Mengapa Orang Tetap Bicara kepada Bayi yang Belum Bisa Menjawab?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi ibu mengajari bayi bicara Foto: Shutterstock

Melihat orang dewasa berbincang dengan bayi sering kali menjadi pemandangan nan menggelikan. Nada bicaranya mendadak naik beberapa oktav, temponya lambat, dan kalimatnya berulang-ulang—seperti "Capa cucu papah nan paling lucuuu? Cemong yaaa?".

Padahal, secara logika komunikasi, bayi tersebut belum mempunyai keahlian linguistik untuk membalas ucapan itu. Mereka hanya bisa merespons dengan tatapan kosong, senyuman acak, alias malah gumaman tidak jelas.

Lantas, kenapa kita secara alami tetap melakukan hubungan dua arah nan tampak "sia-sia" ini? Dalam pengetahuan komunikasi, kejadian ini bukan sekadar luapan gemas, melainkan sebuah kebutuhan krusial dalam membentuk manusia.

Infant-Directed Speech: Kode Komunikasi Universal Manusia

Dalam studi komunikasi interpersonal dan psikolinguistik, style bicara meliuk-liuk nan kita gunakan saat mengobrol dengan bayi disebut Infant-Directed Speech (IDS), alias sering juga dikenal sebagai parentese.

Menariknya, IDS adalah kode komunikasi nan berkarakter universal. Mau Anda berbincang dalam bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, hingga bahasa wilayah sekalipun, orang dewasa secara naluriah bakal meningkatkan nada bunyi mereka ketika berhadapan dengan bayi.

Secara ilmiah, nada tinggi dan ritme nan berirama ini berfaedah sebagai penangkap perhatian (attention getter). Pendengaran bayi belum mendetail seperti orang dewasa; mereka lebih sensitif terhadap gelombang bunyi nan tinggi. Jadi, ketika Anda mengubah nada bicara menjadi melengking, Anda sebenarnya sedang menyalakan tombol "on" pada radar perhatian si bayi agar mereka konsentrasi mendengarkan.

Membangun Fondasi Hubungan Lewat Komunikasi Nonverbal

Komunikasi tidak pernah terbatas pada kata-kata nan keluar dari mulut. Bagi seorang bayi nan dunianya tetap sangat baru, komunikasi nonverbal adalah segalanya.

Saat kita membujuk bayi mengobrol, kita tidak hanya menyodorkan kata-kata, tetapi juga menyodorkan ekspresi wajah nan hiperbolis (mata melotot gemas, senyum lebar) dan kontak mata nan intens. Di sinilah kegunaan kedekatan (immediacy) dalam pengetahuan komunikasi bekerja.

Interaksi ini membangun ikatan emosional (bonding). Melalui nada bunyi nan lembut dan penuh kasih, bayi belajar membaca emosi dan merasa aman. Mereka tahu bahwa mereka sedang diperhatikan, dicintai, dan dilindungi, meskipun mereka belum mengerti apa makna kata "sayang" alias "lucu" itu sendiri.

Investasi Tabungan Kosakata dan Kemampuan Berpikir

Jangan dikira bayi nan tak bersuara saja itu tidak melakukan apa-apa. Otak bayi seperti spons nan merekam segala stimulus di sekitarnya.

Ketika kita berbincang kepada bayi secara terus-menerus, kita sedang melakukan proses input info ke dalam memori mereka. Gaya bicara nan lambat dan penekanan pada tiap kata membantu bayi memetakan bunyi-bunyi bahasa. Mereka belajar di mana sebuah kata dimulai dan di mana kata itu berakhir.

Studi komunikasi menunjukkan bahwa bayi nan sering diajak mengobrol oleh orang tuanya mempunyai perkembangan bahasa dan jumlah kosakata nan jauh lebih kaya saat mereka mulai belajar bicara nanti. Sebaliknya, bayi nan jarang distimulus lewat obrolan condong mengalami keterlambatan dalam keahlian linguistiknya.

Melatih Mental Komunikan Sejak Dini

Mengapa kita tetap memberikan jarak setelah bertanya kepada bayi, seolah-olah menunggu mereka menjawab? Contohnya: "Tadi bobonya nyenyak enggak? (diam sejenak memandang reaksi bayi) Oh, nyenyak ya..."

Secara tidak sadar, kita sedang mengajari mereka struktur paling mendasar dalam pengetahuan komunikasi: turn-taking alias pergantian giliran berbicara.

Komunikasi adalah proses dua arah. Dengan memberikan jeda, kita melatih bayi bahwa setelah ada nan berbicara, ada waktunya untuk mendengarkan alias merespons (lewat tatapan alias celotehan kecil). Ini adalah latihan mental dasar agar kelak mereka bisa menjadi komunikan (penerima pesan) dan komunikator (pemberi pesan) nan baik di masyarakat.

Jadi, jika Anda memandang alias Anda sendiri sering mengobrol gempar dengan bayi nan apalagi belum bisa merangkak, jangan merasa konyol. Anda sedang menjalankan salah satu kegunaan komunikasi paling murni, ialah membentuk peradaban dan keahlian berpikir manusia sejak hari pertama mereka memandang dunia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan