Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji mengaku telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) mengenai kebutuhan industri bakal bahan baku berupa beras pecah.
Hal itu disampaikannya usai menerima audiensi dengan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman. Menperin didampingi oleh Plt. Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika.
Sarmuji mengungkapkan, dalam pertemuan itu, GAPMMI menyampaikan sejumlah rumor mengenai industri makanan dan minuman (mamin) olahan, termasuk kebutuhan bahan baku. Juga, tentang ekosistem nan krusial nan kudu dibangun.
Kemenperin, tegas Sarmuji, memastikan memberi support nan dibutuhkan untuk menciptakan industri nasional nan lebih berkekuatan saing.
"Kalau industri makanan minuman itu, rumor daya saing sebenarnya nggak terlalu lantaran mereka cukup kuat. Bahkan makanan minuman kita pertumbuhannya juga cukup baik, ekspor ke banyak negara, banyak lah ke mancanegara. Hanya saja tentu ada hal-hal jadi aspirasi mereka, soal bahan baku," kata Sarmuji usai pertemuan.
"Contoh, bahan baku beras pecah itu jika kita impor dari luar negeri harganya sekitar Rp5.700 alias Rp6.000 maksimal. Tapi jika produksi dalam negeri harganya dipatok sekitar Rp11.000
tentu ada selisih cukup besar," tambah dia.
Dalam perihal ini, imbuh dia, industri pengolahan pengguna beras pecah sebagai bahan baku bakal mengalami kesulitan. Karena nilai bahan baku lokal nan jauh lebih mahal.
"Kalau dengan Rp11.000 itu industri kita nggak bisa kompetitif. Seperti industri bihun dan lain sebagainya nggak bisa kompetitif," ucapnya.
"Lgi kita cari cara. Toh beras Bulog itu kan banyak sekali. Stok banyak sekali dan makin lama jika dibiarkan nilainya bakal turun, apalagi bisa mendekati nol," sambungnya.
Dia pun mewacanakan mempertemukan kebutuhan industri dengan kesiapan sumber pasokan bahan baku dari dalam negeri, termasuk beras Bulog.
"Perlakuan terhadap beras-beras seperti itu kudu ada solusinya. Industri kita bisa mengambil stok di penyimpanan Bulog, nan lama dan pecah. Tapi juga harganya kudu bisa turun sesuai dengan nilai bisa ditoleransi industri. Kita kudu cari caranya ini," kata Sarmuji.
"Saya sudah berkoordinasi dengan kementerian pertanian," tambahnya.
Sebagai informasi, pemerintah tetap mencatat adanya impor beras jenis tertentu, termasuk beras pecah atau menir, untuk kebutuhan industri. Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS), impor beras pada Oktober 2025 tercatat sebesar 40,7 ribu ton.
Secara kumulatif, impor beras sepanjang Januari hingga Oktober 2025 mencapai 364,3 ribu ton dengan nilai US$178,5 juta alias setara Rp2,97 triliun. Seluruh impor tersebut merupakan beras unik dan industri, bukan beras medium untuk konsumsi umum.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian Moch Arief Cahyono menjelaskan, beras impor nan masuk kebanyakan berupa beras pecah 100% alias menir (HS 1006.40.90) nan digunakan sebagai bahan baku industri.
Gula, Garam dan Daging Impor
Sementara, Adhi S Lukman mengatakan, persoalan kesiapan bahan baku menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing. Sekaligus menjamin produksi agar menghasilkan produk dengan nilai terjangkau bagi konsumen.
"Apalagi kondisi saat ini sangat berat ya. Jadi kita berambisi industri makanan minuman bisa memproduksi produk-produk nan lebih terjangkau, sekaligus berkekuatan siang di pasar global. Tadi pak Menteri beberapa contoh dengan kementerian lain termasuk Kementerian Pertanian, Kemenko Pangan, Kementerian Perdagangan, soal bahan baku dan sebagainya," paparnya.
"Tadi kami sampaikan, ada beberapa industri personil kami nan melaporkan kekurangan bahan baku. Lalu rupanya ada stok nan tetap ada tapi belum ada kontraknya, alias stok nan sudah lenyap kontrak. Nah ini bakal dikoordinasikan oleh Pak Dirjen Agro, sehingga kebutuhan sampai akhir tahun 2026 ini bakal cukup. Tapi kami meminta untuk tahun 2027 awal, lantaran stok sudah habis, NK (neraca komoditas) nya dipercepat. Untuk gula, garam, dan daging," kata Adhi.
Menteri Perindustrian (Menperin), M Sarmuji saat ditemui di Jakarta, Rabu (14/10/2026). Foto: (CNBC Indonesia/Raudha Acheretta)
(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·