Mengapa Main Hakim Sendiri Terus Terjadi? Psikolog Ungkap Penyebab dan Solusinya

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Ilustrasi kerusuhan Foto: Muhammad Faisal/kumparan

Seorang laki-laki berinisial IKD nan diduga mencuri ayam di Kabupaten Tabanan, Bali, tewas dihajar massa pada Jumat (24/7). Sementara di Kabupaten Morowali, Sulteng, Setiawan (33 tahun) tewas setelah diamuk lantaran dituduh mencuri sepeda motor pada Sabtu (25/7) malam.

Fenomena seperti ini dikenal sebagai kekerasan kolektif (collective violence). Dalam laporan Collective Violence Early Warning (CVEW), Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengelompokkan beragam corak kekerasan nan dilakukan secara berkelompok, mulai dari main pengadil sendiri (vigilantisme), bentrok antarkelompok, bentrok komunal, hingga kekerasan nan dipicu persoalan politik maupun tata kelola.

Indonesia memang tidak mengalami kekejaman massal berskala besar. Namun, laporan CSIS menunjukkan tren kekerasan kolektif justru meningkat dalam lima tahun terakhir.

Dalam laporan CVEW 2026, CSIS mencatat terjadi 1.851 kejadian kekerasan kolektif sepanjang Januari–Desember 2025. Artinya, rata-rata terjadi sekitar 154 kejadian per bulan, lima kejadian per hari, alias satu kejadian setiap 3,5 jam.

embed from external kumparan

Jumlah tersebut meningkat 18,5 persen dibandingkan tahun 2024 nan mencatat 1.562 insiden. Secara keseluruhan, kekerasan kolektif sepanjang 2025 menyebabkan 405 orang meninggal bumi dan 2.115 orang mengalami luka-luka.

Dari beragam motif nan dicatat CSIS, vigilantisme alias main pengadil sendiri menjadi penyebab paling dominan. Sepanjang 2025 terdapat 709 kejadian nan dipicu vigilantisme. Setelah itu disusul persoalan penegakan norma (180 insiden) dan tata kelola (177 insiden).

Menurut Psikolog Forensik Reza Indragiri, tingginya kasus main pengadil sendiri tidak lepas dari rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap abdi negara penegak hukum.

"Vigilante adalah perilaku logis untuk mengompensasi kelemahan otoritas penegakan norma sekaligus pilihan nan diambil untuk mengekspresikan amarah," ungkap Reza saat berbincang dengan kumparan pada Kamis (30/7).

Pakar ilmu jiwa forensik Reza Indragiri Amriel. Foto: Subhan Zainuri/kumparan

Di kembali kemarahan tersebut, kata Reza, sering kali tersembunyi rasa takut menjadi korban kejahatan.

"Ketidakpercayaan pada otoritas penegakan hukum. Terpantik oleh amarah. Di kembali kemarahan boleh jadi ada ketakutan.Ketakutan menjadi korban tindakan kejahatan," ungkapnya.

Namun, rendahnya kepercayaan terhadap abdi negara belum sepenuhnya menjelaskan kenapa seseorang bersedia memukul, menendang, apalagi menghilangkan nyawa orang lain ketika berada di tengah kerumunan. Untuk memahami perihal tersebut, perlu memandang gimana ilmu jiwa bekerja saat seseorang menjadi bagian dari massa.

Mengapa Orang Bisa Ikut Mengeroyok Saat Berada dalam Kerumunan?

Fenomena ketika kerumunan tega mengeroyok seseorang hingga menyebabkan korban jiwa memunculkan pertanyaan mendasar. Yakni, kenapa orang dapat bertindak begitu sadis saat berada di dalam kerumunan?

Menurut Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dicky Pelupessy, salah satu sistem psikologis nan berkedudukan adalah deindividuasi.

Dalam kondisi ini, kata dia, kesadaran seseorang terhadap dirinya sebagai perseorangan melemah ketika menjadi bagian dari kelompok. Akibatnya, kontrol diri ikut menurun sehingga seseorang lebih mudah bertindak impulsif.

Ketua Laboratorium Intervensi Sosial dan Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Dicky Pelupessy. Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

"Deindividuasi adalah ketika self-awareness kita ya, tentang siapa saya, dan juga kesadaran tentang individual identity itu kemudian menjadi melemah," ungkap Dicky saat diwawancarai kumparan pada Kamis (30/7).

"Tindakan ini berkarakter impulsif, artinya mengikuti dorongan tanpa berpikir panjang. Saat sendiri alias berbareng orang nan dikenal, dorongan lebih mudah kita sadari dan tahan. Dalam situasi deindividuasi, dorongan itu langsung diikuti begitu saja lantaran kontrol diri melemah." tambahnya.

Menurutnya, deindivuasi turut menyebabkan seseorang lebih percaya diri untuk melakukan tindakan anarkis. Terutama lantaran perseorangan tersebut menyadari bahwa aksinya tidak bakal terindetifikasi dengan mudah.

"Melemahnya kesadaran diri membikin orang lebih percaya diri lantaran ada pikiran saya tidak bakal mudah teridentifikasi, perilaku saya bakal dianggap bagian dari kerumunan. Hal ini membikin tindakan seseorang menjadi lebih ekstrem," jelas Dicky.

Guna mengurangi terulangnya kekerasan kolektif, Dicky menyarankan untuk memperkuat pengaruh jera bagi pelaku. Cara nan bisa dilakukan adalah memberi ganjaran dan penghukuman.

Berbagai jenis balasan seperti ditangkap hingga dimasukkan ke penjara efektif memberi rasa jera dan membentuk karakter pelaku hingga masyarakat sekitar.

Efek jera, kata dia, tetap bakal sukses jika penghukuman dilaksanakan cengkir tegas. Tentu dengan norma nan tegas kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah bakal meningkat.

"Penghukuman itu baik misalnya penghukuman secara legal, lewat proses hukum, tindak pidana, ditangkap, terus diadili, sampai mungkin dijebloskan penjara, pasti kan menimbulkan pengaruh jera baik si pelaku ataupun kemudian orang-orang nan melihat," tambah Dicky.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan