Menaker Usul Program Magang Nasional Tahun Ini Terima 150 Ribu Orang

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Selasa (28/10/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengusulkan peningkatan kuota Program Magang Nasional menjadi 150 ribu peserta pada 2026.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyampaikan, usulan itu telah diajukan kepada Presiden Prabowo dan sekarang tetap menunggu kepastian anggarannya.

"Kita lihat antusiasme nan luar biasa dari peserta kemudian apresiasi dari perusahaan, kami sudah mengusulkan program magang 2026, kami mengusulkan jumlahnya naik menjadi 150.000 orang," ujarnya dalam rapat kerja berbareng Komisi IX DPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (9/4).

Yassierli menyebut, keberlanjutan program ini diharapkan bisa menjawab angan para peserta magang agar program dilanjutkan.

“Surat sudah kami sampaikan kepada Pak Presiden dan kami tetap menunggu kesiapan anggaran dan semoga ini juga dengan support dari apa, dari Kementerian Keuangan, dari Kemenko kelak program ini bisa kita laksanakan,” lanjutnya.

Berdasarkan info nan dipaparkan Yassierli, total peserta nan lolos seleksi Program Magang Nasional 2025 mencapai 102.696 orang.

Batch II menjadi penyumbang terbesar dengan 62.128 peserta, disusul Batch III sebanyak 24.456 peserta dan Batch I sebanyak 14.952 peserta. Sementara itu, Batch IB mencatat jumlah paling mini dengan 1.160 peserta.

instagram embed

Selain program magang dalam negeri, Kemnaker juga mendorong penguatan program magang luar negeri. Pada 2025, RI telah mengirim nyaris 20 ribu peserta ke beragam negara, dengan Jepang menjadi tujuan utama.

"Ada juga magang luar negeri, jadi kami mau melaporkan bahwa tahun lampau 2025, kita mengirim nyaris 20.000 orang ke luar negeri, sebagian besar itu Jepang, melalui jejaring," kata Yassierli.

Di sisi lain, kata Yassierli, Kemnaker terus menjajaki kesempatan penempatan baru di luar negeri. Namun demikian, ekspansi negara tujuan tetap menghadapi kendala, terutama mengenai keahlian bahasa peserta.

"Kita tetap konsentrasi di Jepang, walaupun sudah ada beberapa permintaan dari negara lain, tapi biasanya isunya itu adalah mengenai dengan bahasa, ya misalnya di Jerman, di Turki, di Taiwan, dan seterusnya," tambahnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan