Jakarta -
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengatakan, lebih dari 31 ribu orang mengungsi imbas musibah gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) nan terjadi pada 15 Agustus lalu. Makanan sigap saji, perlengkapan pengungsian hingga busana untuk anak-anak menjadi kebutuhan utama saat ini.
"Per hari ini telah disampaikan sebelumnya ada 70 orang meninggal dunia, 665 orang luka-luka. Sekarang tetap dalam proses assessment lantaran ada nan luka berat, ada nan luka sedang, dan ada nan luka ringan. Ada 31.000 lebih orang nan mengungsi dan ada 16.000 KK terdampak," kata Gus Ipul, sapaan akrabnya, dalam konvensi pers, Selasa (18/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saifullah menyebut, sebanyak sembilan kota dan kabupaten di tiga provinsi terdampak gempa bermagnitudo 7,7 di NTT. Bantuan terus disalurkan ke sejumlah titik untuk menangani korban terdampak bencana.
"Sebagaimana diketahui bahwa akibat gempa pada tanggal 15 Agustus itu ada 3 provinsi terdampak, 9 kabupaten terdampak, dan 1 kota terdampak. (Rinciannya) 6 (wilayah) berada di NTT, 2 berada di Provinsi Sulawesi Selatan, dan 1 di Provinsi Nusa Tenggara Barat," kata Saifullah.
"Tentu semua kementerian dan lembaga, termasuk TNI-Polri, telah bekerja sama dengan pemerintah daerah, sekaligus juga mendapatkan pengarahan langsung dari Bapak Presiden, nan pertama-tama tentu melakukan evakuasi, kemudian memberikan support logistik, termasuk nan dibuat, diselenggarakan oleh Kementerian Sosial," imbuhnya.
Wakil Mensos Agus Jabo mengatakan, busana hingga perlengkapan bayi menjadi kebutuhan krusial bagi para pengungsi. Hal ini diungkap usai mengunjungi langsung salah satu letak terdampak gempa di Kabupaten Manggarai, NTT.
"Jadi nan dibutuhkan di sana sekarang ini adalah kebutuhan-kebutuhan tanggap darurat, ya. Terutama permakanan, kemudian perlengkapan pengungsian, ada tenda, kemudian pakaian, selimut, termasuk busana ibu-ibu, busana anak-anak," kata Agus Jabo.
"Termasuk kemudian memastikan bahwa jalur, jalan-jalan nan ada di titik-titik musibah itu dipastikan kemudian berfaedah kembali, lantaran tanah longsor, banyak batu, gitu. Kemudian itu juga segera ditindaklanjuti oleh Kementerian PU. Kemudian jaringan listrik, jaringan sinyal," lanjutnya.
Agus Jabo mengatakan, perbaikan jakur diperlukan untuk memobilisasi support dan relawan, untuk menjangkau pengungsi berdikari dan berada di letak terisolir.
"Kenapa dibutuhkan mobilisasi relawan nan banyak, baik itu dari TNI-Polri, dari tim SAR, dari Tagana, ataupun tim-tim nan lain? Karena ada tiga titik pengungsi," kata Agus.
"Yang pertama adalah pengungsi nan terkonsentrasi di selter-selter, kemudian pengungsi mandiri, nan ketiga ini nan tetap terus diidentifikasi korban-korban di daerah-daerah nan terisolir. Mudah-mudahan segera teridentifikasi," imbuhnya.
(sol/azh)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·