Mensos Gus Ipul Minta Kepala Sekolah Rakyat Awasi Penuh Murid

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) instruksikan seluruh kepala Sekolah Rakyat lakukan pengawasan penuh 24 jam, patuhi tata kelola, dan perkuat kerjasama dalam Rakor virtual di Jakarta, Rabu (2/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menekankan tiga poin krusial nan menjadi tugas dan tanggung jawab Kepala Sekolah Rakyat sebagai pemimpin tertinggi dalam lembaga pendidikan berkonsep pondok tersebut. Pertama, ialah melakukan pengawasan secara penuh terhadap kondisi para murid.

Hal itu Gus Ipul sampaikan saat menggelar Rapat Koordinasi berbareng Kepala Sekolah Rakyat se-Indonesia melalui Zoom pada Rabu (2/9/2026).

"Yang pertama nan mau jadi perhatian kita berbareng adalah soal pengawasan. Karena ini boarding school (sekolah berasrama), maka anak-anak kudu terawasi selama 24 jam, tanpa kompromi. Upayakan ini menjadi kesadaran dari bapak-ibu sekalian," kata Gus Ipul.

Pengawasan ini menjadi salah satu perhatian utama agar tidak terjadi tindakan perundungan (bullying), kekerasan seksual, dan intoleransi di lingkungan Sekolah Rakyat. Gus Ipul mengatakan, kepala sekolah dapat melibatkan para wali asuh, wali pondok dan memanfaatkan akomodasi CCTV untuk mengawasi serta menjaga para siswa.

Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) instruksikan seluruh kepala Sekolah Rakyat lakukan pengawasan penuh 24 jam, patuhi tata kelola, dan perkuat kerjasama dalam Rakor virtual di Jakarta, Rabu (2/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Kedua, ialah mengenai kepatuhan para kepala sekolah terhadap seluruh prosedur dan tata kelola nan baik. Poin ini meliputi tata kelola finansial nan bebas dari korupsi, tidak ada bentrok kepentingan, serta menerapkan standar belajar dan pondok nan setara di seluruh Sekolah Rakyat.

Ketiga, ialah konsolidasi stakeholder. Gus Ipul mendorong para Kepala Sekolah Rakyat agar membangun hubungan baik dengan lingkungan masyarakat, pemerintah daerah, hingga pembimbing tamu nan mengajar di Sekolah Rakyat.

"Sekolah Rakyat melangkah lantaran kita bergerak Bersama. Guru tamu dilibatkan aktif, bukan pelengkap. Jadi guru-guru tamu ini meskipun sifatnya sementara, tapi libatkan dengan penuh, bangun kesadaran dengan para pembimbing tamu itu. Tidak boleh bekerja setengah-setengah di lingkungan Sekolah Rakyat. Pemda dilibatkan dalam pengawasan perkuat support keamanan, kebersihan, dan penangganan kasus," tegas Gus Ipul.

"Ini saya titipkan betul kepada para kepala sekolah. Intinya adalah pada pengawasan, kepatuhan, dan kolaborasi. Tiga pilar ini tidak bisa ditawar. Setiap anak berkuasa pulang dengan masa depan nan lebih baik," sambungnya.

Lebih lanjut, Gus Ipul juga meminta agar mulai bulan depan, seluruh kepala sekolah membikin laporan mengenai kondisi masing-masing peserta didiknya. Mulai dari kondisi kesehatan, perkembangan mental, hingga latar belakang setiap siswa.

"Jadi para kepala sekolah silakan ini disampaikan dengan baik. Saya tetap memberikan satu kesempatan selama satu sampai tiga bulan kepada para kepala sekolah ini untuk beradaptasi, untuk menyesuaikan diri dengan siswa nan baru, dengan lingkungan nan baru. Setelah itu kita kudu take off," katanya.

Selain itu, Gus Ipul juga menyoroti kondisi Sekolah Rakyat nan lokasinya berdekatan dengan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Salah satunya, seperti pembangunan gedung permanen SRT 1 Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Gus Ipul mengingatkan kepala sekolah mengenai untuk memerhatikan kondisi para siswa dan terus berkoordinasi dengan pihak pemerintah daerah. "Mohon untuk koordinasi betul dengan pemerintah daerah. Karena jaraknya juga dekat dengan posisi pembangunan permanen Sekolah Rakyat," jelas dia.

Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) instruksikan seluruh kepala Sekolah Rakyat lakukan pengawasan penuh 24 jam, patuhi tata kelola, dan perkuat kerjasama dalam Rakor virtual di Jakarta, Rabu (2/9/2026). Foto: Dok. Kemensos

Dalam rapat tersebut, Kepala SRT 1 Kotawaringin Timur Nikkon Bhastari mengungkapkan, meski letak gedung sekolah terdampak asap karhutla lantaran hanya berjarak sekitar 3 meter dari letak kebakaran, tetapi pihaknya tidak memulangkan para siswa ke rumah masing-masing. Sebab, dia menjelaskan, perihal itu dinilai lebih rawan dibandingkan murid-murid tetap berada di lingkungan sekolah.

"Untuk anak-anak dikondisikan tidak kami pulangkan lantaran lebih rawan ketika pulang daripada di SR. Kalau di SR dekat dengan puskesmas, dekat dengan rumah sakit, akomodasi kami lengkap. Oksigen ada, masker kami sudah terpenuhi, nebulizer juga sudah siap," ungkap Nikkon.

Nikkon menambahkan, pihaknya juga tetap menggelar aktivitas belajar mengajar. Namun, aktivitas tersebut dilakukan di asrama, jika ruang kelas tidak dapat digunakan lantaran terkena asap karhutla.

"Tetap kami melakukan pembelajaran. Dimulai dari pukul 8 sampai pukul 9 (pagi). Namun ketika kabut, maka aktivitas pembelajaran (dilakukan) di pondok dibantu oleh guru-guru," jelas dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan