Kisah Evakuasi WNI di Suriah
Bagi saya musim semi terlalu sigap datang di Damaskus, Suriah. Kota nan sangat bagus kebanggaan Dinasti Umayyah itu adalah kota tertua di dunia, berada di oasis subur nan dilewati sungai Barada sepanjang tahun. Julukannya adalah “Mutiara dari Timur”. Tak heran jika al-Maqdisi, seorang traveler abad ke-10, menyebut Damaskus sebagai salah satu dari empat kota “surga” di dunia. Bahkan Mark Twain dalam Encyclopedia Britannica, menyebut Damaskus sebagai kota keabadian.
Entahlah saya terlambat menikmati kota nan berhistoris ini, pascakonflik bersenjata nan merusak damainya Damaskus. Namun aura cantiknya kota ini tetap tampak di sela-sela dentuman senjata bersahutan di sekitar Damaskus.
Saat itu saya adalah bagian dari Tim Evakuasi WNI nan ditugaskan ke Damaskus, Suriah oleh ketua Kementerian Luar Negeri Tahun 2012 dan 2013 silam.
“Anda orang mana?” tanya seorang pemuda bersenjata laras panjang memakai kaos coklat dengan sorban unik Arab di kepala menghentikan laju kendaraan tim nan baru tiba dari bandara. Ini terjadi saat pemeriksaan random di salah satu chek point di Damaskus.
Meski dengan jantung berdebar saya segera menjawab, “Kami orang Indonesia semua.”
“Bisa baca Quran? Coba baca Surat Al Fatihah” lanjut pemuda itu lagi.
Dengan antusias saya jawab, “Siap, dengan senang hati.” Setelah diperdengarkan, suasana mendebarkan berubah menjadi keakraban dengan basa-basi unik Arab Suriah alias biasa disebut Syam. Akhirnya mereka memberikan akses masuk setelah memastikan kami bukan “musuh” mereka. “Indonesia, sahabat kami,” tuturnya sembari membiarkan kami pergi untuk segera kembali ke apartemen nan kami sewa di wilayah Mazzeh, Damaskus.
Di Damaskus pula, saya nyaris kehilangan nyawa dua kali. Pertama ketika sebuah ledakan terjadi di atas apartemen dimana saya, Pak Sapto dan tim tinggal. Semua sedang terlelap tidur saat bunyi keras memecahkan jendela kaca bilik tidur apartemen. Posisi saya persis berada di bawah jendela kaca. Mata kanan saya terkena serpihan kaca nan pecah akibat ledakan nan berasal dari sebuah roket nan menghantam apartemen di atasnya. Semuanya terbangun dalam keadaan shock, badan gemetar dan rasa kantuk berubah jadi rasa takut. Pak Menlu Marty Natalegawa setelah mengetahui kejadian itu langsung kontak Ketua Tim, Pak Sapto, untuk menanyakan berita kami sekaligus meminta kami untuk segera pindah ke premis KBRI Damaskus demi keamanan dan keselamatan.
Kedua, di Kantor Imigrasi Damaskus saat saya dan Mas Rifqi mengurus exit permit (izin keluar) bagi delapan WNI nan bakal dipulangkan. Bom mobil meledak di Kantor Kemdagri Suriah, persis di depan instansi imigrasi. Kami saat itu sedang duduk berhadapan dengan petugas imigrasi sembari menunggu proses exit permit keluar. Tiba-tiba bunyi, “ duaarrrr”, kaca di ruangan kami pecah semua, langit-langit ruangan berjatuhan, untung tidak mengenai kami. Afif, nama petugas imigrasi nan di depan kami sudah bermandikan darah akibat serpihan kaca nan melukai badannya. Saya dan Mas Rifqi selamat dan langsung kontak tim KBRI, namun apa daya sinyal lenyap seketika. Bersyukur para WNI nan kami bawa pun tidak terluka.
Menunggu sekitar 30 menit, kami bergegas keluar setelah semuanya dibolehkan pergi. Di sepanjang trotoar jalan nan kami lalui berceceran potongan tubuh tak bertuan. Mas Rifqi tetap sempat mengabadikan saya dan para WNI nan panik. “Untuk kenangan suatu saat nanti,” selorohnya saat itu.
Sepanjang perjalanan ke KBRI Damaskus, perbincangan berkutat mengenai peledak nan meledak tadi. Siaran radio nan kami dengarkan dari mobil memberitakan serangan luar biasa peledak mobil nan diduga adalah peledak bunuh diri. “Kami sudah terbiasa mendengarnya, kami tidak bisa berdiam diri di rumah, lantaran tetap kudu hidup dan cari makan,” jawab Omar, seorang penduduk Suriah nan berhadapan di jalan saat kami tanyai tanggapannya tentang banyaknya ledakan.
Misi Diplomatik di wilayah bentrok bukan hanya bekerja dengan akibat tinggi, namun sering kali di bawah tekanan waktu dan ketidakpastian. Misi tim saat itu adalah memastikan bahwa setiap WNI mendapatkan pelindungan dan selamat hingga kembali ke tanah air. Keakraban di antara personil tim sangat penting; mengandalkan kekuatan satu sama lain dan saling mendukung untuk mengurangi beban emosional serta bentuk dari misi nan diemban.
Tantangan nan dihadapi selama pemindahan WNI memang berat, tetapi tantangan tersebut menunjukkan kekuatan jiwa manusia dan pentingnya solidaritas di masa krisis. Pengalaman ini telah mengubah langkah pandang saya, memperdalam apresiasi saya terhadap kehidupan dan ikatan nan kita jalin antar-satu sama lain, apa pun latar belakang kita. Saat merenungkan perjalanan ini kembali, saya membawa serta pelajaran dan harapan, apalagi saat di tengah kekacauan, kita tetap dapat menemukan langkah untuk terhubung, mendukung, dan saling menyemangati.
Kenangan saat di Damaskus tetap terukir mendalam di hati saya, menjadi pengingat nan kuat bakal kerapuhan hidup dan kekuatan jiwa manusia. Momen-momen ini, nan ditandai oleh rasa takut dan ketidakpastian, telah membentuk perspektif saya tentang bumi dan kebutuhan mendesak bakal perdamaian. Setiap bentrok nan menyebabkan korban jiwa telah memperkuat komitmen saya untuk menumbuhkan perdamaian dan saling pengertian.
Dengan berbagi kisah ini, saya berambisi dapat menginspirasi orang lain dalam membangun organisasi dunia nan lebih berempati, nan menghargai kemanusiaan di atas kepentingan, serta persatuan di atas perpecahan.
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·