Jakarta -
PT Kereta Api Indonesia (Persero) alias KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero) alias INKA memulai proses integrasi strategis sejak Selasa 21 Juli 2026. Kedua perusahaan melakukan kick off integrasi perusahaan tersebut.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh jejeran Danantara Asset Management, dewan KAI dan INKA, tim Project Management Office alias PMO, konsultan, serta jejeran ketua kedua perusahaan. Integrasi diarahkan untuk menyelaraskan proyeksi kebutuhan jasa kereta api dengan keahlian industri manufaktur nasional.
Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management Desty Arlaini mengatakan, proses integrasi perlu diawali dengan kesamaan visi dari seluruh jejeran ketua dan insan kedua perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seluruh ketua perlu mempunyai visi nan sama, membangun nilai bersama, dan menempatkan kebutuhan pengguna sebagai orientasi utama. KAI dan INKA kudu menjadi satu tim nan saling menghormati kompetensi masing-masing," ujar Desty dalam keterangan resmi KAI, Rabu (22/7/2026).
Sebelumnya, KAI sempat menyatakan merger dengan INKA bakal rampung tahun ini. Setelah merger, KAI bakal berkedudukan sebagai holding alias perusahaan induk. Sementara INKA menjadi sub holding.
Kebutuhan 156 KRL
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, integrasi KAI dan INKA membuka kesempatan besar bagi pengembangan industri manufaktur kereta api Indonesia. Kebutuhan sarana dalam jangka panjang memerlukan perencanaan nan semakin terhubung antara KAI sebagai operator dan INKA sebagai produsen.
Salah satu potensi terbesar berasal dari kebutuhan Kereta Rel Listrik alias KRL. Berdasarkan kalkulasi awal KAI, kebutuhan KRL hingga 2040 diproyeksikan mencapai sekitar 156 rangkaian.
Proyeksi tersebut menunjukkan besarnya ruang pengembangan bagi industri manufaktur nasional. Pemenuhannya memerlukan peningkatan kapabilitas produksi secara bertahap, penguatan penguasaan teknologi, kepastian kualitas, serta keselarasan antara kebutuhan operator dan keahlian produsen.
"Kebutuhan sekitar 156 rangkaian KRL hingga 2040 memberikan gambaran besarnya kesempatan pengembangan industri ini. Angka tersebut belum mencakup kebutuhan Kereta Rel Diesel, sarana kereta api jarak jauh, lokomotif, serta sarana untuk jasa barang," kata Bobby.
Menurut Bobby kesempatan tersebut menjadi salah satu argumen KAI mendukung proses integrasi dengan INKA. Hubungan nan semakin terkoordinasi antara operator dan produsen diharapkan dapat memperkuat kepastian kebutuhan, kesiapan produksi, serta pengembangan sarana nan sesuai dengan karakter jasa di Indonesia.
Sejumlah negara dengan industri kereta api maju juga membangun keterhubungan nan kuat antara operator dan perusahaan manufaktur. Model tersebut membantu menyelaraskan proyeksi kebutuhan sarana, pengembangan teknologi, standardisasi produk, dan kapabilitas produksi dalam jangka panjang.
"KAI sangat mendukung integrasi ini lantaran dampaknya berangkaian langsung dengan jasa masa depan. Semakin kuat industri manufaktur nasional, semakin besar keahlian kita menyediakan sarana nan aman, andal, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujar Bobby.
Bobby menambahkan, manufaktur bakal menjadi bagian krusial dalam pengembangan ekosistem upaya KAI. Integrasi ini memberi ruang bagi kedua perusahaan untuk menyusun proyeksi kebutuhan secara lebih terukur sekaligus meningkatkan daya saing produk kereta api buatan Indonesia.
Perkuat Industri
Sementara itu, Direktur Utama PT INKA (Persero) Bambang Jatmika mengatakan, kick-off tersebut menjadi tonggak krusial dari rencana integrasi nan telah dibahas selama beberapa tahun. Integrasi bakal mempertemukan pengalaman KAI dalam memahami kebutuhan operasional dengan kompetensi INKA dalam desain, rekayasa, dan produksi sarana.
"Integrasi ini menjadi bagian dari cita-cita membangun industri kereta api nasional nan kuat. KAI dan INKA mempunyai peran nan saling berkaitan, mulai dari pemetaan kebutuhan sarana hingga produksi nan mendukung pelayanan kepada masyarakat," ujar Bambang.
Menurut Bambang, koordinasi nan semakin erat bakal membantu kedua perusahaan menyelaraskan proyeksi kebutuhan, perencanaan produksi, agenda pengujian, proses serah terima, pengembangan teknologi, dan peningkatan kualitas produk.
Integrasi tersebut diharapkan memperkuat kapabilitas industri nasional dalam memenuhi kebutuhan sarana secara lebih terencana serta mengikuti perkembangan jasa kereta api di beragam wilayah Indonesia.
"Sinergi KAI dan INKA diharapkan memperkuat industri manufaktur kereta api nasional serta menghasilkan produk nan aman, andal, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," tutup Bambang.
(hal/ara)
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·