Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah membuka kesempatan mengubah skema support pangan agar tidak hanya berisi beras alias Minyakita. Ke depan, support pangan dapat disesuaikan dengan kondisi produksi dan nilai komoditas pangan di dalam negeri, termasuk telur, ikan, hingga daging ayam.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, langkah tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah menyerap kelebihan produksi komoditas pangan sekaligus menjaga nilai di tingkat peternak dan produsen.
Ia menuturkan, untuk kondisi komoditas telur nan saat ini mengalami surplus produksi sehingga nilai di sejumlah wilayah mengalami penurunan, sekarang telah didorong untuk masuk menjadi menu makan bergizi cuma-cuma (MBG).
"Kemarin ada beberapa wilayah ya, terutama di Jawa Timur, di Blitar itu nilai telur itu kan turun. Sehingga kita sudah berkoordinasi dengan BGN (Badan Gizi Nasional) dan dengan Kepala BGN nan baru, bahwa SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) ya di wilayah tersebut diwajibkan untuk menyerap telur. Sehingga nilai bisa mendekati alias sesuai HET (harga satuan tertinggi)," kata Budi dalam konvensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Dengan penyerapan tersebut, pemerintah berambisi nilai telur kembali membaik sehingga peternak tetap mendapatkan untung nan layak.
"Sehingga para peternak bakal (mendapat) nilai nan bagus," ujarnya.
Tak hanya melalui program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pemerintah juga tengah menyiapkan penyesuaian dalam skema support pangan nasional. Budi menegaskan support pangan nantinya bisa diisi komoditas nan sedang mengalami kelebihan pasokan di pasar.
"Yang kedua, support pangan kelak bakal menyesuaikan juga. Jadi misalnya ketika nilai telur itu sedang turun, maka support pangan tidak mesti Minyakita alias beras, tapi bisa juga telur. Jadi ini dalam rangka menyerap produk-produk makanan kita alias produk bahan pokok kita, nan memang produksinya sekarang nambah," jelas dia.
Ia mengungkapkan, saat ini produksi telur nasional tengah mengalami surplus sekitar 12%. Kondisi tersebut dinilai positif bagi sektor peternakan, asalkan diikuti dengan penyerapan nan memadai.
"Jadi produksi telur itu sekarang surplus 12%. Sehingga ini bagus buat peternak. Dan penyerapannya sebenarnya ada, tinggal kita mengatur manajemennya untuk SPPG dengan baik, sehingga telur bisa terserap dengan baik," kata Budi.
Lebih lanjut, dia menegaskan konsep penyerapan ini tidak hanya bertindak untuk telur. Pemerintah juga mempertimbangkan komoditas pangan lain nan mengalami tekanan nilai akibat pasokan berlebih.
"Tidak hanya telur. Jadi kebutuhan bahan pokok seperti misalnya ikan, misalnya ayam. Daging ayam andaikan nilai turun di bawah HET, maka BGN juga bakal kita minta untuk menyerap di SPPG," ujarnya.
Dengan skema tersebut, pemerintah berambisi program support pangan tidak hanya membantu masyarakat penerima manfaat, tetapi juga menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas nilai dan menyerap hasil produksi petani, peternak, serta nelayan di dalam negeri.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat konvensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat konvensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·