Mengapa Taksi Listrik Mogok-Ban Ngunci Saat Lewati Rel Kereta?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Kondisi taksi listrik nan rusak usai mengalami kecelakaan dengan KRL Commuter Line di Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur pada Senin (27/4) menyebabkan 15 penumpang wanita meninggal dunia.

Kecelakaan itu juga disebabkan adanya taksi listrik nan mogok di perlintasan rel kereta. Lalu, gimana kendaraan listrik bisa berakhir hingga tak bisa bergerak saat berada di lintasan rel?

Pengamat otomotif sekaligus pembimbing Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa kondisi mobil listrik (electric vehicle/EV) nan tiba-tiba mogok sebenarnya bukan perihal nan umum terjadi.

“Saya gambarkan memang agak susah buat sebuah EV itu meninggal tiba-tiba,” ujar Jusri dalam siaran langsung di TikTok kumparan, Rabu (29/4).

Menurut Jusri, sistem pada mobil listrik ditopang oleh dua jenis baterai, ialah baterai utama untuk menggerakkan kendaraan dan baterai mini 12 volt nan berfaedah untuk sistem indikator.

“Walaupun baterai nan membikin kendaraan ini bergerak, energinya tetap ada, tetapi baterai nan 12 volt itu, nan untuk indikator, gauge, petunjuk dan lain-lain ini bisa habis. Dan saat habis, maka dia kudu di-jump, kudu di-jumper,” tuturnya.

Ia menyebut, ketika baterai mini tersebut habis, mobil bisa masuk ke save mode yang membuatnya tidak dapat bergerak.

“Save mode nan membikin mobil tidak bergerak, terkunci begitu ya. Tapi ini perlu investigasi lebih dalam kasus ini, tapi bisa saja itu,” katanya.

Selain aspek baterai, Jusri juga menyoroti karakter teknis kendaraan listrik nan dapat berpengaruh saat melintasi rel kereta nan tidak rata.

Menurutnya, permukaan rel nan bergelombang bisa mengganggu momentum kendaraan, terutama saat melaju pelan.

“Traction control bakal memerintahkan freewheel, sehingga momentum nan terjadi nan sangat mini lantaran pergerakan pelan tadi membikin mobil seakan-akan berhenti,” jelasnya.

Dalam situasi tersebut, kendaraan tidak selalu betul-betul mati, melainkan kehilangan daya mobilitas akibat sistem keselamatan nan bekerja.

Jusri menambahkan, kondisi darurat seperti munculnya kereta api secara tiba-tiba dapat memicu kepanikan pengemudi, nan justru memperburuk keadaan.

“Kalau panik itu dia nggak bisa me-recall segala referensi nan ada di kepalanya. Dia bakal tegang apalagi melakukan sesuatu nan di luar logikanya dia,” kata Jusri.

“Bisa nih, ketika dia panik otomatis ada keahlian kognitif si pengemudi itu bakal hilang, dia panik,” sambungnya.

Ia menjelaskan, dalam kondisi panik, pengemudi bisa kehilangan keahlian mengambil keputusan secara rasional, sehingga kandas menyelamatkan diri maupun kendaraan.

Masalah lain nan kerap muncul adalah kendaraan listrik nan tidak bisa langsung dipindahkan saat darurat, terutama jika sistemnya terkunci.

“Mobil itu tidak bisa digerakkan lantaran sistem parkir listriknya bakal mengaktifkan roda-roda terkunci,” ungkapnya.

Menurut Jusri, dalam kondisi normal mobil listrik memang bisa digeser alias didorong, namun perihal tersebut berjuntai pada kondisi sistem dan baterai.

“Mobil EV ini bisa didorong tapi tidak direkomendasi, tapi tidak didorong untuk jarak nan jauh lantaran itu bakal merusak alias menimbulkan induksi pada inverternya mereka,” tutur Jusri.

“kalau baterai nan mini tadi mati, mati, nah ini bakal susah nih untuk menggerakkan mobilnya. Mobil itu tidak bisa digerakkan lantaran sistem parkir listriknya bakal mengaktifkan roda-roda terkunci,” tambahnya.

Ia menyebut, untuk mengatasi kondisi tersebut biasanya diperlukan perangkat tambahan seperti jumper untuk mengaktifkan kembali sistem kendaraan.

“Ada namanya jumper pack, jumper pack nan men-jumper baterai tersebut gitu. Bukan baterai utama ya, baterai mini nan 12 volt tadi,” tuturnya.

Dalam kesempatan nan sama, Jusri juga membantah dugaan medan magnet di rel kereta api bisa menyebabkan kendaraan mati.

“Kalau dikatakan medan magnetik nan ada di lintasan kereta api itu bisa mematikan mobil, itu hoaks. Itu nggak bener,” tuturnya.

Ia menegaskan, gangguan pada kendaraan lebih disebabkan oleh aspek teknis kendaraan dan kondisi pengoperasian, bukan lantaran pengaruh elektromagnetik dari rel.

Soroti Human Error

Di sisi lain, Jusri menilai pemahaman pengemudi terhadap kendaraan listrik di Indonesia tetap perlu ditingkatkan.

“Masyarakat kita itu ketika menerima peralatan baru itu malas membaca secara keseluruhan tentang pengoperasian peralatan tersebut,” katanya.

Ia menilai, banyak pengguna nan menganggap mobil listrik sama dengan kendaraan konvensional, padahal terdapat perbedaan signifikan dalam karakter dan sistemnya.

Menurutnya, pengemudi termasuk pengemudi taksi listrik semestinya memahami langkah kerja kendaraan serta prosedur darurat untuk mengantisipasi kejadian tak terduga di jalan.

Lebih jauh, Jusri menegaskan bahwa kecelakaan nan melibatkan kendaraan listrik tidak semata-mata disebabkan oleh teknologi kendaraan.

“Jangan kita menyalahkan mobil alias jenis EV tapi ini lebih banyak ke human error-nya,” kata Jusri.

“Kontribusi dari kecelakaan ini lebih banyak ke human error-nya,” lanjut dia.

Ia menilai, beragam aspek seperti kelelahan, tekanan mental, hingga kurangnya kewaspadaan dapat berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan.

Meski demikian, Jusri menekankan bahwa penyebab pasti kecelakaan tetap kudu ditelusuri melalui investigasi menyeluruh.

Ia menyebut, kajian tidak cukup hanya memandang kondisi saat kejadian, melainkan juga kudu menelusuri faktor-faktor nan melatarbelakanginya.

“Kita kudu mundur ke belakang untuk menelaah kenapa kecelakaan ini terjadi lantaran banyak sekali aspek nan memberikan kontribusi terjadinya accident kemarin,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan