Menjaga Kebersihan dan Kelestarian Sungai Jadi Langkah Dasar Wujudkan Swasembada Air

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Menjaga Kebersihan dan Kelestarian Sungai Jadi Langkah Dasar Wujudkan Swasembada Air Ilustrasi(Dok Magnific)

BAGI masyarakat, sungai bukan sekadar aliran air nan melintas di antara permukiman. Sungai menjadi sumber kehidupan, menyediakan air bagi rumah tangga, mengairi lahan pertanian, menjaga persediaan air tanah, dan menopang aktivitas ekonomi warga.

Karena itu, menjaga kebersihan dan kelestarian sungai menjadi langkah mendasar dalam mewujudkan swasembada air. Swasembada air bukan hanya mengenai pembangunan bendungan, embung, alias jaringan perpipaan, tetapi memastikan masyarakat memperoleh air nan cukup, aman, dan berkepanjangan dari sumber nan terus terpelihara.

Manfaat air paling dirasakan masyarakat ketika musim tandus tiba. Di Kabupaten Pandeglang, Banten, penduduk Kampung Bojong Maung, Desa Munjul, mengalami kesulitan air bersih selama sekitar dua bulan. Air nan tersedia kemudian diprioritaskan untuk kebutuhan paling mendasar, seperti minum dan memasak.

Kehadiran support air bersih disambut dengan rasa syukur oleh masyarakat. Nita, salah seorang penduduk Kampung Bojong Maung, mengaku ceria lantaran kebutuhan dasar keluarganya kembali dapat dipenuhi.

“Saya ucapkan terima kasih. Alhamdulillah sangat berfaedah bagi kami semua lantaran di sini betul-betul kering,” kata Nita.

Bantuan tersebut menjadi pasokan air bersih pertama nan diterima Nita dan penduduk lainnya setelah menghadapi krisis air selama dua bulan. Kondisi itu membikin masyarakat kudu mengatur penggunaan air dengan sangat ketat dan memanfaatkan sungai untuk kebutuhan lain nan belum dapat dipenuhi dari pengedaran air bersih.

Kegembiraan serupa dirasakan masyarakat di Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang. Setelah sumur bor Kementerian PU mulai beraksi di Masjid Simpang Lhee, penduduk tidak lagi kudu mengantre untuk memperoleh air bersih.

“Alhamdulillah sekarang air sudah mengalir lancar. Jamaah bisa beragama dengan tenang, penduduk sekitar juga ikut merasakan manfaatnya,” ujar penduduk setempat, Aisyah Rahmi.

Bagi masyarakat, tersedianya air tidak hanya memudahkan aktivitas memasak, mencuci, mandi, dan beribadah. Akses air juga mengurangi waktu nan sebelumnya digunakan untuk mencari alias mengantre air, menekan pengeluaran rumah tangga, serta membikin anak-anak dan family dapat menjalankan aktivitas dengan lebih nyaman.

Pengalaman masyarakat tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sungai dan sumber daya air kudu diarahkan sampai manfaatnya betul-betul dirasakan warga. Air dari area hulu perlu dijaga kualitas dan kuantitasnya, ditampung melalui prasarana nan memadai, kemudian dialirkan secara setara menuju permukiman dan lahan produktif.

Momentum Hari Sungai Nasional nan diperingati setiap 27 Juli menjadi pengingat bahwa sungai merupakan bagian krusial dari ketahanan air nasional. Sungai tidak dapat lagi dipandang sebagai saluran pembuangan, melainkan sebagai aset kehidupan nan kudu dijaga bersama. Penetapan Hari Sungai Nasional juga diarahkan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sungai.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan bahwa sungai berangkaian langsung dengan kehidupan masyarakat.

“Sungai merupakan urat nadi kehidupan nan kudu terus kita jaga agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat,” ujar Agus Harimurti Yudhoyono.

Pemerintah telah meluncurkan Gerakan Nasional Ayo Muliakan Sungai untuk mendorong perubahan langkah pandang terhadap sungai. Sungai ditempatkan sebagai bagian dari prasarana biru nan mengintegrasikan pembangunan bentuk dengan kegunaan ekologis secara berkelanjutan.

Namun, upaya mewujudkan swasembada air tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat mempunyai peran krusial dengan tidak membuang sampah dan limbah ke sungai, merawat saluran air, menanam pohon di area resapan, membikin sumur resapan, serta memanen air hujan untuk kebutuhan rumah tangga nan tidak memerlukan air minum.

Warga juga dapat membentuk organisasi peduli sungai, melakukan aktivitas pembersihan secara berkala, melaporkan pencemaran, dan mengedukasi anak-anak agar memperlakukan sungai sebagai sumber kehidupan. Keterlibatan masyarakat tersebut dibutuhkan lantaran kualitas air sungai tetap menghadapi tekanan serius.

Hasil pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup pada Semester I 2025 di 4.482 letak pada 1.482 sungai menunjukkan bahwa 70,7% lokasi pemantauan berada dalam kondisi tercemar, sedangkan 29,3% memenuhi baku mutu. Data tersebut menunjukkan bahwa pembangunan prasarana air kudu melangkah beriringan dengan pengendalian sampah dan pencemaran dari sumbernya.

Menjaga sungai pada akhirnya berfaedah menjaga air nan bakal digunakan masyarakat. Sungai nan bersih membantu mempertahankan kualitas sumber air baku, menjaga ekosistem, mengurangi akibat banjir, mendukung pertanian, dan menciptakan lingkungan permukiman nan lebih sehat.

Bagi warga, keberhasilan swasembada air dapat dilihat dari hal-hal sederhana tetapi mendasar: air mengalir ketika dibutuhkan, family tidak lagi mengantre, petani dapat mengairi lahan, anak-anak hidup di lingkungan nan sehat, serta masyarakat tidak selalu berjuntai pada support air ketika tandus datang.

Hari Sungai Nasional menjadi momentum untuk mengubah kepedulian menjadi tindakan bersama. Pemerintah membangun dan merawat infrastruktur, sementara masyarakat menjaga sungai, mata air, wilayah resapan, dan menggunakan air secara bijak.

Ketika sungai terjaga, air dapat terus mengalir menuju rumah, sawah, sekolah, tempat ibadah, dan ruang kehidupan masyarakat. Dari sungai nan bersih dan dikelola bersama, swasembada air dapat tumbuh dari tingkat desa dan memberikan faedah nyata bagi seluruh warga.

Masa depan sebuah bangsa bakal ditentukan salah satunya keahlian untuk swasembada air. Oleh lantaran itu menjaga kelestarian sungai menjadi salah satu kontribusi kita dalam menjaga kedaulatan bangsa Indonesia. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia