Mendikdasmen: Hari Aksara Internasional 2026 Jadi Momentum Refleksi Pembangunan Agenda Literasi

Sedang Trending 2 jam yang lalu
 Hari Aksara Internasional 2026 Jadi Momentum Refleksi Pembangunan Agenda Literasi Mendikdasmen Abdul Mu’ti(Dok Istimewa)

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa peringatan Hari Aksara Internasional 2026 diperingati sebagai satu rangkaian aktivitas dalam rangka menekankan makna pentingnya literasi bagi semesta dan bagi kehidupan nan lebih sejahtera. 

“2026 menandai 60 tahun peringatan Hari Aksara Internasional sejak pertama kali dirayakan pada 1966. Enam dasawarsa perjalanan ini mengingatkan kita bahwa literasi tetap menjadi fondasi krusial bagi martabat manusia, pendidikan sepanjang hayat, dan kemajuan bangsa,” ungkapnya dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 di YouTube Kemendikdasmen, Selasa (8/9). 

Lebih lanjut, info UNESCO menunjukkan bahwa saat ini tetap terdapat 739 juta pemuda dan orang dewasa nan belum mempunyai keahlian literasi dasar, apalagi 4 dari 10 siswa di bumi belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca pada akhir jenjang pendidikan dasar. 

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa nomor ini bukan sekadar statistik belaka. Ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa tetap banyak masyarakat nan belum mendapatkan akses terhadap kewenangan dasar mereka ialah kewenangan untuk dapat memahami dan berkembang.

“Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 membujuk kita untuk memandang kembali capaian literasi selama 60 tahun. Mendalami makna literasi di era digital dan kepintaran artifisial, serta membangun agenda literasi. Ini adalah momentum refleksi dan tindakan nyata bagi kita semua,” tegas Abdul Mu’ti. 

Menurutnya, literasi hari ini mempunyai makna nan semakin luas. Literasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai keahlian membaca dan menulis. Di tengah perubahan sosial, krisis lingkungan, perkembangan teknologi digital dan kepintaran artifisial, masyarakat kudu bisa untuk memahami info secara kritis, berpikir reflektif terhadap konten nan dikonsumsi, terus belajar sepanjang hayat, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan. 

“Literasi hari ini adalah tentang keahlian membaca dunia. Memahami realitas sosial, lingkungan dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk menjadikan bumi lebih baik lagi,” jelasnya. 

Tahun ini UNESCO mengangkat tema literacy for people, the planet, and prosperity. Abdul Mu’ti menekankan bahwa tema ini membawa pesan nan mendalam. Sesama berfaedah tidak ada seorang pun nan tertinggal dari kesempatan belajar melalui inklusi, literasi krisis dan perbincangan antargenerasi. Semesta berfaedah kita semua berupaya agar pengetahuan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui literasi iklim, konservasi dan tindakan keberlanjutan nan nyata. Sejahtera berfaedah agar kita semua setiap orang berupaya untuk mempunyai kecakapan hidup, literasi finansial, kewirausahaan, dan keahlian digital untuk mereka bisa bekerja, berkarya dan hidup lebih baik lagi. 

Tema ini menjadi rumah aktivitas nan ringkas, mudah diingat dan kontekstual bagi satuan pendidikan, organisasi dan seluruh masyarakat Indonesia. 

“Upaya membangun masyarakat literates tidak dapat dibangun oleh pemerintah sendiri. Semangat partisipasi semesta perlu diwujudkan dengan melibatkan seluruh komponen bangsa, satuan pendidikan, keluarga, pemerintah daerah, PKBM, SKB, taman referensi masyarakat, forum alias asosiasi PNFI, organisasi literasi, organisasi masyarakat, bumi usaha, perguruan tinggi, media, keluarga, dan seluruh pegiat pendidikan. Saya menyampaikan apresiasi bagi PKBM, SKB, taman referensi masyarakat, forum alias asosiasi PNFI, dan organisasi literasi di seluruh Indonesia. Kalian adalah garda terdepan nan menghidupkan literasi di tengah masyarakat di pelosok desa, di ruang belajar sederhana, dan di tengah segala keterbatasan nan ada,” kata Abdul Mu’ti. 

