Menyibak Jejak Perlawanan di Lembaran Naskah Sejarah

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Budaya perlawanan telah menjadi semangat nan menginspirasi lahirnya negara Republik Indonesia. Perlawanan tidak melulu diartikan mengangkat senjata dan berperang, lebih dari itu, perlawanan adalah akar peradaban orang Indonesia nan pantang menyerah dan teguh dalam pendirian.

Semangat itu nan kemudian dipotret menjadi sebuah gelaran pameran bertajuk 'Jejak Perlawanan, Akar Peradaban', nan digelar di Grha Literasi Bangunan Cagar Budaya (BCB) Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas sepanjang Agustus 2026. Pameran tersebut dikurasi dalam tiga sub tema, ialah Sosok Perlawanan, Budaya Perlawanan dan Peristiwa Perlawanan.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto menyampaikan, kemerdekaan adalah buah dari perjalanan sejarah nan panjang, dari keberanian, keteguhan, pengorbanan, dan semangat perlawanan nan telah tumbuh jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kemerdekaan nan kita nikmati hari ini bukanlah sebuah bingkisan nan datang tiba-tiba. Jejak-jejak ini tidak hanya tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat, tetapi juga terekam dalam beragam sumber pengetahuan di Perpusnas," katanya.

Ia mengatakan, melalui pameran ini, visitor diajak untuk memandang kembali perjalanan sejarah melalui lembaran-lembaran naskah nan menjadi saksi perkembangan peradaban bangsa.

Sejumlah koleksi ditampilkan dalam pameran tersebut, di antaranya Kitab Sutasoma, Babad Untung Surapati, Gebug Buleleng, Babad Giyanti, Babad Mataram, serta naskah Jihad Aceh. Naskah-naskah tersebut menyimpan beragam kisah mengenai kekuasaan, konflik, nilai kepahlawanan dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Salah satunya Babad Untung Surapati, merupakan koleksi Naskah Nusantara dengan berkode KBG 432 nan merekam perjalanan dan perjuangan Untung Surapati menghadapi VOC.

"Tidak hanya naskah kuno, pameran juga menampilkan beragam koleksi langka, dan koleksi monograf mutakhir nan memberikan perspektif serta pemahaman baru terhadap beragam peristiwa sejarah serta dinamika masyarakat Indonesia," katanya.

Ia berambisi pameran ini tidak hanya menjadi ruang untuk memandang koleksi-koleksi berhistoris tetapi menjadi ruang perbincangan antara masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang.

"Dalam semangat memperingati 81 tahun Kemerdekaan RI, marilah kita jadikan momentum untuk meneguhkan kembali kecintaan kita kepada bangsa dan tanah air," harapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Jasa Informasi dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara), Yeri Nurita, menjelaskan, untuk memberikan alur pemahaman nan lebih utuh, materi pameran dilakukan kurasi dalam tiga sub tema, yakni Sosok Perlawanan, Budaya Perlawanan, dan Peristiwa Perlawanan.

Pada subtema Sosok Perlawanan, visitor dapat mengenal sejumlah tokoh dari beragam latar belakang nan mempunyai peran dalam sejarah perjuangan masyarakat Nusantara, di antaranya Syekh Yusuf al-Makassari, Pangeran Diponegoro, dan Untung Surapati.

Sementara itu, Budaya Perlawanan memperlihatkan peran sastra, hikayat, kidung, doa, dan aliran keagamaan dalam membentuk keberanian, solidaritas, identitas, serta nilai-nilai perjuangan masyarakat. Adapun Peristiwa Perlawanan menghadirkan beragam peristiwa krusial dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk pertempuran, strategi diplomasi, perjanjian, serta kesaksian para pelaku sejarah.

Ia menjelaskan, koleksi dalam pameran ini terbagi dalam tiga golongan utama, ialah Koleksi Naskah Nusantara, Koleksi Monograf Langka, dan Koleksi Monograf Mutakhir.

"Lebih dari 50 koleksi ditampilkan dalam beragam bentuk, mulai dari naskah kuno, surat berita terjilid, foto terjilid hingga peta lama," jelasnya.

Lebih lanjut, Yeri menambahkan, pameran 'Jejak Perlawanan, Akar Peradaban' tidak hanya digelar di satu lokasi. Penyajian koleksi juga didukung oleh Pameran di lantai 4 Ruang Pameran, dan lantai 16 Layanan Koleksi Foto, Peta, dan Lukisan.

Tidak hanya pameran, Perpusnas juga menggelar beragam aktivitas pendukung sepanjang Agustus 2026 untuk memperluas keterlibatan masyarakat. Di antaranya Puspa Pemustaka Seri 38 dan 39, rangkaian kelas literasi anak, librarian talk, kelas literasi budaya nusantara, kelas literasi aksara Jawa dan lontara Bugis.

"Pameran ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap koleksi Perpusnas, meningkatkan literasi sejarah dan budaya, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa perjalanan kemerdekaan Indonesia merupakan bagian dari proses panjang nan diwariskan oleh generasi sebelumnya," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita