Menaker Buka-bukaan soal Dampak AI ke Lapangan Kerja

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Jakarta -

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyoroti akibat perkembangan kepintaran buatan (AI) terhadap bumi kerja. Ia mengutip laporan Future of Jobs Report dari World Economic Forum (WEF) nan memperkirakan 92 juta pekerjaan bakal lenyap pada 2030.

Di sisi lain, bakal muncul juga sekitar 170 juta jenis pekerjaan baru. Dalam laporan WEF, disebutkan kondisi ini didorong oleh perkembangan teknologi, transisi hijau, serta perubahan ekonomi dan demografi,

Yassierli mengatakan, perubahan kebutuhan tenaga kerja sudah mulai terlihat di beragam negara. Saat berjamu ke India, dia mendapat info bahwa perekrutan talenta digital dan AI meningkat 11% dalam setahun terakhir, sementara perekrutan pekerja kantoran justru turun 9%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Terjadi peningkatan rekrutmen digital dan AI talent sebesar 11%. Sedangkan rekrutmen nan sifatnya general white collar, kerja-kerja instansi turun 9%. Ini di India. Jadi ini memang menjadi sebuah perihal nan luar biasa. Ada sebuah research dari World Economic Forum, future of jobs report, tahun 2030 170 juta pekerjaan baru muncul dan 92 juta pekerjaan hilang," ungkap dia dalam Pameran Job Fair AI Career Boost Today 2026 di Kantor Kemnaker, Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Bahkan ada laporan nan menyebut 50% pekerjaan saat ini bakal berubah dalam 10 tahun ke depan. Hal itu menjadi tantangan bagi Kementerian Ketenagakerjaan nan sekarang menyiapkan tata kelola AI serta memperkuat kerjasama dengan beragam pihak.

"Ada report nan lain, 50% apa nan ada saat ini di bumi kerja, menjadi tidak relevan dalam 10 tahun nan bakal datang. Ini adalah tantangan-tantangan kita, kami sedang menyiapkan tata kelola AI, apa apa nan kira-kira mengenai dengan ketenagakerjaan. Dua, kita membangun kerjasama dengan semua pihak," sebut Yassierli.

Ia lampau mengutip info LinkedIn nan menunjukkan permintaan tenaga kerja dengan keahlian digital dan AI di Asia Tenggara meningkat 2,4 kali lipat pada periode 2021-2023. Ia meyakini angkanya sekarang jauh lebih tinggi.

"Ada info dari LinkedIn, permintaan terhadap para pekerja dengan skill digital dan AI di Asia Tenggara meningkat 2,4 kali lipat. Ini tahun 2021-2023, sekarang 2026. Feeling saya meningkatnya jadi udah 5 kali lipat," ujarnya.

Yassierli menilai keahlian menggunakan AI sekarang menjadi nilai tambah dalam proses rekrutmen. Ia beranggapan keahlian tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh lulusan teknologi info melainkan dapat dipelajari oleh siapa saja.

Meski demikian, Yassierli menekankan penguasaan AI kudu diimbangi dengan keahlian nonteknis. Misalnya, skill komunikasi, kerja sama tim, berpikir kritis, pemecahan masalah, empati, dan keahlian mengambil keputusan.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance