Mentan Amran Heran Harga Sawit Malah Anjlok Saat Dolar Tembus Rp18.000

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menilai, tidak ada argumen bagi nilai tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mengalami pelemahan di tengah menguatnya nilai minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dunia, serta tingginya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah.

Menurut Amran, kondisi kurs nan sekarang berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS justru semestinya menjadi sentimen positif bagi komoditas ekspor Indonesia, termasuk kelapa sawit. Karena itu, dia mempertanyakan penurunan nilai TBS nan sempat terjadi setelah pengumuman sistem ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

"Kami sampaikan Alhamdulillah hari ini sepakat tidak ada lagi nilai TBS nan turun. Harus naik seperti kondisi semula. Bahkan jika perlu itu naik lebih tinggi," kata Amran dalam konvensi pers di Kantor Kementan, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Ia menegaskan, pelemahan rupiah semestinya memberikan untung tambahan bagi sektor nan berorientasi ekspor. Dengan selisih nilai tukar nan menurutnya sudah mengalami kenaikan sekitar 10%, nilai TBS di tingkat petani mestinya ikut terdorong naik, bukan justru bergerak ke arah sebaliknya.

"Ini ada anomali, di saat nilai harusnya naik bukan turun. Kenapa? Karena nilai dolar selisih (sudah naik) 10%. Ya TBS juga kudu naik, tidak ada argumen turun. Kenapa turun? Kami tanya, tidak ada nan bisa jawab. Oke kita sepakat semua, tidak ada satupun nan menolak. Ketua asosiasi, perusahaannya hadir, pengusahanya hadir, eksportirnya hadir, semua sepakat nilai kembali seperti semula," ujarnya.

Ia apalagi memperkirakan nilai TBS berpotensi meningkat lebih tinggi dibandingkan level sebelumnya andaikan mempertimbangkan aspek kurs saat ini.

"Harusnya (harga TBS) naik 10% daripada nilai sebelumnya. Karena ada selisih. Nilai dolar sekarang Rp18 ribu. Harusnya momentum ini, kesempatan ini, sektor pertanian, kita gunakan dengan baik. Tahun lampau ekspor kita naik Rp167 triliun," jelas Amran.

Meski demikian, Amran mengungkapkan kondisi nilai TBS mulai menunjukkan perbaikan. Berdasarkan laporan nan diterimanya, sekitar 70% nilai TBS telah kembali bergerak ke kisaran normal, ialah antara Rp3.200 hingga Rp3.600 per kg, berjuntai pada ketentuan nan bertindak di masing-masing wilayah sesuai Peraturan Gubernur (Pergub).

Ia berambisi proses pemulihan tersebut dapat berjalan penuh mulai hari ini, apalagi diikuti kenaikan nilai nan mencerminkan akibat positif dari penguatan dolar terhadap pendapatan ekspor nasional.

"Harusnya nilai (TBS) naik 10%, (ini malah) justru turun. Tapi Alhamdulillah tadi laporan sudah 70% berangsur-angsur pulih. Mulai hari ini kudu kembali 100%, dan jika perlu (harga TBS naik) tambah 10% dari nilai sebelumnya lantaran nilai dolar," kata Amran. 

Seperti diketahui, merujuk info Refinitiv, per pukul 09.07 WIB alias tujuh menit setelah pembukaan perdagangan, rupiah melemah ke level Rp18.100/US$. Posisi tersebut membikin mata duit garuda terdepresiasi sekitar 0,50% terhadap mata duit greenback.

Dengan posisi tersebut, rupiah kembali mencatatkan level terlemah sepanjang masa terhadap dolar AS. Tekanan ini terjadi setelah pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (5/6/2026), rupiah sempat ditutup menguat tipis 0,06% ke level Rp18.010/US$.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News