Mengapa ke Psikiater Masih Sering Dikaitkan dengan Hilang Akal?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi seseorang sedang berkonsultasi dengan psikiater. Foto: Unsplash

Banyak orang di Indonesia tetap merasa segan alias malu untuk pergi ke psikiater lantaran takut dicap sebagai orang "gila" alias dianggap "hilang akal". Padahal, psikiater adalah master ahli nan menangani beragam gangguan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, hingga skizofrenia. Stigma negatif ini tetap kuat hingga hari ini dan menjadi halangan besar bagi masyarakat nan sebenarnya memerlukan support ahli untuk sembuh.

Akar masalah dari stigma ini berasal dari kurangnya edukasi masyarakat tentang kesehatan mental dan perbedaan antara psikolog dengan psikiater. Banyak orang mengira bahwa semua orang nan berobat ke master jiwa pasti mengalami gangguan psikosis berat seperti fatamorgana alias waham nan membikin mereka tidak sadar dengan lingkungan sekitar. Padahal, spektrum gangguan mental sangat luas dan sebagian besar penderitanya tetap mempunyai kesadaran penuh serta keahlian berpikir nan baik, terutama setelah mendapat pengobatan nan tepat.

Generalisasi berlebihan juga menjadi penyebab utama. Masyarakat sering mengasosiasikan sakit jiwa dengan perilaku ekstrem seperti jalan bugil di jalan, membahayakan orang lain, alias termenung tanpa kendali. Padahal, gangguan mental nan paling banyak dialami masyarakat justru depresi, gangguan kecemasan, stres berat, dan trauma nan tidak terlihat secara bentuk namun sama seriusnya dengan penyakit bentuk lainnya.

Stigma jelek ini berakibat sangat negatif lantaran menghalang pemulihan pasien. Banyak orang menunda berobat selama berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun lantaran malu alias takut dicap gila. Akibatnya, kondisi mental mereka semakin memburuk dan penanganan nan didapatkan menjadi kurang optimal. Kesadaran nan terlambat ini membikin proses pengobatan lebih susah dan lama dibandingkan jika pasien berobat sejak dini.

Psikiater sebenarnya adalah master nan telah menyelesaikan pendidikan kedokteran umum kemudian melanjutkan spesialisasi di bagian kesehatan mental dan gangguan jiwa. Mereka memahami anatomi otak, proses psikologis, dan bisa memberikan pemeriksaan nan tepat untuk gangguan kompleks seperti bipolar alias skizofrenia. Selain memberikan terapi bicara, psikiater juga bisa memberikan obat-obatan alias farmakoterapi nan sangat dibutuhkan oleh pasien dengan gangguan mental tertentu.

Orang kudu ke psikiater ketika mengalami emosi sedih berlebihan nan tidak kunjung hilang, emosi nan naik turun tanpa argumen jelas, mendengar bunyi nan tidak nyata, menarik diri dari lingkungan sosial, alias mengalami perubahan pola tidur dan makan nan drastis. Semua indikasi ini adalah tanda bahwa pikiran dan otak memerlukan support profesional, sama seperti ketika tubuh mengalami sakit nan perlu ditangani master umum alias master ahli lainnya.

Kementerian Kesehatan RI dan beragam lembaga kesehatan di Indonesia sedang gencar mengampanyekan bahwa kesehatan mental itu nyata dan sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Orang Dengan Gangguan Jiwa alias ODGJ menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan adalah orang nan mengalami gangguan kegunaan mental, namun banyak di antaranya tetap bisa menimbang baik alias buruknya tindakan setelah mendapat pengobatan nan tepat.

Berobat ke psikiater semestinya dipandang sebagai tanda kepedulian terhadap diri sendiri dan keberanian untuk sembuh, bukan sebagai kelemahan alias aib. Banyak orang nan sudah berobat ke psikiater dan sukses pulih membuktikan bahwa stigma "hilang akal" itu tidak benar. Mereka bisa kembali bekerja, bersekolah, berinteraksi sosial, dan menjalani hidup normal seperti sebelumnya.

Menghilangkan stigma negatif ini memerlukan edukasi masif kepada masyarakat luas dan lebih banyak pengalaman positif dari mereka nan sudah berobat dan sembuh. Media massa, lembaga pendidikan, pemimpin agama, dan tokoh masyarakat punya peran krusial dalam menyebarkan info nan betul tentang kesehatan mental. Ketika semakin banyak orang nan terbuka tentang pengalaman mereka berobat ke psikiater, maka stigma bakal perlahan-lahan berkurang.

Pada akhirnya, pergi ke psikiater bukan berfaedah kita lenyap akal, tetapi justru menunjukkan bahwa kita sadar diri dan mau hidup lebih baik. Kesehatan mental adalah bagian integral dari kesehatan keseluruhan nan tidak boleh diabaikan. Dengan memahami kebenaran sebenarnya tentang psikiater dan gangguan mental, masyarakat Indonesia bisa lebih mudah menerima support ahli dan pada akhirnya hidup lebih sehat secara mental maupun fisik.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan