Menteri Ekraf Buka-bukaan soal Potensi Ekonomi dari Aplikasi Digital

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya mengatakan aplikasi digital sekarang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Teuku Riefky juga mengungkapkan potensi ekonomi dari aplikasi.

"Kita bekerja melalui aplikasi, belajar melalui aplikasi, bertransaksi, menikmati hiburan, apalagi membangun upaya melalui aplikasi," kata Teuku Riefky saat memberikan sambutan pada Indonesia Application Summit (InApps) 2026 mengutip Antara, Senin (14/9).

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan industri aplikasi tidak sekadar berangkaian dengan perkembangan teknologi, tetapi telah menjadi bagian krusial dari masa depan ekonomi digital Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena itu, ketika kita berbincang mengenai industri aplikasi, sesungguhnya kita sedang berbincang mengenai masa depan ekonomi digital Indonesia," ujarnya.

Ia mengatakan perkembangan kepintaran buatan menghadirkan kesempatan nan semakin besar bagi industri aplikasi di Indonesia. Namun, kemajuan teknologi tersebut kudu melangkah seiring dengan penerapan etika dan tata kelola nan baik.

Teuku Riefky mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menempatkan ekonomi imajinatif sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kebijakan tersebut diterjemahkan melalui Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045.

Rindekraf melibatkan sekitar 24 kementerian dan lembaga dalam pelaksanaannya dengan tujuan memperkuat pengembangan ekonomi imajinatif secara nasional serta mendukung pemerintah daerah.

"Di dalam Rindekraf ini ada 21 subsektor ekonomi kreatif. Ada nan berbasis kebudayaan, desain, teknologi digital dan media. Dari 21 subsektor ini, ada tujuh subsektor ekonomi imajinatif nan menjadi prioritas, termasuk subsektor aplikasi," katanya.

Teuku Riefky menjelaskan jumlah subsektor ekonomi imajinatif meningkat dari sebelumnya 17 menjadi 21 subsektor. Sejumlah subsektor baru berangkaian erat dengan perkembangan teknologi digital, antara lain teknologi baru, konten digital dan pengisi suara.

Menurut dia, subsektor teknologi baru mencakup beragam aktivitas ekonomi imajinatif nan memanfaatkan kepintaran buatan, rantai blok, internet untuk segala, teknologi Web3, info skala besar hingga keamanan siber.

"Ini kita jadikan subsektor tersendiri dan ada direktoratnya sendiri. Begitu juga dengan konten digital nan juga mempunyai direktorat tersendiri," ujarnya.

Teuku Riefky mengatakan perkembangan sektor ekonomi imajinatif tercermin dari besarnya investasi nan masuk. Pada 2025, nilai investasi sektor ekonomi imajinatif mencapai sekitar Rp180 triliun, dengan subsektor aplikasi menjadi salah satu penyumbang investasi terbesar, ialah sekitar Rp54,23 triliun.

Sementara itu, kontribusi ekonomi imajinatif terhadap produk domestik bruto Indonesia saat ini mencapai sekitar 7,38 persen.

Teuku Riefky menyoroti besarnya keterlibatan generasi muda dan wanita dalam sektor ekonomi kreatif. Berdasarkan info nan disampaikan, sekitar 63 persen tenaga kerja sektor tersebut berasal dari generasi Z dan milenial, sementara 58 persen di antaranya merupakan perempuan.

"Jadi sektor ini sangat inklusif dan berkelanjutan. Berkelanjutan lantaran generasi mudanya banyak terlibat, inklusif lantaran wanita di sektor ekonomi imajinatif juga cukup mendominasi," katanya.

Teuku Riefky optimistis sektor ekonomi kreatif, termasuk subsektor aplikasi, dapat terus memberikan kontribusi terhadap sasaran pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut dia, aplikasi mempunyai posisi strategis lantaran menjadi tempat bertemunya beragam ekosistem digital. Ketika sebuah aplikasi berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan pengembang, tetapi juga mendorong pembuatan lapangan kerja, investasi dan peningkatan daya saing bangsa.

"Ketika sebuah aplikasi berkembang, nan tumbuh bukan hanya perusahaan, tetapi juga lapangan kerja, investasi, dan daya saing bangsa," ujarnya.

Namun, Teuku Riefky mengingatkan pengembangan industri aplikasi menghadapi tantangan, terutama meningkatnya kebutuhan talenta digital di tengah perkembangan teknologi nan berjalan sangat cepat.

Karena itu, pemerintah mendorong kerjasama nan lebih erat antara talenta digital, pelaku usaha, penanammodal dan pemerintah, baik di tingkat nasional maupun internasional.

"Kita mau mempertemukan agar hasil karya anak bangsa bisa bekerja-sama dengan teman-teman dari negara-negara sahabat, investor-investor internasional, dan juga bisa masuk ke pasar global," kata Teuku Riefky.

Ia menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi aplikasi dan teknologi dari negara lain. Produk dan penemuan digital karya anak bangsa kudu bisa berkembang, bersaing dan menembus pasar global.

Teuku Riefky mengatakan penyelenggaraan Indonesia Application Summit 2026 merupakan salah satu upaya pemerintah mempertemukan beragam pihak dalam ekosistem industri aplikasi. Menurut dia, InApps tidak hanya menjadi forum untuk berganti gagasan, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun kemitraan dan kerjasama nyata.

Ia berambisi kerjasama antara talenta, bumi usaha, penanammodal dan pemerintah dapat membikin penemuan digital Indonesia tidak berakhir sebagai gagasan, tetapi berkembang menjadi solusi nan memberikan faedah nyata bagi masyarakat.

"Pada akhirnya, keberhasilan kita bakal diukur dari semakin banyaknya aplikasi Indonesia nan bisa berkembang, bersaing, dan menunjukkan kiprahnya di tingkat global," kata Teuku Riefky.

(tim/dal)

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional