Guncangan gempa nan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) awal hari membikin penduduk Desa Gorontalo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, panik. Salah satunya Suryati.
Suryati tinggal berbareng suaminya Agus dan dua orang anaknya. Saat gempa terjadi, anak-anaknya tetap tertidur di dalam rumah.
Suryati mengatakan, guncangan terasa sangat keras. Saat itu, dia sedang berada di bilik mandi untuk mengambil wudu dan bersiap salat Subuh.
“Iya, waktu kejadiannya itu anak-anak tetap tidur terus bapaknya sempat tarik duluan ini. Terus nan ini di bilik tengah dia lupa, jadi saya tetap di bilik mandi untuk wudu, mau ambil wudu mau salat Subuh, terus saya sudah ingat ini, terus saya sembari kak Dwi, saya panggil namanya Dwi. Ternyata Dwi ikut dari belakang ayahnya. Ah jadi saya ikut juga dari belakang,” kata Suryati saat ditemui di rumahnya, Minggu (16/8).
Suryati dan keluarganya kemudian mencari tempat nan dianggap lebih kondusif di dalam rumah. Beruntung, tak ada personil keluarganya nan terkena reruntuhan.
“Tidak keluar malah cari tempat nyaman di perspektif tiga itu,” ujarnya.
“Tidak juga, alhamdulillah tidak,” lanjut Suryati saat ditanya apakah sempat tertimpa robohan plafon.
Namun, bagian rumahnya mengalami kerusakan. Plafon di dua ruangan, ialah bilik dan ruang tamu, jebol. Selain itu, terdapat kerusakan pada bagian gunungan serta kaca nan pecah.
“Untuk kerusakan kemarin, bata gunungan sama instalasi, instalasi kaca pecah sama plafon,” kata Suryati.
“Ada dua ruangan plafon jebol. Plafon ruang bilik sama ruang tamu,” sambungnya.
Suryati mengaku tetap trauma setelah merasakan gempa tersebut. Apalagi, dia memandang anak-anaknya ketakutan dan gemetar.
“Sangat trauma, sedih. Iya sedih juga sih jika ingat anak-anak juga sedih,” tuturnya.
“Ya takut ya takutnya ada, terus gemetar, gemetarnya ada ya,” lanjutnya.
Untuk sementara, Suryati berbareng keluarganya memilih mengungsi ke Wenmata. Rumahnya juga sempat dibersihkan setelah dipenuhi debu akibat kerusakan.
“Mengungsi, sempat kemarin-kemarin sempat mengungsi terus datang kasih bersih itu sangat melelahkan, debu semua bagian dalam, mengganggu pernapasan, mengganggu,” katanya.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, NTT, pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. Gempa tersebut juga memicu tsunami dengan ketinggian tertinggi 0,94 meter di sejumlah wilayah NTT, NTB, Sulsel, dan Sultra.
Hingga Minggu (16/8) pukul 09.00, Basarnas mencatat 51 orang meninggal bumi dan 64 orang mengalami luka-luka alias luka berat. Sejumlah rumah dan akomodasi umum juga mengalami kerusakan akibat gempa.
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·