Seniman avant-garde asal Jepang, Yayoi Kusama, meninggal bumi di usia 97 tahun pada Jumat (14/8). Dilansir The Straits Times, Kusama meninggal akibat kandas organ multipel di sebuah rumah sakit di Tokyo. Sepanjang kariernya, dia dikenal lewat penggunaan pola titik alias polka dot, repetisi, cermin, serta bentuk-bentuk nan membikin pemisah antara ruang dan karya seni terasa samar.
Karya-karya tersebut tidak hanya menjadi karakter unik visual Kusama, tetapi juga berangkaian dengan beragam pengalaman dan pendapat nan dia bawa dalam perjalanan seninya. Beberapa di antaranya telah menjadi bagian krusial dari sejarah seni kontemporer dan terus dipamerkan hingga kini.
Berikut sejumlah karya ikonis Yayoi Kusama dalam perjalanan panjang kariernya.
Narcissus Garden (1966)
Pada Venice Biennale ke-33 pada 1966, Yayoi Kusama memasang 1.500 bola cermin perak di luar Paviliun Italia. Meski tidak diundang secara resmi, dia tetap menghadirkan instalasi Narcissus Garden dan menjual setiap bola seharga USD 2.
Instalasi tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu karya krusial Kusama lantaran mengangkat kritik terhadap komersialisasi bumi seni. Penggunaan ratusan bola cermin juga memperlihatkan ketertarikannya pada refleksi, repetisi, serta hubungan antara karya seni dan orang nan melihatnya.
Accumulation No. 1 (1962)
Karya ini berupa sebuah bangku nan dipenuhi tonjolan berbentuk phallic dari kain nan dijahit dan diisi. Accumulation No. 1 dibuat Kusama di apartemennya di New York dan dipamerkan di Green Gallery pada 1962.
Karya tersebut menjadi salah satu corak ekspresi Kusama dalam menghadapi ketakutannya terhadap perangkat kelamin laki-laki, nan berangkaian dengan pengalaman masa mini serta pandangannya terhadap hubungan seksual. Repetisi corak nan memenuhi permukaan bangku juga menjadi salah satu contoh awal pendekatan visual nan kemudian banyak muncul dalam karya-karyanya.
The Pumpkins (1964)
Labu menjadi salah satu simbol nan paling mudah dikenali dari karya Yayoi Kusama. Motif tersebut sebenarnya sudah muncul dalam karya Kusama sejak 1946, ketika dia tetap remaja di Jepang, sebelum kemudian datang dalam corak patung pada dasawarsa 1970-an.
Salah satu patung Pumpkins nan berada di Pulau Naoshima, Jepang, apalagi kudu diganti setelah tersapu topan pada 2021. Versi penggantinya kemudian dirancang dengan material nan lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Infinity Mirror Rooms (1965)
Salah satu karya Kusama nan paling terkenal adalah Infinity Mirror Rooms. Konsep tersebut bermulai dari Infinity Mirror Room—Phalli's Field nan dibuat pada 1965 dan dipamerkan di Castellane Gallery, New York.
Dengan memanfaatkan cermin dan repetisi motif, Kusama menciptakan ruang nan membikin visitor seolah berada di dalam ruang tanpa batas. Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi beragam instalasi Infinity Mirror Roomsyang dikenal luas dan menjadi salah satu bagian krusial dalam perjalanan artistiknya.
Dots Obsessions (1997)
Kusama kembali mengeksplorasi pola titik dalam Dots Obsessions. Karya ini berupa ruangan nan permukaannya dipenuhi polka dot, mulai dari lantai, dinding, hingga langit-langit.
Di dalam sejumlah instalasinya, terdapat balon alias corak bola berukuran besar nan juga dipenuhi pola titik. Ketika berada di dalam ruangan tersebut, visitor menjadi bagian dari instalasi dan memandang pola nan sama dari beragam arah, menciptakan pengalaman visual nan unik dari karya Kusama.
Love Flies Up to the Sky (2019)
Pada 2019, Kusama menghadirkan Love Flies Up to the Sky dalam Macy’s Thanksgiving Day Parade ke-93 di Amerika Serikat. Karya tersebut berupa balon raksasa berbentuk patung artistik dan menjadi bagian dari seri Blue Sky Gallery, nan menampilkan karya seni rupa dalam corak balon.
Kusama tercatat sebagai perempuan pertama nan bekerja-sama dalam seri balon tersebut. Love Flies Up to the Sky menampilkan motif wajah dan corak biomorfik nan berasal dari seri lukisan My Eternal Soul, komplit dengan lebih dari 300 titik polka dot.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·