Metode Makan 'Makan Besar dan Puasa' Munculkan Perilaku Alami Singa di Kebun Binatang

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Metode Makan 'Makan Besar dan Puasa' Munculkan Perilaku Alami Singa di Kebun Binatang ilustrasi(Magnific)

SEBUAH studi terbaru nan dilakukan peneliti dari University of Adelaide bekerja sama dengan Monarto Safari Park menemukan bahwa menerapkan pola makan "makan besar dan puasa" (feast-and-fast) dengan memberikan buntang hewan utuh dapat memicu perilaku alami singa Afrika di kebun binatang. Metode ini terbukti mendorong pola perilaku nan jauh lebih mirip dengan kehidupan mereka di kediaman liar.

Riset nan dipublikasikan dalam jurnal Applied Animal Behaviour Science ini mengawasi respons golongan singa jantan dewasa ketika petugas memberikan buntang hewan utuh setiap sembilan hari sekali. Pemberian pakan tersebut dipadukan dengan siklus puasa dan rehat selama beberapa hari. Menggunakan pemantauan kamera inframerah selama 24 jam penuh selama tiga bulan, para peneliti mencatat info mendetail mengenai perubahan pola aktivitas harian satwa tersebut.

"Singa liar tidak makan pada waktu nan sama setiap hari. Mereka mengalami periode alami makan besar dan berpuasa tergantung pada keberhasilan berburu," kata Lesia Hryhorenko, penulis utama studi dari School of Animal and Veterinary Sciences, University of Adelaide. 

"Kami mau memahami gimana singa Afrika dalam perawatan manusia merespons ketika rutinitas pemberian makan dibuat lebih menyerupai pola alami tersebut."

Dalam tahap eksperimen, tim merawat tiga singa jantan dewasa dengan menyediakan sekitar 200 kilogram buntang hewan utuh nan dapat diakses selama hingga tiga hari. Setelah masa makan besar selesai, siklus dilanjutkan dengan periode puasa dan pencernaan.

Hasil pengamatan menunjukkan aktivitas makan meningkat drastis pada hari pemberian bangkai. Singa menghabiskan waktu nyaris tiga kali lebih lama untuk makan dibandingkan dengan metode pemberian pakan konvensional. Mereka tampak lebih aktif mencabik, menarik, dan mengolah makanan, nan mencerminkan ragam perilaku makan alami mereka di alam liar.

Setelah kenyang, singa-singa tersebut menghabiskan lebih banyak waktu untuk berebahan dan beristirahat. Seiring berjalannya periode puasa, tingkat pergerakan mereka kembali meningkat secara bertahap, menciptakan ritme biologis harian nan serupa dengan populasi singa liar.

"Memberikan buntang utuh mengubah jauh lebih banyak perihal daripada sekadar kandungan nutrisi dalam makanan," ujar Hryhorenko. "Metode ini memberi kesempatan bagi singa untuk terlibat dalam perilaku seperti mencabik, menarik, dan mengolah makanan dalam jangka waktu nan lebih lama, nan merupakan komponen krusial dari ekologi makan alami mereka."

Peneliti juga mencatat tidak ada peningkatan agresi alias ketidakstabilan sosial di antara singa-singa tersebut selama penelitian berlangsung. Profesor Madya Alexandra Whittaker, ko-penulis studi tersebut, menyoroti pentingnya pemantauan berkepanjangan jangka panjang dalam mengevaluasi praktik pengelolaan dan kesejahteraan satwa. Menurutnya, hasil studi ini menunjukkan bahwa agenda pemberian makan dapat memengaruhi perilaku satwa hingga beberapa hari setelahnya, sehingga krusial untuk memandang pola perilaku di seluruh siklus pemberian pakan. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia