Menteri Kebudayaan Dorong Kolaborasi Teknologi dan Kebudayaan lewat Karya Raya FTUI 2026

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Menteri Kebudayaan Dorong Kolaborasi Teknologi dan Kebudayaan lewat Karya Raya FTUI 2026 Menteri Kebudayaan Fadli Zon (tengah).(Dok spesial )

MENTERI Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon.) Dr. Fadli Zon, menekankan pentingnya kolaborasi antara kebudayaan dan teknologi dalam memajukan kebudayaan Indonesia. Menurutnya, hilirisasi kebudayaan juga memerlukan keterlibatan pengetahuan pengetahuan, teknologi, engineering, dan matematika (STEM). Hal tersebut disampaikan Fadli Zon dalam Public Lecture pada pembukaan Pagelaran Budaya “Karya Raya FTUI 2026” di Auditorium K.301 Adi Karsa Keteknikan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Selasa (11/8).

“Pemajuan kebudayaan memerlukan kerjasama beragam bagian keilmuan, termasuk STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Teknologi dapat membuka banyak ruang untuk mengembangkan kebudayaan, mulai dari kepintaran artifisial, teknologi digital, desain, arsitektur, hingga produksi seni dan budaya,” ujar Fadli dikutip dari siaran pers, Jumat (14/11).

Pandangan tersebut relevan dengan penyelenggaraan Karya Raya FTUI 2026 nan mempertemukan engineering, innovation, dan culture. Melalui aktivitas ini, FTUI menghadirkan kebudayaan tidak hanya sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara karya, teknologi, inovasi, dan nilai-nilai budaya Indonesia.

Ia berambisi Karya Raya dapat berkembang sebagai bagian dari ekosistem seni dan budaya Indonesia. Menurutnya, aktivitas seperti Karya Raya dapat membuka ruang kerjasama antara bumi seni, budaya, teknologi, dan pendidikan.

Sejalan dengan perihal tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Indonesia, Prof. Ir. Mahmud Sudibandriyo, menyampaikan bahwa di tengah transformasi digital dan perkembangan teknologi, nilai-nilai budaya menjadi fondasi agar penemuan tetap berorientasi pada kemanusiaan, keberlanjutan, dan kepentingan masyarakat.

“Universitas Indonesia meyakini bahwa perguruan tinggi tidak hanya bekerja menghasilkan lulusan nan unggul dan penemuan nan berkualitas, tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk merawat kebudayaan, memperkuat karakter bangsa, serta menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan nan bisa menjawab tantangan masa depan,” tutur Prof. Mahmud.

Sementara itu, Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, menyampaikan bahwa teknologi dan budaya tidak dapat dipandang sebagai dua perihal nan melangkah sendiri-sendiri. Perkembangan teknologi perlu tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan kepentingan masyarakat.

"Teknologi lahir dari budaya, memengaruhi budaya, dan pada saat nan sama kudu bisa memberi faedah bagi manusia dan masyarakat. Inilah semangat nan mau kami bangun melalui Karya Raya FTUI 2026,” jelas Prof. Kemas.

Menurutnya, semangat tersebut juga tercermin dalam pembentukan insan teknik nan tidak hanya menguasai teknologi, tetapi mempunyai karakter, kreativitas, dan kepedulian terhadap budaya. 

“Bagi kami, menjadi insan teknik tidak cukup hanya dengan menguasai teknologi nan hebat. Kami juga mau membangun manusia dan lingkungan akademik nan mempunyai karakter, kreativitas, kepedulian terhadap budaya, serta bisa memberikan faedah bagi masyarakat,” pungkasnya.

Pagelaran Budaya “Karya Raya FTUI 2026” merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis FTUI ke-62.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk merayakan karya sekaligus memperkuat apresiasi terhadap keberagaman budaya Indonesia. Rangkaian Karya Raya menghadirkan beragam aktivitas nan mempertemukan karya dan ekspresi sivitas akademika, antara lain pameran budaya, pameran penemuan dan industri, serta pagelaran seni.

Salah satu pagelaran nan dihadirkan dalam Karya Raya FTUI 2026 adalah pentas tari Papua oleh CEP CCIT, nan membawakan lagu Mambo Simbo, Dibaye Dibayo, dan Apuse. Penampilan tersebut menggambarkan kekayaan budaya dan semangat kebersamaan masyarakat Papua. Mambo Simbo menghadirkan keceriaan dan kekompakan, Dibaye Dibayo mencerminkan persatuan, gotong royong, dan rasa syukur, sedangkan Apuse membawa pesan tentang kasih sayang family dan perpisahan. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia