Mengenal Siti Nurmaini, Kembangkan TeleOTIVA untuk Skrining Kanker Serviks

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Jakarta -

Siti Nurmaini masuk 3 besar DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Teknologi Kesehatan. Siti menggagas dan mengembangkan aplikasi TeleOTIVA, penemuan skrining kanker serviks berbasis Artificial Intelligence (AI) dan telemedicine untuk pemerataan jasa kesehatan di Indonesia.

Pemilihan 3 besar DPD RI Awards 2026 ditentukan dalam rapat perdana Dewan Pakar di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2026). Sejumlah personil Dewan Pakar datang langsung dalam rapat dan nan berhalangan datang tetap memberikan pandangan serta kontribusi dalam pembahasan.

Adapun Dewan Pakar DPD Awards 2026 ialah Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol, Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H, dan Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada empat kategori penghargaan di DPD RI Awards 2026, ialah Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan dan Pelestari Budaya Daerah.

Profil Siti Nurmaini

Siti Nurmaini merupakan Profesor dari Universitas Sriwijaya (Unsri), nan mengembangkan TeleOTIVA sejak tahun 2020. TeleOTIVA adalah produk penemuan kesehatan digital nan mengintegrasikan AI, computer vision dan telemedicine untuk mendukung skrining dan penemuan awal kanker serviks.

Aplikasi TeleOTIVA sudah tersedia di App Store dan Play Store. Siti menyebut TeleOTIVA membantu tenaga kesehatan dalam mendokumentasikan gambaran serviks, mengidentifikasi area serviks dan lesi nan dicurigai serta menyediakan info pendukung untuk proses pertimbangan dan pengambilan keputusan klinis.

Melalui fitur telemedicine, hasil pemeriksaan dapat dikonsultasikan dengan tenaga medis alias master mahir tanpa terkendala jarak, sehingga mendukung pelayanan di puskesmas dan wilayah dengan keterbatasan tenaga spesialis. TeleOTIVA juga menyediakan pencatatan pemeriksaan, pengarsipan hasil dan pemantauan tindak lanjut pasien secara digital.

Inovasi ini bermaksud meningkatkan akses, konsistensi, efisiensi, dan pemerataan jasa skrining kanker serviks, khususnya bagi masyarakat di wilayah dengan akses kesehatan terbatas.

TeleOTIVA dikembangkan sebagai sistem pendukung keputusan klinis, bukan pengganti tenaga medis serta mempunyai potensi untuk diterapkan dan dikembangkan pada jejaring akomodasi kesehatan secara lebih luas di Indonesia. Menurut Siti, TeleOTIVA telah memberikan akibat nyata dalam memperluas akses skrining prakanker serviks berbasis AI dan telemedicine.

Hingga kini, TeleOTIVA telah memeriksa lebih dari 2.000 subjek, melibatkan 50 lebih tenaga medis dan master spesialis, dengan keahlian model mencapai 98,14% akurasi, 95,65% sensitivitas, dan 98,82% spesifisitas.

Dari sisi inovasi, Siti memastikan TeleOTIVA sudah mempunyai portofolio kekayaan intelektual. Hilirisasi penemuan ini juga diperkuat melalui realisasi lisensi paten berbareng PT INTI Konten Indonesia (INTENS) pada tahun 2026.

Siti menyebut pengembangan TeleOTIVA telah menghasilkan beragam publikasi ilmiah, termasuk penelitian pada Informatics in Medicine Unlocked, IEEE Access, Scientific Reports, dan Sensors nan membahas deteksi, segmentasi, interpretasi, serta pengembangan AI untuk skrining serviks.

Bagi Siti, capaian tersebut memperkuat TeleOTIVA sebagai penemuan nan berbasis riset, terlindungi secara intelektual, terhilirisasi dan berakibat langsung bagi jasa kesehatan masyarakat.

(fas/knv)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