan. Kelompok muda memandang keberanian sebagai tuntutan sejarah, sedangkan golongan tua menilai kehati-hatian sebagai corak tanggung jawab politik. Pada akhirnya, kedua pendekatan itu justru saling melengkapi dan mengantarkan Indonesia menuju Proklamasi 17 Agustus 1945.
Pola nan sama dapat ditemukan dalam beragam peristiwa besar dunia. Revolusi Prancis memperlihatkan gimana generasi baru mempertanyakan legitimasi tatanan lama nan telah beratus-ratus tahun dianggap tidak dapat diganggu gugat. Gelombang demonstrasi mahasiswa pada 1968 di beragam negara kembali menunjukkan keberanian generasi muda menantang struktur sosial dan politik nan mapan. Di Indonesia, Reformasi 1998 menjadi contoh gimana mahasiswa tampil sebagai motor perubahan ketika rezim Orde Baru dipandang tidak lagi bisa menjawab tuntutan zaman.
Ketiga peristiwa tersebut terjadi pada ruang dan waktu nan berbeda, tetapi mempunyai pola nan serupa. Perubahan besar nyaris selalu diawali oleh tumbukan pendapat antara golongan nan mempertahankan status quo dan golongan nan menawarkan langkah pandang baru. Dalam banyak kasus, tumbukan itu kemudian diterjemahkan sebagai tumbukan antargenerasi.
Filsuf sains Thomas S. Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolutions (1962) menunjukkan bahwa perubahan besar dalam pengetahuan pengetahuan nyaris selalu lahir melalui tumbukan paradigma. Paradigma lama dipertahankan lantaran dianggap telah terbukti, sedangkan paradigma baru sering kali dipandang sebagai ancaman. Meskipun Kuhn berbincang mengenai perkembangan pengetahuan pengetahuan, pola tersebut juga tampak dalam kehidupan sosial. Penolakan terhadap perubahan tidak selalu disebabkan oleh lemahnya pendapat baru, melainkan lantaran manusia condong merasa nyaman dengan langkah berpikir nan telah lama dikenalnya.
Jauh sebelum Mannheim maupun Kuhn, Ibn Khaldun dalam *Muqaddimah* telah mengawasi bahwa setiap peradaban bergerak dalam siklus. Generasi pendiri biasanya lahir dari situasi penuh tantangan sehingga mempunyai semangat juang nan tinggi. Ketika kemapanan tercapai, muncul kecenderungan untuk mempertahankan keadaan nan ada. Pada saat itulah generasi baru kembali datang membawa daya perubahan. Gagasan Ibn Khaldun mengingatkan bahwa tumbukan antargenerasi bukanlah anomali, melainkan bagian dari dinamika sejarah manusia.
Namun, ada satu perihal nan sering luput dari perhatian. nan sesungguhnya menjadi persoalan bukanlah usia, melainkan kekakuan berpikir.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tetap sering mendengar kalimat, "Kamu tetap muda, belum banyak makan masam garam kehidupan." Tidak dapat dimungkiri bahwa pengalaman memang memberikan pelajaran nan berharga. Pengalaman membantu seseorang memahami risiko, mengambil keputusan dengan lebih hati-hati, dan memandang persoalan dari beragam sudut.
Akan tetapi, pengalaman tidak identik dengan kebijaksanaan.
Ketika pengalaman dijadikan satu-satunya sumber kebenaran, dia justru dapat berubah menjadi penghalang bagi pembelajaran. Senioritas digunakan untuk mengakhiri diskusi, bukan memperkaya percakapan. Kritik dianggap sebagai corak pembangkangan. Gagasan baru ditolak sebelum diuji. Pada titik inilah seseorang mulai terjebak dalam mentalitas status quo, berapa pun usia nan tertera di kartu identitasnya.
Karena itu, seseorang dapat saja lahir sebagai milenial, tetapi mempunyai langkah berpikir nan lebih dekat dengan stereotip Baby Boomers. Sebaliknya, seorang Baby Boomer dapat tetap berpikiran progresif lantaran tidak pernah berakhir belajar. Tahun kelahiran tidak otomatis menentukan langkah seseorang memandang dunia.
Sejarah telah acapkali menunjukkan bahwa setiap generasi mempunyai kekuatan sekaligus keterbatasannya masing-masing. Generasi muda membawa keberanian mempertanyakan kemapanan, sedangkan generasi nan lebih tua menawarkan pengalaman agar perubahan tidak kehilangan arah. nan dibutuhkan bukanlah saling merendahkan, melainkan kesediaan untuk saling belajar.
Pada akhirnya, nan diwariskan antargenerasi bukan hanya pengetahuan, tetapi juga langkah berpikir. Dan ketika seseorang berakhir belajar, menutup diri terhadap pendapat baru, serta merasa dirinya selalu benar, pada saat itulah dia mulai menjadi bagian dari status quo—tidak peduli apakah dia lahir sebagai Baby Boomer, Milenial, ataupun Generasi Z.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·