Peringatan Hari Aksara Internasional ini sekaligus menjadi momentum untuk menghidupkan bulan literasi melalui aktivitas nyata di beragam wilayah dan komunitas. Kegiatan dapat sederhana tetapi kudu dirancang sedemikian rupa sehingga dekat dengan persoalan masyarakat. Menghadirkan pengalaman nan bermakna, melibatkan penduduk belajar, family dan komunitas. 

Di tempat nan sama, Chief of Education UNESCO Region Office for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, the Philippines and Timor-Leste, and Liaison to ASEAN, Santos Khatri, mengatakan bahwa peringatan Hari Aksara Internasional dapat menjadi pengingat bahwa literasi adalah kewenangan asasi manusia nan mendasar dan fondasi krusial untuk belajar dan mendapatkan hak-hak lainnya. 

“Selama 60 tahun terakhir, bumi telah membikin kemajuan nan signifikan. Hari ini 88% orang dewasa di seluruh bumi telah mengalami peningkatan literasi dibandingkan dengan sekitar 65% pada tahun 1975. Namun demikian, pada 2024 tetap terdapat 739 juta remaja nan belum mempunyai keahlian literasi,” ujar Santos. 

Di Indonesia sendiri, Santos mengapresiasi capaian nomor melek aksara nan dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) nan mencapai 97% masyarakat usia 15 tahun ke atas. Hal ini dikatakan menjadi kemajuan nan luar biasa. 

“Namun perlu diingat bahwa tingkat melek aksara saja tidak memberikan gambaran nan lengkap. Kita juga kudu mempertimbangkan apakah orang mempunyai keahlian untuk memahami info dan kritis. Maka dari itu pembelajaran sepanjang kehidupan menjadi perihal nan krusial untuk terus dilakukan,” lanjutnya. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa aktivitas ini bukan hanya untuk mengenang perjalanan panjang pengentasan buta aksara, tetapi juga untuk memandang gimana makna literasi terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman. 

“Bayangkan seorang ibu di sebuah pelosok negeri bertahun-tahun mungkin merasa bumi terlalu rumit untuknya membaca surat tetap terbata bata dan memahami info dengan tidak mudah. Bahkan mengisi blangko kadang kudu meminta support orang lain. Lalu suatu hari dia mulai bisa membaca. Mungkin bagi kita itu hanya sebuah kata nan berhasil. Tapi bagi beliau itu adalah pintu nan terbuka,” kata Tatang. 

“Dia mulai bisa membaca pesan dari anaknya, membaca petunjuk obat, membaca info nilai hasil kebun, berani mengurus sesuatu sendiri, dan perlahan rasa percaya dirinya tumbuh. Di situ lah kita memahami bahwa literasi bukan sekadar keahlian membaca huruf, literasi adalah keahlian membaca kehidupan,” sambungnya. 

60 tahun Hari Aksara Internasional melangkah telah mengajarkan kepada seluruh pihak bahwa ketika bumi berubah, makna literasi pun kudu terus berkembang. 

“Dulu kita berjuang agar setiap orang bisa membaca dan menulis. Hari ini tantangannya lebih luas lagi. Kita kudu bisa membaca informasi, memilah mana nan betul dan mana nan menyesatkan, berpikir kritis menggunakan teknologi dan kepintaran buatan secara bijak, mengambil keputusan, serta terus belajar sepanjang hayat. Karena itu, Hari Aksara Internasional 2026 bukan sekadar mengenang keberhasilan masa lalu, kita sedang memastikan agar literasi tetap menjadi bekal manusia menghadapi masa depan,” tandasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia