Di luar tiga makanan tersebut, katanya, ada menu paling menarik dalam setiap sesi makan berbareng Presiden Prabowo. Tidak pernah tercantum di kitab menu alias terlihat di meja makan.
'Chef'-nya juga bukan jurumasak Istana alias jurumasak pribadi Presiden. Melainkan R.M. Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia (BNI), personil BPUPKI nan juga kakek Prabowo.
"Dari beliau, dan dari guru-guru nan ditemuinya sepanjang hidup, Presiden Prabowo menyerap banyak falsafah Jawa nan kemudian menjadi fondasi langkah berpikirnya, dan fondasi caranya membikin keputusan. Hampir tidak ada sesi makan berbareng nan saya lalui berbareng Presiden Prabowo tanpa pulang membawa pelajaran baru," kata Yuza mengenang.
Salah satu pelajaran nan paling sering muncul adalah becik ketitik ala ketara: nan baik bakal terlihat, nan jelek bakal terungkap.
"Saat menghadapi tuduhan alias tuduhan nan tidak benar, Presiden sering mengingatkan bahwa kebenaran mempunyai langkah untuk menemukan jalannya sendiri, meski tidak sigap apalagi instan," tegas Yuza.
Wejangan berikutnya, adalah sabdo pandito ratu nan berfaedah ucapan seorang pemimpin adalah janji. Karena itu, katanya, Prabowo selalu mengingatkan untuk selalu berhati-hati dengan janji-janji nan disampaikan kepada publik.
"Prinsip berikutnya adalah rame ing gawe, sunyi ing pamrih alias banyaklah bekerja, sedikitlah menuntut imbalan. Mungkin inilah salah satu prinsip nan paling sering saya dengar darinya. Fokuslah pada pekerjaan, bukan pada mendapatkan pujian," pesan Yuza.
Yuza melanjutkan, Presiden juga sering mengingatkan ojo dumeh alias jangan sombong lantaran jabatan, kekuasaan, alias keberhasilan. Alasannya, keadaan dapat berubah kapan saja.
"Berpasangan dengan ojo dumeh adalah ojo ngoyo alias jangan memaksakan kehendak di luar kemampuan. Ambisi penting, tetapi kudu disertai kalkulasi keahlian nan matang," wanti Yuza.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·