
Menko Airlangga (Foto: Okezone)
JAKARTA – Pemerintah telah mengendus adanya selisih (gap) pencatatan info perdagangan nan cukup dahsyat antara Indonesia dengan sejumlah negara mitra jual beli utama dunia. Nilai perbedaan komparasi info ekspor-impor tersebut ditaksir menembus nomor puluhan miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan contoh ketidaksesuaian itu terjadi pada neraca perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat dan China. Perbedaan nomor nan ditangkap oleh otoritas kepabeanan domestik dengan negara tujuan ekspor ditengarai menjadi indikasi kuat adanya masalah struktural dalam tata niaga logistik internasional.
“Contoh terhadap Amerika saja, kita merasa bahwa kita punya defisit itu sekitar USD16-17 billion, tapi disana ditangkepnya USD20 billion, ada gap," ujar Airlangga dalam forum Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah OJK di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Kondisi serupa, lanjut Airlangga, juga ditemukan pada kalkulasi arus peralatan dari dan menuju Negeri Tirai Bambu, di mana nilai deviasi pencatatannya jauh lebih besar.
"Kemudian kita ekspor dengan China itu dan juga impor China dari Indonesia, datanya juga ada delta USD20-30 billion," tambah Airlangga.
Airlangga menegaskan, temuan perbedaan info nan masif ini menjadi salah satu landasan utama bagi pemerintah untuk memperketat izin perdagangan internasional melalui penunjukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai agregator ekspor nasional.
Melalui intervensi DSI, ekosistem ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis diharapkan dapat dikelola secara lebih transparan melalui satu pintu digital.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·