Merawat Mimpi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi para pekerja Indonesia (Digambar dengan AI)

Banyak nan mengatakan bahwa ekonomi Indonesia dalam keadaan nan tidak sedang baik-baik saja. Pendapat ini nampaknya tidak keliru jika kita merujuk kepada beberapa aspek, misalnya kondisi rupiah nan hingga hari ini tetap dalam tekanan nan cukup dalam.

Menurut para ahli, melemahnya nilai tukar rupiah belakangan ini bukan hanya disebabkan oleh aspek eksternal nan selama ini kerap dituding menjadi aspek penyumbang utama atas menurunnya nilai tukar rupiah, tetapi juga diakibatkan oleh aspek internal, ialah esensial ekonomi kita.

Seperti nan diutarakan oleh master ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Imron Mawardi S P M Si nan mengatakan “selain aspek eksternal, aspek internal juga berkontribusi, ketidakstabilan politik dan ekonomi domestik, seperti penurunan nilai komoditas dan kebijakan nan tidak konsisten, membikin penanammodal merasa ragu dan menarik investasinya, perihal itu memicu tekanan pada nilai tukar rupiah.”

Senada dengan Prof Imron, pengajar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dr. rer. pol. Deniey Adi Purwanto menyatakan "salah satu aspek utama pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS saat ini adalah kekhawatiran penanammodal terhadap kebijakan fiskal pemerintah, rencana pemerintah untuk meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) nan menelan anggaran besar, memicu kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal Indonesia."

Tentu banyak parameter nan menggambarkan realitas ekonomi kita sekarang ini, namun saya rasa keterangan di paragraf awal bisa menjadi referensi dasar untuk kita agar segera berbenah demi memperbaiki ekonomi. Tentu melalui langkah-langkah kebijakan ekonomi nan konkret dan tepat, lantaran jika perihal ini dibiarkan berlarut-larut, maka dikhawatirkan bakal berakibat semakin buruknya perekonomian Indonesia.

Sebetulnya, sebelum nilai tukar rupiah tertekan seperti sekarang ini, sudah terdapat tanda-tanda awal bahwa ada persoalan cukup serius mengenai realitas sosial ekonomi nan terjadi pada masyarakat kita saat ini, ialah tentang penyusutan kelas menengah. Berdasarkan laporan Mandiri Institute bartajuk ‘Demographic Insight Dinamika kelas menengah di 2025’ nan dirilis pada Februari 2026, jumlah masyarakat kelas menengah menyusut 1,2 juta jiwa dari 47,9 juta jiwa pada 2024 menjadi 46,7 juta.

Dengan nomor penurunan ini, maka proporsi kelas menengah tergerus dari posisi 17,1 persen pada 2024 menjadi 16.6 persen pada 2025, senada dengan laporan di atas, sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timnoel Siregar menyatakan bahwa penurunan kelas menengah terjadi seiring terbatasnya pembuatan lapangan kerja formal.

Selain penyusutan kelas menengah, kita juga sedang dihadapkan kepada menurunnya lapangan pekerjaan formal, seperti nan tertuang di dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa porsi pekerja umum di Indonesia kembali mengalami penurunan pada Februari 2026 persentase pekerja umum sekarang berada di nomor 40,58 persen, menyusut dari 40,60 persen pada periode nan sama tahun lalu.

Gambaran di atas mengenai pelemahan nilai mata duit rupiah, penyusutan kelas menengah hingga minimnya kesiapan lapangan pekerjaan umum adalah sebuah potret nyata tentang situasi ekonomi negara kita, anak-anak muda kita betul-betul sedang menghadapi realita pahit nan mesti mereka telan, nan mana generasi-generasi sebelumnya tidak mengalami perihal sepahit ini.

Pada masa-masa sebelumnya pertumbuhan ekonomi kita cukup bagus apalagi pernah sempat menyentuh hingga 8% (pada era pemerintahan Presiden Soeharto) nan berfaedah bahwa pembuatan lapangan pekerjaan untuk sektor umum demikian besar sehingga bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah nan banyak.

Kendati situasi ekonomi nan cukup berat, kita tidak boleh patah arang apalagi pesimis memandang dan merasakan sendiri kondisi susah sekarang ini, angan dan mimpi untuk hidup nan lebih baik kudu tetap dijaga apalagi dirawat agar kesempatan datang menerpa, maka dari itu mempersiapkan diri dengan langkah mengembangkan keahlian adalah perihal nan patut dilakukan terlebih akses pengetahuan pengetahuan sekarang ini sudah sangat mudah didapatkan.

Mengerutu dan mengeluh atas kondisi ekonomi nan terjadi sekarang ini adalah dua perihal nan manusiawi namun yakinlah perihal itu tidak bakal menjadi solusi atas situasi nan sedang berbareng kita hadapi, namun sebaliknya situasi dan kondisi krisis kudu menjadi bahan refleksi bagi kita untuk mengevaluasi diri agar kita semakin menjadi pribadi nan berdikari dan terus mempersiapkan diri sehingga bukan hanya menanti kesempatan untuk datang, justru bisa menciptakan kesempatan di saat krisis sekalipun.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan