Kaki-kaki renta Entus setia mengayuh odong odongnya, menembus riuh Jalan Samoja, Kota Bandung. Dalam satu dasawarsa terakhir, hidup laki-laki 65 tahun berjuntai pada mesin itu.
Meski berat, dia senantiasa membagi sedikit tawa bagi anak-anak.
Tapi, odong odong Entus bukan miliknya sendiri. Ia kudu menyewa dan menyetorkan Rp 15 ribu setiap hari kepada pemiliknya. Dari penghasilan nan tidak menentu, dia tetap berupaya bertahan. “Kadang dapat Rp 50 ribu, kadang Rp 70 ribu. Kalau musim hujan, sampai sore hanya dapat Rp 30 ribu,” ujarnya.
Dengan tarif Rp 2 ribu per anak untuk sekali naik selama satu lagu, Entus kudu berkeliling mencari keramaian. Ia tidak menetap di satu tempat. Hari ini di Jalan Samoja, besok bisa saja di Binong Jati alias wilayah lain seperti Cicadas hingga Pasar Rametuk. Baginya, beranjak tempat adalah langkah untuk menjaga penghasilan tetap mengalir.
“Kalau mangkal mah suka lenyap sama makan dan ngopi,” katanya sembari tersenyum.
Meski bekerja tanpa kepastian pendapatan, Entus tetap bersyukur. Ia percaya rezeki tidak bakal tertukar. Namun di kembali sikap pasrahnya, tersimpan perjuangan nan tidak ringan.
Penghasilan hariannya apalagi kerap tidak mencapai Rp 100 ribu. Uang tersebut kudu mencukupi kebutuhan dapur sekaligus jajan anak-anaknya. Untuk biaya pendidikan, dia mengaku tidak sanggup menanggung sendiri.
“Kalau biaya sekolah mah enggak nutup, untungnya ada support dari pemerintah,” ujarnya.
Entus mempunyai tiga anak perempuan. Anak pertama telah lulus SMK namun pekerjaannya belum tetap. Anak kedua bakal segera lulus, sementara anak bungsunya tetap duduk di bangku SMP dan mendapat support pendidikan melalui program PKH.
Setiap hari, perjuangan Entus dimulai sejak pagi. Ia melangkah kaki selama sekitar satu separuh jam dari rumahnya di area Bonjayanti, Kiaracondong, menuju tempat penyimpanan odong odong di Jalan Atlas.
Setelah itu, dia mulai mengayuh alias mendorong kendaraan tersebut berkeliling. Perjalanan panjang dan tenaga nan terkuras menjadi bagian dari rutinitasnya. Namun dia tak banyak mengeluh.
“Capek mah capek, tapi ya namanya juga usaha,” ucapnya singkat.
Di kembali bunyi musik odong odong nan ceria dan tawa anak-anak, ada cerita tentang ketekunan dan ketabahan. Semangatnya menjadi pengingat bahwa angan bisa terus dikayuh, sejauh apa pun jalan nan kudu ditempuh.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·