Ilustrasi(Dok Magnific)
MASYARAKAT Muslim di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, mengenal sebuah tradisi tahunan nan jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam almanak Hijriah. Tradisi ini dikenal dengan nama Rebo Wekasan alias Rabu Pungkasan. Bagi sebagian orang, momen ini dianggap sebagai waktu nan sakral untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT guna memohon perlindungan dari segala marabahaya.
Meskipun mempunyai akar tradisi nan kuat, Rebo Wekasan sering kali memicu pertanyaan mengenai landasan hukumnya dalam kepercayaan serta gimana langkah menyikapinya dengan bijak. Artikel ini bakal mengulas secara mendalam mengenai makna Rebo Wekasan, agenda pelaksanaannya di tahun 2026, serta amalan-amalan nan dianjurkan menurut perspektif para ulama.
Apa Itu Rebo Wekasan?
Istilah "Rebo Wekasan" berasal dari bahasa Jawa. Rebo berfaedah hari Rabu, dan Wekasan berfaedah terakhir alias pungkas. Secara harfiah, Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Tradisi ini bermulai dari kepercayaan nan berasal dari keterangan beberapa ustadz mahir kasyaf (memiliki mata jiwa nan tajam), salah satunya disebutkan dalam kitab Kanzun Najah was-Surur karya Syekh Abdul Hamid Quds. Dalam literatur tersebut, diyakini bahwa pada hari Rabu terakhir bulan Safar, Allah SWT menurunkan ribuan bala (musibah) ke bumi. Oleh lantaran itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, doa, dan infak sebagai corak taqarrub (mendekatkan diri) agar terhindar dari marabahaya tersebut.
Kapan Rebo Wekasan 2026?
Penentuan hari Rebo Wekasan sangat berjuntai pada penetapan awal bulan Safar dalam almanak Hijriah. Berdasarkan perkiraan almanak Hijriah dunia dan kriteria imkanur rukyat, berikut adalah agenda Rebo Wekasan untuk tahun 2026:
Jadwal Rebo Wekasan 2026:
Rebo Wekasan tahun 1448 Hijriah diprediksi jatuh pada hari Rabu, 12 Agustus 2026.
Catatan: Kepastian tanggal ini tetap merujuk pada hasil rukyatul bulansabit penetapan awal bulan Safar 1448 H oleh otoritas terkait.
Amalan dan Ibadah nan Dianjurkan
Dalam menyikapi Rebo Wekasan, para ustadz menganjurkan agar umat Islam tidak terjebak dalam khurafat alias rasa takut nan berlebihan. Sebaliknya, momen ini kudu dijadikan sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah. Berikut adalah beberapa ibadah nan umum dilakukan:
1. Shalat Sunnah Lidaf’il Bala (Tolak Bala)
Banyak ustadz memperbolehkan penyelenggaraan shalat sunnah dengan niat Lidaf’il Bala alias memohon perlindungan. Salat ini biasanya dilakukan sebanyak 4 rakaat (dua kali salam alias satu kali salam). Perlu dicatat bahwa niat shalat ini adalah shalat sunnah mutlak, bukan shalat unik "Rebo Wekasan" nan mempunyai hukum tersendiri dalam hadits nabawi.
2. Membaca Doa Rebo Wekasan
Setelah melaksanakan shalat alias di waktu-waktu mustajab pada hari tersebut, umat Muslim dianjurkan membaca angan memohon perlindungan. Berikut adalah salah satu angan nan sering dipanjatkan:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى، وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيْزُ يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ، اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُتَكَرِّمُ...
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah nan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabatnya. Ya Allah, Wahai nan Maha Kuat kekuatan-Nya, Wahai nan Maha Dahsyat azab-Nya, Wahai nan Maha Perkasa, Wahai nan kepada keperkasaan-Mu tunduklah segala makhluk-Mu, cukupkanlah saya dari segala makhluk-Mu..."
3. Memperbanyak Sedekah
Sedekah dipercaya sebagai salah satu langkah paling efektif untuk menolak bala. Rasulullah SAW berfirman bahwa infak dapat menutup 70 pintu keburukan. Memberi makan anak yatim alias membantu fakir miskin pada hari Rebo Wekasan sangat dianjurkan.
4. Membaca Surah Yasin dan Dzikir
Membaca Surah Yasin dengan niat memohon keselamatan serta memperbanyak istighfar dapat menenangkan hati dan menjauhkan diri dari kegelisahan bakal datangnya musibah.
Perspektif Hukum Islam
Penting untuk dipahami bahwa dalam Islam, tidak ada hari nan dianggap apes secara hakiki. Rasulullah SAW bersabda, "Laa 'adwa walaa thiyarata walaa haamah walaa shafara" (Tidak ada penularan penyakit secara sendirinya, tidak ada ramalan buruk, tidak ada burung hantu nan membawa sial, dan tidak ada kesialan di bulan Safar).
Oleh lantaran itu, para ustadz menjelaskan bahwa ibadah Rebo Wekasan diperbolehkan selama diniatkan sebagai corak ikhtiar doa dan tawakal kepada Allah, bukan lantaran meyakini bahwa hari tersebut mempunyai kekuatan berdikari untuk mencelakakan manusia.
Kesimpulan
Rebo Wekasan 2026 nan jatuh pada 12 Agustus merupakan momentum untuk memperkuat spiritualitas. Dengan memperbanyak doa, shalat sunnah mutlak, dan sedekah, kita berambisi mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Tradisi ini hendaknya dijalankan dengan tetap berpegang teguh pada tauhid, ialah meyakini bahwa segala faedah dan mudarat hanya datang dari Allah SWT. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·