Aktris Sheila Dara dan Fita Anggriani berbacara soal persahabatan(Dok. MI)
PERSAHABATAN nan memperkuat lama tidak selalu dibangun dari intensitas berjumpa setiap hari. Bagi Aktris Sheila Dara dan Fita Anggriani, hubungan nan sudah melangkah sejak 2012 justru tumbuh lantaran tidak banyak tuntutan.
Fita Angraini mengingat awal pertemuannya dengan Sheila terjadi sekitar 13 tahun lalu. Saat itu, mereka dikenalkan oleh kawan dan kemudian karaoke berbareng di area Kemang.
“Aku pertama kali ketemu Sheila tahun 2012, dikenalin sama teman, dan waktu itu kita karaokean bareng. Aku langsung mikir, Wah, dia elok banget, suaranya juga bagus. Dari situ jadi pengin temenan sama dia,” kata Fita, membagikan cerita saat datang dalam peluncuran kerjasama perdana Uniqlo dan desainer womenswear asal Copenhagen, Cecilie Bahnsen, di Hotel The Dharmawangsa, Jakarta, kemarin.
Sheila menanggapi cerita itu dengan candaan. Menurutnya, bisa saja Fita saat itu hanya sedang mencari kawan karaoke. Namun, di kembali candaan tersebut, Sheila mengakui Fita merupakan sosok nan konsisten menjaga hubungan pertemanan.
“Fita memang suka maintain pertemanan. Aku nan sering ilang-ilangan, tapi Fita selalu nyari. Rumah kita juga dari dulu selalu dekat, jadi kadang dia tiba-tiba sudah muncul aja di depan rumah,” ujar Sheila.
Bagi Sheila, salah satu argumen persahabatan mereka memperkuat lama adalah lantaran hubungan itu melangkah tanpa tekanan. Mereka tidak menuntut kudu selalu bertemu, tetapi tetap merasa dekat ketika kembali bersama.
“Menurut saya pribadi, untuk menjaga pertemanan itu less effort is better. Walaupun kita sama-sama sibuk, tapi giliran ketemu rasanya enggak ada waktu nan terlewat. Jadi semuanya terasa effortless,” tuturnya.
Kedekatan Sheila dan Fita juga tampak dalam hal-hal sederhana, termasuk kebiasaan mencoba makanan. Fita menyebut Sheila sebagai salah satu kawan nan bisa diajak mengeksplorasi tempat makan. Sheila pun berbual bahwa keahlian makan Fita cukup mengejutkan.
“Walaupun badannya kecil, keahlian makannya exceptional,” kata Sheila.
Selain soal makanan, keduanya juga menyadari selera berpakaian mereka kerap beririsan. Sheila dan Fita beberapa kali tanpa sengaja membeli busana nan sama. Bahkan, ketika berpiknik bersama, mereka biasa mendiskusikan busana nan bakal dikenakan agar tidak tampil terlalu seragam.
“Sering banget momen, ‘loh, bajunya sama,’” ujar Fita.
Namun, seiring bertambahnya usia dan pengalaman, langkah mereka memandang fashion juga berubah. Sheila mengaku style berpakaiannya sekarang jauh berbeda dibandingkan dirinya pada 2013. Jika dulu dia condong mengikuti tren tanpa banyak pertimbangan, sekarang dia lebih memilih busana nan terasa dekat dengan identitas dirinya.
“Fashion saya pasti berubah. Aku nan tahun 2013 jauh banget dibanding sekarang secara style. Dulu saya condong blindly follow the trend. Kalau sekarang, saya lebih bisa memilah mana nan memang sesuai dengan core identity aku,” kata Sheila.
Fita merasakan perubahan serupa. Ia mengaku dulu lebih mengutamakan tampilan, sedangkan sekarang kenyamanan menjadi perihal nan lebih penting. Menurutnya, busana nan baik adalah busana nan tetap membikin penggunanya dapat bergerak bebas dan merasa menjadi diri sendiri.
Percakapan tersebut sejalan dengan tema koleksi Uniqlo and Cecilie Bahnsen Spring/Summer 2026, Shapes of Poetry. Kolaborasi ini memadukan pendekatan kreasi Cecilie Bahnsen nan dikenal feminin, romantis, dan perincian dengan filosofi LifeWear Uniqlo nan menekankan kenyamanan, kualitas, dan kegunaan untuk keseharian. Koleksi ini dijadwalkan tersedia mulai 27 Mei 2026 di toko Uniqlo Indonesia dan secara daring.
Cecilie Bahnsen dikenal sebagai desainer asal Denmark nan menggabungkan sentuhan couture dengan busana nan dapat digunakan sehari-hari. Dalam kerjasama ini, sejumlah karakter desainnya seperti motif floral, siluet bervolume, frill, dan shirring diterjemahkan ke dalam busana nan lebih ringan dan mudah dipadupadankan.
“Saya selalu mengagumi design ethics dari brand Jepang. Filosofi LifeWear Uniqlo terasa sangat dekat dengan pendekatan kami, nan berdasar pada gimana wanita bergerak, hidup, dan mengekspresikan diri melalui pakaian,” ujar Cecilie dalam keterangan resmi.
Senior Marketing Manager Uniqlo Indonesia Evy Christina Setiawan mengatakan, kerjasama ini tidak hanya menonjolkan unsur desain, tetapi juga berupaya menghadirkan busana nan bisa digunakan dalam beragam situasi keseharian.
“Lewat koleksi ini, kami mau menghadirkan busana nan terasa romantis dan istimewa, namun tetap ringan, versatile, dan nyaman dipakai sehari-hari,” kata Evy.
Dalam aktivitas nan sama, Fita juga berbincang mengenai perannya sebagai perempuan, public figure, dan ibu. Baginya, menjalani banyak peran bukan berfaedah kudu kehilangan diri sendiri. Ia justru memandang beragam peran itu dapat melangkah berdampingan dan saling membentuk.
“Awalnya tentu ada banyak trial and error. Tapi sekarang saya lebih sadar bahwa beragam peran dalam hidup bisa co-exist. Menjadi ibu justru membuatku lebih berani dalam karier, lantaran kita tahu untuk siapa kita berjuang,” ujar Fita.
Kolaborasi ini juga menjadi lini childrenswear pertama Cecilie Bahnsen. Koleksi anak wanita tersebut datang dalam corak dress, T-shirt, dan skort dengan kreasi nan selaras dengan koleksi dewasa. Bagi Fita, perihal itu terasa dekat lantaran putrinya, Emma, mulai mempunyai pendapat sendiri soal pakaian.
“Aku memang dari awal menikah pengin punya anak wanita lantaran rasanya seru membayangkan bisa dandan bareng. Tapi rupanya semakin Emma besar, dia juga semakin punya opini sendiri soal fashion nan dia suka,” kata Fita. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·