Mengapa Game Love and Deepspace Jadi Tempat Pulang Mahasiswa Keperawatan?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Sumber: pengarsipan pribadi

Tugas nan menumpuk, laporan praktikum nan belum selesai, waktu deadline nan semakin sempit, serta tuntutan untuk tetap konsentrasi memahami materi merupakan makanan sehari-hari bagi mahasiswa keperawatan. Di sela-sela itu, tubuh mulai terasa lelah, tetapi sering kali diabaikan. Sebagai mahasiswa keperawatan, ada tuntutan tidak tertulis untuk tetap kuat, tetap mampu, dan tetap terlihat baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.

Di tengah kelelahan itu, tidak jarang seseorang mencari “tempat pulang” ialah ruang mini nan memberikan rasa nyaman, meskipun hanya sementara. Bagi sebagian mahasiswa, ruang itu bisa berupa perihal sederhana, seperti membuka permainan di ponsel. Salah satunya adalah game Love and Deepspace, sebuah game interaktif nan menghadirkan pengalaman emosional melalui karakter nan responsif dan penuh perhatian. Tanpa disadari, hubungan sederhana dalam game tersebut bisa memberikan rasa didengar dan dipahami.

Game Sebagai Tempat Pelarian Mahasiswa Keperawatan Ketika Burnout

Fenomena ini terjadi bukan tanpa alasan. Menurut World Health Organization (2020), burnout merupakan sindrom akibat stres kronis nan tidak terkelola dengan baik. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022) menjelaskan di Indonesia sendiri, masalah kesehatan mental juga tetap menjadi perhatian, dengan meningkatnya kasus gangguan mental emosional di masyarakat. Mahasiswa keperawatan termasuk golongan nan rentan mengalami kondisi ini lantaran beban akademik nan tinggi, tuntutan praktik klinik, serta tekanan emosional saat berhadapan dengan kondisi pasien. Penelitian nan dilakukan Rahayu & Widodo (2022) juga menunjukkan bahwa stres akademik pada mahasiswa keperawatan dapat memengaruhi kondisi bentuk maupun psikologis secara signifikan.

Dalam situasi tersebut, manusia secara alami bakal mencari sistem koping. American Psychological Association (2023) menjelaskan bahwa perseorangan condong mencari langkah untuk mengurangi stres, baik melalui aktivitas relaksasi maupun distraksi. Dalam konteks ini, permainan digital dapat berkedudukan sebagai salah satu corak coping nan membantu mengalihkan pikiran dari tekanan nan dirasakan. Bahkan, studi oleh Granic et al (2020) menunjukkan bahwa video game dapat memberikan faedah dalam izin emosi dan mengurangi tingkat stres.

Mengapa Hal Ini Dapat Terjadi?

Ada perihal nan menarik untuk direnungkan dalam kejadian ini. Mengapa hubungan dalam sebuah game bisa terasa begitu menenangkan? Mungkin jawabannya terletak pada kebutuhan emosional nan sering kali tidak terpenuhi di bumi nyata. Mahasiswa keperawatan terbiasa belajar untuk memberikan empati, perhatian, dan perawatan kepada orang lain. Akan tetapi, dalam proses tersebut, mereka terkadang lupa bahwa diri mereka sendiri juga memerlukan perihal nan sama.

Di sinilah letak ironi nan tidak selalu disadari. Di kembali seragam putih mahasiswa keperawatan nan identik dengan ketenangan dan ketangguhan, terdapat perseorangan nan juga bisa lelah, cemas, dan memerlukan dukungan. Ketika kebutuhan emosional tersebut tidak terpenuhi, maka hal-hal sederhana seperti game bisa menjadi pengganti untuk mendapatkan rasa nyaman, meskipun hanya berkarakter sementara.

Sumber: pengarsipan pribadi

Dampak Bermain Game Sebagai Mekanisme Koping

Meski demikian, krusial untuk memahami bahwa penggunaan game sebagai coping mechanism memiliki dua sisi. Di satu sisi, game dapat membantu mengurangi stres dan memberikan jarak dari tekanan nan ada. Namun di sisi lain, jika digunakan secara berlebihan, perihal ini dapat menjadi corak pelarian nan justru menghindarkan perseorangan dari penyelesaian masalah nan sebenarnya. Oleh lantaran itu, keseimbangan dalam perihal ini menjadi kunci utama.

Sebagai mahasiswa keperawatan, krusial untuk mulai menyadari bahwa merawat diri sendiri bukanlah corak kelemahan, melainkan bagian dari tanggung jawab profesional. Bagaimana seseorang dapat memberikan perawatan nan optimal kepada pasien, jika dirinya sendiri berada dalam kondisi kelelahan nan tidak tertangani?

Pada akhirnya, nan dibutuhkan bukan hanya sekadar pelarian, tetapi ruang nan kondusif untuk merasa didengar dan dipahami. Karena di kembali semua tuntutan dan tekanan, mahasiswa keperawatan tetaplah manusia nan tidak hanya belajar merawat orang lain, tetapi juga perlu belajar untuk merawat dirinya sendiri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan